Ihwal krisis air baku sudah dibahas sejak 2010 silam. Termasuk opsi mengambil air dari Bendungan Sepaku Semoi. Kehadiran IKN pun menggerus jatah air Kota Minyak.
SETIAP malam, Syarifah harus terjaga. Tak ada cara lain untuk mendapatkan air bersih kecuali menunggu hingga keran mengalir. Perempuan 47 tahun itu bersama suami bergantian menunggu. Jika mereka terlelap, tidak menampung air, artinya melewatkan kesempatan. Lokasi rumah Syarifah masuk wilayah Kelurahan Gunung Sari Ulu, Balikpapan Tengah, yang memiliki topografi perbukitan. Akibatnya air sulit mengalir di waktu dan kondisi normal. Tekanan yang tak seberapa besar tidak mampu menyuplai air hingga ke dataran tinggi. Berharap 24 jam air bisa mengalir, bak mimpi di siang bolong.
Meski rela begadang, keran nyalanya tetap jarang mengalirkan air. Tidak mengalir hingga dua pekan menjadi hal biasa. Jika terdesak, mereka harus membeli. Minimal merogoh kantong Rp 150 ribu per tandon untuk kapasitas 1.200 liter. Namun saat musim kemarau, air bisa dijual hingga Rp 300 ribu per tandon. Saat ini air bersih menjadi barang mahal bagi warga Kelurahan Gunung Sari Ulu, Balikpapan Tengah. Kondisi ini sudah terjadi nyaris satu dekade. Apalagi pertumbuhan penduduk di Balikpapan begitu masif membuat kebutuhan air meningkat drastis.
Data Badan Pusat Statistik (BPS), total penduduk Balikpapan lebih dari 1,2 juta di siang hari. Dari jumlah tersebut, total kebutuhan air baku 3.856 liter per detik. Sementara kapasitas tersedia 1.300 liter per detik, total defisit sudah mencapai 2.556 liter per detik. Sementara Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mencatat tingkat defisit air di Balikpapan mencapai 803 liter per detik pada 2023. Saat ini total kapasitas air baku terpakai 1.446 liter per detik dengan jumlah pelanggan 116.389 sambungan rumah (SR). Teranyar jumlah daftar tunggu sambungan mencapai 13 ribu SR.
***
Ketersediaan sumber air baku menjadi tantangan utama di Balikpapan. Tak ada sumber mata air dan sungai dengan debit besar. Hanya bergantung pada waduk tadah hujan. Akibatnya jumlah air baku terbatas hanya dari Waduk Manggar berkapasitas 1.100 liter per detik dan Waduk Teritip 270 liter per detik.
Total kapasitas air baku eksisting 1.570 liter per detik. Termasuk empat sumur IPAM Kampung Damai (58 liter per detik), dua sumur IPAM ZAMP (10 liter per detik), enam sumur IPAM Gunung Sari (140 liter per detik), dan dua sumur IPAM Kampung Baru (20 liter per detik). Total terdapat 14 sumur dalam dengan kapasitas 228 liter per detik. Itu baru mampu memenuhi cakupan layanan 70 persen. Pemkot Balikpapan sejak satu dekade lalu telah membidik sumber air baku dari Sepaku Semoi. Sebab dari sisi jarak, Penajam Paser Utara (PPU) sebagai kota tetangga, yang paling dekat yakni 50 kilometer. Jadi diyakini dapat membantu suplai air ke Balikpapan.
Kabid Penyehatan Lingkungan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum (PU) Balikpapan Nurlaili mengatakan, awalnya ada tiga sumber air baku yang berpotensi menyuplai air bersih. Yakni Embung Aji Raden kapasitas 150 liter per detik, Bendungan Teritip 20 liter per detik (idle capacity), dan Bendungan Sepaku Semoi 1.000 liter per detik. Bendungan Sepaku Semoi merupakan opsi paling potensial. Pemkot Balikpapan dan Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) berupaya agar rencana ini bisa terealisasi. Mereka melakukan kajian rencana pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) Sepaku Semoi skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
Studi pendahuluan KPBU turut dibantu Bappenas. Dalam dokumen awal, nilai investasi mencapai Rp 2 triliun dengan masa konsesi 20 tahun. Namun, penetapan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim pada Agustus 2019 mengancam rencana pembangunan SPAM Sepaku Semoi.
Sebelumnya rencana distribusi air dari Bendungan Sepaku Semoi terdiri dari Balikpapan 2.000 liter per detik. Kemudian PPU 500 liter per detik. Setelah penetapan IKN di Kecamatan Sepaku, PPU membuat skema produksi berubah. Yakni 2.000 liter per detik untuk IKN dan 500 liter per detik untuk Balikpapan. Kapasitas ini dianggap terlalu kecil dan tidak sebanding dengan nilai investasi SPAM Sepaku Semoi.
Kementerian PUPR membangun Bendungan Sepaku Semoi yang berlokasi di Desa Tengin Baru, Kecamatan Sepaku, PPU. Pembangunan mulai berjalan Juli 2020. Bendungan Sepaku Semoi memiliki luas genangan 280 hektare dan kapasitas tampung 10,6 juta meter kubik. Nilai proyek Rp 556 miliar dengan kontraktor PT Brantas Abipraya, PT Sacna, dan PT BRP (KSO). Bendungan ini berfungsi mereduksi banjir 55,26 persen. Presiden Joko Widodo didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono telah melakukan pengisian awal (impounding) Bendungan Sepaku Semoi pada 21 September 2023 lalu. Menteri Basuki mengatakan, Bendungan Sepaku Semoi siap menjadi penyedia air baku untuk IKN hingga 2030.
PESIMIS SOAL SPAM SEPAKU SEMOI
Persoalan krisis air baku sudah dibahas Pemkot Balikpapan sejak 2010 silam. Termasuk opsi mengambil air dari Bendungan Sepaku Semoi masuk rencana jangka panjang. Mengingat rencana awal distribusi air dari Bendungan Sepaku Semoi terdiri dari Balikpapan 2.000 liter per detik dan PPU 500 liter per detik. Namun, kini berubah Balikpapan hanya mendapat jatah 500 liter per detik. Sementara 2.000 liter per detik untuk IKN. Kapasitas ini dianggap terlalu kecil dan tidak sebanding dengan nilai investasi SPAM Sepaku Semoi. Pemkot Balikpapan berupaya melobi pemerintah pusat agar mendapat 1.000 liter per detik.
Angka itu sesuai dengan studi pendahuluan KPBU SPAM Sepaku Semoi yang telah disusun bersama Bappenas. Sayang, hingga kini upaya yang dilakukan Pemkot Balikpapan belum membuahkan hasil, alias nihil. Sebab, keputusan pemerintah pusat tidak berubah.
Kepada Kaltim Post, Direktur Utama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) Yudhi Saharuddin mengatakan, masalah krisis air baku kerap disampaikan kepada pusat. Dia menegaskan, PTMB hanya sebagai operator yang mendistribusikan air. Sementara soal penyediaan air baku juga tetap tanggung jawab pemerintah pusat.
Adapun pemerintah pusat hingga kini belum mengubah keputusan. Balikpapan hanya mendapat jatah 500 liter per detik dari Bendungan Sepaku Semoi. “Saya sudah cek kapasitas produksi Sepaku Semoi hanya sekitar 2.100 liter per detik. Itu pasti hanya untuk memenuhi kebutuhan IKN,” sebutnya. Dia pesimistis Balikpapan bisa mendapat suplai dari Bendungan Sepaku Semoi. Yudhi menilai, rencana SPAM Sepaku Semoi sudah tak lagi potensial. Apalagi jika hanya dengan suplai 500 liter per detik. Menurutnya tetap tidak sebanding antara biaya dan manfaat yang bisa diambil.
“Siapa mau tanggung kerugian. Apalagi nilai investasi ini butuh dana triliun, berapa yang harus masyarakat bayar dan berapa yang kami bayar ke badan usaha,” tuturnya. Dia mengakui, perencanaan SPAM Sepaku Semoi melalui KPBU masih proses. Teranyar tahap analisis kelayakan finansial proyek. “Walau mampu secara finansial, tapi harus berpikir bagaimana sisi kontinuitasnya. Saya lihat sekarang potensinya kurang,” imbuhnya. Pihaknya justru melirik pembangunan SPAM regional dengan memanfaatkan Sungai Mahakam sebagai sumber air baku. Menurutnya opsi ini lebih memungkinkan untuk mengatasi krisis air baku.
“Kalau memang tidak mungkin mengambil dari Sepaku Semoi, lebih baik batal saja bangun SPAM Sepaku Semoi. Tapi langsung mengambil air dari Sungai Mahakam,” ungkapnya. Apalagi IKN juga berharap ada sumber air baku baru untuk menutupi kebutuhan di sana. “Kami mulai berpikir bagaimana percepatan pembangunan SPAM regional dari Sungai Mahakam,” sebutnya. Apabila Balikpapan bisa mendapat suplai air hingga 2.000 liter per detik, Yudhi meyakini kesulitan air yang selama ini setiap tahun dirasakan warga Kota Minyak bisa teratasi.
Dia bercerita, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud sudah mengirim surat resmi kepada Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim Akmal Malik dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Isinya mendorong pembangunan SPAM regional menjadi proyek prioritas kedaruratan tinggi dan masuk proyek strategis nasional (PSN). “Karena Kementerian PUPR seharusnya bertanggung jawab menyediakan air baku,” tegasnya. Ketika ada kesempatan rapat dengan Kementerian PUPR, pihaknya sudah sekian kali menyampaikan PTMB merupakan operator. Namun tetap penyediaan sumber air baku yakni Kementerian PUPR.