Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Kolaborasi Apik Menangani Masalah, BRUIN-Komunitas Sajag Sensus Sampah Plastik di Sungai Karang Mumus

Denny Saputra • 2024-05-02 09:50:00

KERJA SAMA: Pursatul Faradillah (kedua kanan) bersama tim Komunitas Sajag setelah mendata sampah di bantaran Sungai Karang Mumus, Sabtu (27/4) lalu.
KERJA SAMA: Pursatul Faradillah (kedua kanan) bersama tim Komunitas Sajag setelah mendata sampah di bantaran Sungai Karang Mumus, Sabtu (27/4) lalu.
 

 

Dalam rangkaian peringatan Hari Bumi 22 April lalu, Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) berkolaborasi dengan berbagai komunitas di Indonesia, melakukan sensus sampah plastik.

 

DI Samarinda, yang terlibat adalah Komunitas Sajag dengan sasaran kegiatan di bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) pada Sabtu (27/4). Tujuan sensus adalah memperluas database, jenis, dan tipe sampah plastik yang dibuang masyarakat. Sensus dilakukan serentak di 10 kota dari 10 provinsi di seluruh Indonesia.

Founder Sajag Pursatul Faradillah menjelaskan, hasil sensus digunakan untuk mengidentifikasi jenis sampah yang dihasilkan dari berbagai sumber. Termasuk mengklasifikasikannya berdasarkan merek dan produsen, serta meningkatkan kesadaran produsen terhadap tanggung jawab mereka dalam pengelolaan sampah.

"Harapannya produsen dapat memberikan kontribusi dan perhatian lebih terhadap packaging produk mereka, sebagai bagian dari konsep Extended Producer Responsibility (EPR)," ujarnya.

Hasil sensus di Sungai Karang Mumus menunjukkan, terdapat sekitar 500 sampah plastik dari berbagai merek dan jenis plastik yang dikumpulkan. Sampah plastik termasuk jenis LDPE, styrofoam, HDPE, PET, dan PP dari beberapa produsen terkenal seperti Mayora, Unilever, dan Wings.

Selain sampah plastik, SKM terlihat berminyak, yang mengindikasikan tingginya aktivitas pembuangan limbah cair domestik ke sungai. Hal itu jelas memprihatinkan karena banyak masyarakat yang masih bergantung pada keberadaan sungai tersebut. “Kegiatan sensus diikuti sekitar enam orang anggota berbagai komunitas. Ke depan, Sajag tidak menutup kemungkinan untuk melakukan sensus secara rutin dan bekerja sama dengan pihak yang lebih luas,” ujarnya.

Dia mengimbau masyarakat ikut melestarikan ekosistem sungai, tidak membuang sampah ke sungai dan menggunakan fasilitas pengumpulan sampah yang telah disediakan pemerintah. "Saat sungai sedang pasang, sampah plastik terlihat tidak banyak. Nyatanya sampah terus mengalir mencemari wilayah yang ingin mereka tuju. Bahaya dari mikro plastik tidak banyak yang diketahui masyarakat," jelas Pursatul.

Sebagai informasi, Sajag dibentuk pada 2022 yang diinisiasi para mahasiswa dan alumni Teknik Lingkungan Universitas Mulawarman, berfokus kegiatannya pada aspek persampahan dan ekonomi sirkular. (dra/k8)

 

DENNY SAPUTRA

@dennysaputra46

Editor : Indra Zakaria
#Sungai Karang Mumus