PENAJAM–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Penajam Paser Utara (PPU) mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam, untuk tidak resah dengan prediksi ahli fisika Heinz von Foerster dari Universitas Illinois, Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa kiamat bumi akan terjadi pada 2026 mendatang. Sekretaris MUI PPU, Rakhmadi, Minggu (24/3) menegaskan, bahwa datangnya hari kiamat tidak dapat diprediksi dan dihitung oleh manusia. Hal ini merupakan kehendak Allah Subhanahu Wa Taala yang tidak diketahui kapan terjadinya.
“Kiamat adalah rahasia Allah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya, termasuk para rasul,” ujar Rakhmadi dalam keterangan kepada media ini. Dia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh berbagai prediksi kiamat yang beredar. Ia mengajak umat Islam untuk fokus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah taala serta memperbanyak amal saleh, terlebih pada puasa Ramadan 1445 H sekarang ini.
“Lebih baik kita fokus kepada hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat. Kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah, serta memperbanyak amal saleh,” tuturnya. Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa menyebarkan berita tentang kiamat dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. “Jangan mudah terprovokasi oleh berita-berita bohong tentang kiamat yang dikeluarkan oleh siapa pun di dunia ini, karena kapan waktu terjadinya kiamat itu hak mutlak Allah,” imbaunya.
Sebelumnya, prediksi kiamat kembali mengemuka, kali ini datang dari seorang ahli fisika bernama Heinz von Foerster. Foerster memprediksi bahwa kiamat bumi akan terjadi pada tahun 2026, hanya dua tahun dari sekarang. Teori Foerster ini dikembangkan pada 1960 berdasarkan penghitungan pertumbuhan populasi manusia. Menurutnya, jika pola pertumbuhan populasi manusia tidak terkendali, maka bumi akan mencapai titik jenuh pada tahun 2026. Pada titik ini, sumber daya alam bumi tidak akan lagi mampu menopang kehidupan manusia.
Foerster mengatakan, bahwa prediksinya ini didasarkan pada model matematika yang memperhitungkan berbagai faktor, termasuk pertumbuhan populasi, konsumsi sumber daya alam, dan polusi lingkungan. Ia mengeklaim bahwa modelnya menunjukkan bahwa bumi akan mencapai "titik kritis" pada 2026, di mana kerusakan lingkungan akan menjadi ireversibel dan kiamat akan terjadi. Namun, prediksi Foerster ini telah dibantah oleh para ilmuwan lainnya. Mereka mengatakan bahwa model Foerster terlalu sederhana dan tidak memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi masa depan bumi, seperti kemajuan teknologi dan perubahan perilaku manusia. (far/k15)
ARI ARIEF
ari.arief@kaltimpost.co.id
Editor : Indra Zakaria