Oleh: Sri Rahayu Purwani Yekti, SPd
Guru SMP 35 Samarinda
ILMU pengetahuan sosial (IPS) secara formal mulai diajarkan di SD. Dalam pendidikan yang masih bersifat tradisional, mata pelajaran seperti ilmu bumi, sejarah, dan geografi diajarkan secara terpisah, akibatnya para siswa tidak memiliki kesatuan makna dan masing-masing pelajaran cenderung ke arah pembahasan teoritis belaka sehingga sulit bagi siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Peran guru sangat berpengaruh untuk menyampaikan sebuah pembelajaran IPS dengan menggunakan pendekatan terpadu karena pendekatan terpadu untuk IPS akan membuat mutu belajar makin bermakna.
Dari hasil studi berupa pengamatan di lapangan terlihat bahwa dalam pembelajaran IPS di SD, masih banyak guru yang belum menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran secara optimal dan kegiatan di kelas masih banyak didominasi oleh guru. Sebagian dari jumlah siswa tidak tertarik terhadap pelajaran IPS yang terlihat dari ekspresi jenuh, bosan, dan bersikap pasif dalam menerima pelajaran. Sikap tidak senang dalam menerima pelajaran IPS disebabkan juga karena penyajian IPS lebih banyak memuat aspek kognitif dan terpusat pada hafalan. Akibatnya, pelajaran IPS lebih memberi kesan sebagai pelajaran hafalan yang membosankan dan kurang membangkitkan motivasi siswa untuk giat belajar yang pada akhirnya akan memengaruhi perolehan hasil belajar para siswa. Bukti kemerosotan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS terlihat dari rendahnya nilai rata-rata nasional dalam mata pelajaran IPS untuk SD.
Selain itu, masalah pendidikan di Indonesia yang juga banyak diperbincangkan adalah pendekatan terpadu yang diyakini membawa keuntungan pada pencapaian efek instruksional dan juga pada efek pengiring (nurturant effect).Ini berarti bahwa guru belum berhasil menjadikan berbagai bidang studi dalam satu kemasan materi yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, objektif, dan logis.
Untuk mengetahui keefektifan pendekatan terpadu dalam pembelajaran IPS tentu saja perlu diujicobakan lebih dahulu, dan melihat perbandingan tentang pencapaian perolehan hasil belajar siswa antara yang belajar menggunakan pendekatan terpadu dan pendekatan konvensional. Untuk menjawab isu tersebut dilakukan penelitian untuk melihat apakah ada perbedaan hasil belajar IPS antara siswa yang diajar dengan pendekatan terpadu dan yang diajar dengan pendekatan konvensional dan manakah yang lebih baik prestasi belajarnya.
Roehler dalam Susetyo (1998) mendefinisikan keterpaduan sebagai suatu strategi yang bermaksud menggabungkan bidang studi secara simultan. Ia menambahkan, bahwa pembelajaran dengan menggabungkan dua atau lebih bidang studi akan lebih efektif dan efisien. Sedangkan menurut Hamalik (1990), bahwa pendekatan terpadu bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau suatu kesatuan yang bermakna dan berstruktur. Keseluruhan bukanlah penjumlahan dari bagian-bagian melainkan suatu totalitas yang memiliki makna tersendiri. Bagian yang ada dalam keseluruhan itu berada dan berfungsi dalam suatu struktur tertentu.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa pembelajaran terpadu merupakan kegiatan pembelajaran yang berlangsung secara nyata, yang mengembangkan proses berpikir pembelajar sehingga terasa kebermaknaannya bagi kehidupan.
Pada pembelajaran IPS, siswa bukan hanya menjadi sasaran yang harus menerima materi yang diajarkan tetapi siswa harus diperlakukan sebagai subjek yang menjalani proses belajar secara aktif. Kemampuan melibatkan siswa secara aktif menuntut kemampuan guru sebagai pemimpin, motivator dan harus memiliki keterampilan dalam memilih dan menentukan pendekatan, metode serta strategi yang tepat bagi proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran mencapai hasil yang maksimal.
Pendekatan dalam proses belajar-mengajar bisa dikatakan efektif apabila dapat menciptakan keikutsertaan siswa dalam proses pembelajaran. Bentuk pembelajaran yang demikian dapat dilaksanakan dengan menekankan pada tindakan nyata bukan pada konsep dan teori. Pembelajar diberi kesempatan untuk berintegrasi dengan kehidupan nyata berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Diharapkan, mereka dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitasnya.
Salah satu cara untuk meningkatkan terjadinya pembelajaran terpadu dengan melalui unit tematik. Unit tematik merupakan serangkaian tema yang digunakan sebagai topik dalam proses pembelajaran. Dengan pengambilan tema pokok yang menarik, yang sering terjadi di masyarakat, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna (Susetyo, 1998).
Dalam pembelajaran terpadu, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah dipahami dan dikembangkan guru bersama anak. Berkaitan dengan pembelajaran IPS di SD ada beberapa aspek yang patut dipertimbangkan dalam mengoptimalkan pembelajaran IPS di SD yang mengarah kepada terwujudnya keterpaduan pembelajaran.
1) Aspek-aspek perkembangan peserta didik, yaitu aspek fisik, intelektual, pribadi, sosial, emosional, dan moral.
2) Kesiapan guru sebagai penerjemah dan perancang kurikulum. Dalam hal ini, guru dituntut jeli dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai kemungkinan arahan pengait konseptual intra ataupun antar-bidang studi, penguasaan material dan metodologi terhadap bidang.
3) Iklim belajar bergeser dari instruksional ke transaksional.
Jika dibandingkan pendekatan konvensional, pendekatan terpadu tampaknya lebih menekankan keterlibatan anak dalam belajar, membuat anak secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan. Pendekatan terpadu dapat dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di tingkat dasar. Terutama dalam rangka mengimbangi gejala pemberian materi pembelajaran yang sering tidak mempertimbangkan perkembangan anak SD dalam proses pembelajaran di sekolah.
Jadi, perbedaan pembelajaran IPS pendekatan terpadu dengan pendekatan konvensional terletak pada peranan guru dalam penyajian materi pembelajaran dan dalam mengelola proses pembelajaran dalam rangka menciptakan suasana belajar yang lebih melibatkan siswa untuk aktif dalam melatih berpikir logis, kritis dan analitis, serta mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa.
Pembelajaran IPS akan berjalan secara efektif apabila digunakan sistem pendekatan terpadu sebagai sistem belajar-mengajar di sekolah. Pada pendekatan terpadu, pengalaman dan kegiatan belajar siswa akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan siswa serta dapat menumbuhkembangkan keterampilan berpikir.
Pembelajaran IPS dengan pendekatan konvensional kenyataannya banyak didominasi oleh guru. Guru berperan sebagai penyampai informasi sebanyak-banyaknya kepada anak. Penyampaiannya banyak dilakukan dengan metode ceramah, sehingga kegiatan anak lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal informasi. Anak tidak banyak terlibat dalam proses belajar-mengajar serta tidak diberi peluang untuk mencari dan menemukan sesuatu, sehingga anak kehilangan sesuatu, yaitu pengalaman pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik dari dunia mereka. (pms/man/rdh/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria