Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kisah Ngadiono, Guru yang Sudah Puluhan Tahun Mengajar di Pedalaman Kaltim

izak-Indra Zakaria • 2023-11-28 09:53:00
-
-

LUKMAN HAKIM/KP

TANTANGANNYA TAK MUDAH: Ngadiono saat diwawancarai Kaltim Post di kediamannya di Kampung Sri Mulyo, Kubar, Jumat (24/11).

 

 

Jalan Darat saat Musim Panas, Pakai Perahu saat Banjir--alternatif

 

Banyak tantangan yang mesti dijalani Ngadiono. Namun, semua rintangan itu mampu dia lewati. Menjadi guru di daerah terpencil di Kaltim, baginya adalah pengabdian.

 

LUKMAN HAKIM, Sendawar

 

BERUSAHA menjadi pelita di tengah kegelapan. Hal itulah yang selalu tertanam dalam hati Ngadiono, mendedikasikan pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil dan tertinggal.

Pria kelahiran Sleman, 4 April 1969 itu bercerita banyak kepada awak Kaltim Post, saat ditemui di kediamannya di Kampung Sri Mulyo, Kecamatan Sekolaq Darat, Kutai Barat (Kubar), Jumat (24/11) petang.

Berprofesi guru dia lakoni sejak 1995. Kala itu pertama kali mengajar di sebuah sekolah di kawasan pelosok Mahakam Ulu, waktu itu masih bagian dari Kubar. Pada 2011 dia dimutasi ke SD 004 Sri Mulyo di Kecamatan Sekolaq Darat, Kubar. Kala itu berstatus calon PNS. Hingga akhirnya kembali dimutasi pada 2019 ke SD 008 di Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kubar. Di sana dia menjadi kepala sekolah. Sekolahnya berjarak sekitar 38 kilometer dari pusat kota di Sendawar, Kecamatan Barong Tongkok, Kubar.

Mengabdikan diri di daerah terpencil merupakan suatu tantangan tersendiri untuk seorang guru. “Sulitnya akses jalan adalah jawaban salah satunya,” ucap Ngadiono.

Menurutnya, secara sarana dan prasarana di daerah terpencil memang jauh berbeda dengan di wilayah perkotaan. Ketimpangan itu yang menurutnya jadi tantangan tersendiri bagi guru di pedalaman. Meski begitu, menjadi guru adalah impian bagi banyak orang. Sekaligus pengabdian kepada negara.

Persoalan lain juga masih perlu menjadi perhatian pemerintah. Seperti konektivitas jaringan telekomunikasi yang masih sangat sulit didapat. Mengakses internet melalui sinyal yang lemah dan sering putus merupakan tantangan keduanya bertugas di sana.

Tantangan bukan berarti penghalang bagi penerus bangsa untuk memperoleh pendidikan. Niat Ngadiono membuat kegelapan menjadi benderang tak tersurutkan oleh tantangan semacam itu.

Itu terbukti. Selama hampir lima tahun belakangan, dia semakin semangat untuk mengabdikan diri secara ikhlas. Jarak tempuh dari rumahnya di Sri Mulyo ke Muara Beloan juga terpaut cukup jauh. Sekitar 30-an kilometer atau memakan waktu hampir dua jam. “Setiap jam 6 pagi saya sudah berangkat pakai sepeda motor menuju Muara Beloan. Kalau musim kemarau akses jalan daratnya tembus. Tapi kalau banjir, ya naik perahu,” bebernya.

Belum lagi faktor cuaca kurang mendukung. Hujan yang mengguyur tetap tak menyurutkannya pergi ke sekolah. Pahit manis sudah dia jalani semua dengan ikhlas dan semangat. Lantas dia hanya fokus pada satu tujuan. “Menjadi pelita di tengah kegelapan,” bebernya.

Akses internet di tempatnya mengajar menjadi salah satu hambatan utama dalam membawa inovasi pembelajaran melalui teknologi ke sekolah. Namun, dengan semangat yang tak kenal lelah, dia memulai perjalanan panjang untuk mencari solusi demi memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendidikan yang efektif dan menyenangkan.

Tiap guru diminta untuk memanfaatkan waktu saat berada di luar kampung. Yaitu dengan memperbanyak mengunduh metode pembelajaran untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. “Dengan cara itu, kami memastikan bahwa nilai-nilai budaya dan kearifan lokal tetap dijunjung tinggi. Sambil memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung. Meski serba-terbatas,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan, dirinya belajar bahwa teknologi adalah alat yang berharga. Tetapi yang lebih berarti adalah semangat tak kenal menyerah dan keinginan untuk meraih ilmu pengetahuan. Sebagai seorang guru yang sudah puluhan tahun tugas di daerah terpencil, dia bersyukur karena telah memiliki kesempatan untuk membuka pintu dunia.

Kesejahteraan guru dianggap sudah sesuai yang diharapkan. Terlebih setelah beberapa tenaga pendidik lokal yang diangkat sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Setidaknya kini sudah ada kenaikan taraf hidup guru. Kurangnya peminat guru ke daerah terpencil adalah masalah utama yang belum terpecahkan. Sebab, persoalan akses yang sulit. Jadi, konektivitas jalan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang harus dituntaskan.

Ngadiono merinci, jumlah guru di sekolahnya berjumlah delapan orang. Masih memerlukan tambahan sekitar tiga guru lagi untuk mengisi formasi guru agama, pendidikan jasmani, dan olahraga. Dia berpesan, momentum peringatan Hari Guru Nasional itu diharap menjadi batu loncatan para guru untuk meningkatkan semangat dan dedikasinya mengabdi dengan mulia. (rom/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria