Oleh:
Wigati Ritma Murti, SPd.
Pengajar Kimia di SMA 1 Nunukan, Kalimantan Utara
BIODIESEL atau biosolar merupakan bahan bakar alternatif yang bersifat ramah lingkungan. Tidak mempunyai efek terhadap kesehatan. Dapat dipakai sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dan emisinya lebih sedikit. Biodiesel adalah jenis biofuel, yaitu energi yang terbuat dari materi hidup, biasanya tanaman. Biofuel dianggap energi terbarukan, mengurangi peran dari bahan bakar fosil (gas, minyak tanah, bensin dan solar), sehingga bisa menjadi alternatif bahan bakar yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada tiga jenis biodiesel yaitu bioetanol, biogas, dan biodiesel.
Biodiesel adalah bahan bakar alternatif pengganti diesel atau solar yang berasal dari minyak nabati berbagai jenis biji-bijian. Ada dua kelompok biji-bijian yang digunakan berdasarkan dari macam lemak atau minyaknya, yaitu minyak pangan (editable fatty oil) misal sawit, kelapa, dan kacang. Serta lemak non-pangan (non-editable fatty oil) misal jarak pagar, kemiri, dan masih banyak lagi.
Minyak bekas atau minyak jelantah sebagai bahan baku pembuatan biodiesel merupakan solusi pemanfaatan limbah. Jika ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah ini mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik sehingga tidak aman jika digunakan untuk menggoreng. Pemakaian minyak jelantah yang berulang kali dapat merusak kesehatan tubuh.
Secara struktur kimia, minyak jelantah mempunyai kandungan trigliserida yang sangat tinggi. Trigliserida ini dapat diolah menjadi biodiesel melalui reaksi kimia transesterifikasi. Dalam kimia organik, transesterifikasi adalah proses pertukaran gugus organik Alkil (R) pada suatu ester dengan gugus organik R dari alkohol. Reaksi ini terkadang dikatalisis oleh penambahan katalis asam atau basa.
Reaksi ini juga dapat dicapai dengan bantuan enzim terutama lipase. Siklus pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel diawali dengan proses pemurnian, kemudian disaring dan dicampur dengan arang aktif lalu dinetralkan. Setelahnya dilakukan transesterifikasi yang menghasilkan biodiesel kasar dan dimurnikan untuk menghasilkan biodiesel.
Marilah kita bersama-sama mengatasi masalah limbah minyak bekas atau minyak jelantah dengan mengolahnya menjadi biosolar atau biodiesel. Karena minyak jelantah yang dibuang sembarangan akan berpengaruh langsung terhadap lingkungan hidup.
Jika menumpuk di selokan akan menimbulkan bau dan air selokan jadi kotor. Jika terserap di tanah, kualitasnya akan menurun karena tanah menjadi keras dan pada akhirnya pencemaran ini dapat menyebabkan banjir. Minyak jelantah yang mengapung di permukaan air laut akan menghalangi sinar matahari, menyebabkan tumbuhan laut tidak bisa berfotosintesis.
Kandungan oksigen terlarut di perairan pun jadi menurun. Pada gilirannya kelangsungan hidup biota laut bisa terancam. Semoga pencemaran limbah minyak jelantah bisa dikurangi karena pemakaian minyak yang banyak di lingkungan keluarga, rumah makan, dan berbagai restoran sehingga dihasilkan beribu-ribu ton minyak jelantah. Apabila tidak ditangani secara baik akan banyak timbul permasalahan yang tidak kita inginkan. Terutama pencemaran tanah dan air yang sangat membahayakan kehidupan makhluk hidup yang ada di dalamnya. (pms/er/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria