Oleh:
Dr Sri Nur Aminah Ngatimin, SP M.Si
Dosen Departemen HPT, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin
Bagaimana perasaan Pembaca jika makanan kesukaannya dikerumuni semut? Pastilah di dalam hati terasa kesal karena terdapat aroma tertentu yang dikeluarkan oleh semut tertentu saat terpencet tanpa sengaja. Sudah menjadi kenyataan, bahwa semut merupakan salah satu jenis serangga yang menyukai bertinggal di sekitar manusia. Serangga berkaki enam ini, berkembang biak di dalam kelompok yang banyak anggotanya. Sebuah penelitian terkini telah diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences melaporkan bahwa terdapat 20 kuadriliun (sekitar 20 ribu triliun) semut di bumi pada waktu tertentu (DetikEdu, 23/9/2022). Kompleksitas semut dan kontribusinya di alam adalah alasan kuat mengapa serangga ini menjadi salah satu jenis hewan yang menarik untuk diteliti.
Sepak Terjang si Mungil Berkaki Enam
Seperti halnya lebah madu dan rayap, semut adalah serangga sosial yang hidup dalam kelompok. Di dalam sarang terdapat pembagian kasta dengan peranannya masing-masing. Kasta reproduktif adalah seekor ratu semut, tugasnya bertelur sepanjang hidupnya untuk kepentingan eksistensi koloni. Kasta pekerja adalah semut yang bekerja mencari makan, membersihkan sarang dan melayani semua keperluan ratu. Kasta prajurit ditandai dengan adanya gigi tajam mengandung racun untuk menggigit musuh. Pekerjaan mengelola sarang telah terbagi sedemikian rupa untuk anggota kelompok sehingga setiap semut memahami tugasnya masing-masing.
Secara umum, semut berperan sebagai pengurai bahan organik. Dapat dibayangkan tumpukan sampah organik tersebar membusuk jika tidak ada semut yang menguraikannya. Mengapa semut betah membuat sarang di sekitar tempat tinggal manusia? Bertinggal dekat dengan manusia menjadikan koloni semut tercukupi makanannya dan terlindung dari musuhnya. Di dalam efisiensi pencarian makanan, beberapa ekor semut berjalan lebih dulu mencari makanan. Jika seekor semut bertemu makanan, segera dia meninggalkan jejak supaya mudah dideteksi oleh anggota koloni lainnya.
Remah makanan dan butiran gula yang terjatuh ke bawah meja merupakan rezeki untuk semut melanjutkan kehidupannya. Selain bertindak sebagai pengurai atau dekomposer bahan organik, semut juga berperan sebagai serangga predator yang efisien mengendalikan serangga hama di lahan tanaman budi daya. Jenis semut predator yang umum dijumpai memakan ulat penggerek batang padi di sawah adalah semut api Solenopsis geminata. Semut api hidup dalam kelompok yang membuat sarang di pematang sawah. Gigitannya sangat menyakitkan karena mengandung formic acid yang melumpuhkan mangsanya.
Selain memangsa ulat, semut api juga mengumpulkan biji-bijian dari rerumputan yang dimakannya sebagai sumber karbohidrat. Selain semut api, terdapat weaver ant Oecophylla smaragdina atau semut rangrang yang berbadan besar berwarna merah. Telur semut rangrang atau kroto dijual sebagai pakan ikan dan burung berkicau yang kaya protein. Hasil penelitian Rosmana dkk (2010) menemukan bahwa semut Iridomyrmex cordatus berpotensi sebagai penyebar spora jamur Phytophthora palmivora penyebab penyakit busuk buah kakao. Spora jamur patogen itu menempel di tubuh semut sehingga penyakit mematikan ini menyebar ke tanaman kakao lainnya.
Selain peranan yang telah disebutkan sebelumnya, semut juga terkenal sebagai peramal jitu datangnya banjir. Alam memang selalu menjaga keseimbangannya secara alami. Banjir yang sering menimpa beberapa daerah di Indonesia merupakan gambaran rusaknya hutan dan perangkat lingkungan lainnya. Tata kelola lingkungan yang tidak mempertimbangkan keseimbangan ekosistem plus rantai makanan yang terdapat di dalamnya berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia. Selain banjir, wabah serangan hama belalang dan burung pemakan padi sudah menjadi pertanda penting kerusakan habitat tempat bermukimnya hewan tersebut.
Kecerdasan Buatan Berdasarkan Perilaku Semut
Selain lebah madu yang pandai mendeteksi keberadaan nektar bunga, serangga sosial lainnya yang lihai menemukan jejak adalah semut. Serangga yang lincah berlari ke sana kemari dan tidak mengenal lelah merupakan makhluk pintar yang sangat cepat beradaptasi di lingkungannya. Posisi matahari merupakan kompas penunjuk arah tepercaya saat serangga menentukan perjalanannya setiap saat. Kepandaian semut ini juga diadopsi oleh teknologi kecerdasan buatan di dalam menemukan rute perjalanan yang tepat.
Buku Artificial Intelligence karya Prof Imam Robandi, Ketua Dewan Profesor ITS Surabaya juga menyinggung kepandaian semut yang diterapkan dalam kecerdasan buatan dengan meniru perilaku hewan. ACO (Ant Colony Optimization) adalah teknik komputasi probabilistik untuk memecahkan masalah menemukan jalur terbaik dan mudah ditempuh. Umumnya, iring-iringan semut yang bertemu anggota lainnya sekilas terlihat saling berciuman. Ternyata mereka bertukar informasi menggunakan antenanya.
Semut tidak mampu berbicara secara lisan. Adanya feromon atau senyawa kimia ajaib yang dihasilkan oleh semut mampu bercerita tentang kondisi yang sedang dihadapinya. Feromon alarm dan feromon jejak yang dideteksi oleh antenna semut lainnya memberikan informasi tentang marabahaya yang akan menimpa koloni dan segera dicarikan jalan keluarnya. Inilah penjabaran dari adanya feromon saat langit mendung menjelang hujan deras. Pada saat itu, banyak sekali semut keluar dari sarang dan menggendong telur atau anakannya yang masih berwarna putih.
Telur dan anakan semut berwarna putih umumnya berada di kedalaman tanah tertentu dan tidak terkena sinar matahari. Munculnya semut ke permukaan tanah membawa serta koloninya merupakan pertanda akan turun hujan deras dan banjir yang menggenangi sarang itu. Umumnya, koloni semut mengosongkan sarang sekitar tiga hari sebelum turunnya hujan deras. Ilmu semut berupa emerging behavior ini diterapkan dalam ACO dalam mencari jalur terpendek menuju ke sumber makanan. Aplikasi berbasis IoT ini telah digunakan oleh transportasi online yang terasa sangat efektif sampai hari ini. (***/rdh/k15)
*
WA : 0813-4220-7945
Email : asterbesma@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria