"Target pengerjaan selama lima hari. Tapi semua bergantung kondisi cuaca di lapangan," kata Anwar. Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Sudarso menjelaskan, area persawahan menggunakan sistem tadah hujan, namun karena sistem irigasi bermasalah, maka air yang harusnya mengalir jadi mengendap di area persawahan.
Kondisi ini menyebabkan bibit padi yang akan ditanam berisiko mengalami kerusakan jika dipaksakan ditanam. Sehingga hasilnya tidak akan maksimal. Untuk mengatasi hal itu, maka perlu dilakukan normalisasi saluran irigasi yang mengarah ke sungai sehingga air bisa lancar kembali.
"Alat berat dari BWS langsung bekerja cepat melihat kondisi di lapangan. Sebab selain bibit yang bisa rusak, bibit yang sudah siap tanam, akan semakin menua. Ini bisa menyebabkan gagal panen," ungkap Suwarso.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Berkat Usaha, Aidil mengaku, meski pengerjaan pengerukan aliran air baru berjalan 200 meter, namun hasilnya sudah terlihat. Air di sebagian petak sawah seluas 65 hektare itu, mulai surut. Melihat hasil ini, para petani dari lima kelompok tani mulai bersemangat kembali untuk menanam padi.
"Sebagian besar petani sudah mulai menanam setelah air menurun. Mudah-mudahan dalam waktu tiga bulan sudah ada hasilnya," kata Aidil. Aidil melanjutkan, sebenarnya masih ada lahan tidur di sekitar area persawahan yang bisa dibuka sebagai lahan pertanian.
Namun hal itu memerlukan tenaga dan bantuan pemerintah. Sebab, lahan tidur tersebut masih berupa rumput iallang. "Masih ada 70 hektare lagi yang bisa dibuka. Andai bisa dimanfaatkan, maka Sambutan bisa swasembada beras dan jadi salah satu lumbung padi di Kota Samarinda," harap Aidil. (kis/nha)