TANJUNG REDEB – Menurut data yang dimiliki Dinas Perikanan Berau pada 2022, produksi perikanan mengalami peningkatan dan selaras dengan hasil tangkap ikan nelayan yang semakin meningkat setiap tahun.
Dijelaskan Kepala Dinas Perikanan Berau Dahnia Ratnawati, untuk periode Juni 2022 lalu produksi ikan laut 10.983,29 ton, produksi perairan umum daratan (PUD) 811,87 ton, dan produksi budi daya 1.201,80 ton.
Dibandingkan periode 2021, produksi laut 21.779,62 ton per tahun, produksi PUD 2022 sebanyak 1.622,53 ton per tahun, serta produksi budi daya 2.380,24 ton.
Menurutnya, meski jumlah tersebut belum final hingga akhir 2022 karena belum direkap, pihaknya menegaskan produksi perikanan di Bumi Batiwakkal mengalami peningkatan lantaran berbagai faktor. “Sebenarnya di luar yang tercatat, produksi perikanan jauh lebih besar. Karena tidak semua ikan yang ditangkap melalui pelabuhan,” ujarnya.
Adapun serapan di Kabupaten Berau sejumlah 3–4 ton per hari. Jumlah tersebut mampu memenuhi kebutuhan di daerah. Sementara, produksi bisa mencapai 15-20 ton. Hal itu lantaran banyak nelayan yang menjual ikan keluar daerah.
“Kita tidak bisa membatasi nelayan yang ingin menjual ikannya keluar. Karena perdagangan ikan ini terbuka, siapa saja boleh membeli,” jelasnya.
Yang menjadi masalah saat ini banyak ikan yang tidak tercacat. Karena itu, pemerintah berencana menerapkan sistem logbook secara online. Setiap kapal yang berlayar, wajib melaporkan produksinya secara real time. Namun, itu berlaku bagi kapal besar saja, di atas 30 GT.
“Agar semua ikan bisa tercatat. Mengingat laut itu luas dan pelabuhan di Berau juga terbatas. Apalagi nelayan cenderung menjual ikan di luar,” ucapnya.
Peningkatan produksi perikanan juga diikuti dengan konsumsi ikan per kapita setiap tahun, yakni 61,8 kilogram. Diakuinya penggemar ikan semakin banyak, baik ikan laut maupun budi daya. Sejauh ini, dijelaskan Dahniar, Kabupaten Berau masih masuk kawasan industri.
Pengembangan masih cukup tinggi karena masuk wilayah hijau. Meski begitu, tidak boleh terlena dengan melakukan penambahan armada. Sebab, proses pemulihan ikan membutuhkan waktu.
“Kalau digenjot terus kesempatan ikan untuk kembali pulih itu susah. Saat keran ekspor ditutup lantaran pandemic Covid-19, jumlah ikan di laut semakin banyak dan ukurannya menjadi besar. Karena yang menangkap sedikit,” ungkapnya. “Tapi, ketika diambil terus, ikan tidak bisa mencapai kemampuan pulih, berevolusi dan memperbanyak diri maka akan habis juga,” tandasnya. (aky/ind/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria