Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Nyesel Baru Tahu! Hal Sepele Ternyata Bisa Memicu Kelainan Mata Pada Anak, Kenali Penyebabnya

izak-Indra Zakaria • 2023-10-11 10:59:13
Kelainan Mata pada Anak bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti membaca sambil tidur. (pixabay.com/LichDinh)
Kelainan Mata pada Anak bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti membaca sambil tidur. (pixabay.com/LichDinh)

Orang tua menjadi peran utama untuk mengenali serta mendeteksi kelainan mata pada anak-anak mereka sedini mungkin.

Bukan tanpa alasan, mengenali kelainan mata pada anak sejak awal adalah upaya penting untuk bisa mencegahnya sejak dini.

Apalagi, indra penglihatan sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak dalam memahami banyak hal, oleh sebab itu kelainan mata harus dicegah sedini mungkin.

Selain pencegahan dini, aktivitas sepele yang memicu kelainan pada kesehatan mata sang buah hati seringkali dianggap enteng oleh sebagian orang tua.

Dokter spesialis ilmu kesehatan mata Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Ciptomangunkusumo dr. Anna Puspitasari Bani, Sp.M(K), mengatakan orang tua memiliki peran penting dalam melihat potensi kelainan mata pada anak

“Orang tua menghabiskan waktu paling lama dengan anak, sejak lahir, riwayat kelahirannya misalnya prematur,” jelas Anna dikutip JawaPos.com dari laman Antaranews.com.

“Hal tersebut harus membuat orang tua lebih perhatian pada kesehatan penglihatan mata anak” lanjutnya.

Anna menyebutkan ada beberapa langkah untuk mengenali kelainan pada mata anak dari sejak dini, seperti melihat respons bayi ketika dihadapkan cahaya.

Ia menerangkan respons yang baik adalah ketika anak akan mengedipkan matanya, jika tidak ada respons maka orang tua harus waspada.

Cara lainnya dapat dilihat dengan kasat mata seperti adanya kejanggalan di bola mata anak, misalnya juling atau ada bercak putih pada bagian hitam mata.

Anna menjelaskan selain itu, jika anak sudah mulai besar, apakah posisi kepalanya miring ketika menonton TV dengan jarak yang cukup dekat.

“Jika sudah usia sekolah kalau belajar menulis selalu miring atau ada huruf yang hilang,” kata Anna dalam keterangannya.

“Satu lagi koordinasi gerak misalnya, anak tidak bisa main bola tangkap, dan ini harus menjadi alarm orang tua,” lanjut dokter lulusan Universitas Terbuka itu.

Anna juga menjelaskan gangguan mata ada beberapa jenis, dilihat dari masalah keruh pada mata atau yang dikenal sebagai katarak.

Ia menyebutkan katarak adalah kelainan mata yang bisa dibawa sejak lahir, karena fungsi sistem saraf dan masalah kedudukan mata yang tidak seimbang.

Anna menuturkan mata bekerja sesuai dengan yang otak perintahkan sebagai penglihatan, gangguan bisa terjadi pada sistem saraf yang menghubungkan ke otak.

Selain itu, bisa juga disebabkan oleh kedudukan mata seperti juling yang bisa dibawa sejak lahir maupun berkembang saat dewasa.

Adapun faktor lain yang menyebabkan gangguan pada mata anak adalah faktor genetik yang menyebabkan progres bertambahnya minus menjadi lebih cepat. 

Bisa juga kegiatan yang berkaitan dengan gawai yang digunakan pada anak dan minimnya kegiatan di luar ruangan.

“Dibandingkan anak zaman dulu, anak sekarang main outdoor- (di luar ruangan)-nya lebih jarang dibandingkan kita di zaman dulu,” jelas Anna.

“Jadi pekerjaan dengan melihat dekat sangat intens sekali, mengerjakan tugas dan sebagainya tapi memang zamannya sudah berubah,” tutur Anna.

Ia menilai orang tua perlu melakukan metode pencegahan sejak dini untuk menghindari gangguan mata pada anak.

Anna menyarankan agar menerapkan istirahat setiap kali melakukan kegiatan menggunakan gawai secara terus menerus.

Istirahat dari gawai bisa menggunakan metode 20-20-20 yaitu istirahat setiap 20 menit lalu memandang jarak sejauh 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik.

Anna juga mengingatkan agar mengatur cahaya gawai secara ideal, misalnya gawai tidak terlalu terang dibandingkan suasana sekitar.

Ia juga menambahkan bahwa kebiasaan membaca sambil tidur berpengaruh terhadap bertambahnya mata minus.

“Kemudian baca sambil tidur, lampu akan terhalang oleh buku sehingga cahaya pada buku lebih redup,” jelas Anna.

“Posisi tangan pelan-pelan akan mendekati wajah secara tidak disadari jarak berkurang 30 sampai 40 centimeter berkurang, jarak baca semakin dekat, semakin memicu progres minus,” kata Anna.

Anna menerangkan jika anak mengerjakan tugas dengan gawai, usahakan layar monitor komputer berjarak 60 centimeter agar mata lebih rileks dibandingkan menggunakan gawai dengan jarak pandang rata-rata 30 centimeter.

Ia menyarankan jika menemukan kejanggalan pada respons anak, maka orang tua harus segera melakukan konsultasi ke dokter.(*)

Editor : izak-Indra Zakaria