Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Baru Garap 200 Meter, Hasil Sudah Terlihat, Petani Sambutan Berharap Bisa Garap 75 Hektare Lagi

Redaksi Sapos • Jumat, 21 Juni 2024 - 18:15 WIB
MULAI SURUT. Kondisi air di area persawahan yang surut setelah dilakukan normalisasi irigasi dimanfaatkan para petani untuk segera menanam padi.
MULAI SURUT. Kondisi air di area persawahan yang surut setelah dilakukan normalisasi irigasi dimanfaatkan para petani untuk segera menanam padi.

 

Sebagai respons atas terendamnya area persawahan di Jalan Pelita VI, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Sambutan, Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV, menerjunkan satu alat berat, Selasa (18/6) kemarin.

Alat berat berupa ekskavator diterjunkan untuk melancarkan aliran air sungai di sekitar area persawahan yang terendam. Sebab selama ini, sungai yang difungsikan sebagai irigasi tersebut, mengalami penyempitan dan pendangkalan. Akibatnya, air yang mesti menuju sungai besar, justru terhambat.

Pejabat Pembuat Komitmen BWS Kalimantan IV, Anwar menjelaskan, alat berat akan bekerja di sepanjang 500 meter dengan lebar 7 meter di sungai yang kini buntu. Hingga kemarin, sudah 200 meter yang tergarap pengerjaan.

"Target pengerjaan selama lima hari. Tapi semua bergantung kondisi cuaca di lapangan," kata Anwar. Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Sudarso menjelaskan, area persawahan menggunakan sistem tadah hujan, namun karena sistem irigasi bermasalah, maka air yang harusnya mengalir jadi mengendap di area persawahan.

Kondisi ini menyebabkan bibit padi yang akan ditanam berisiko mengalami kerusakan jika dipaksakan ditanam. Sehingga hasilnya tidak akan maksimal. Untuk mengatasi hal itu, maka perlu dilakukan normalisasi saluran irigasi yang mengarah ke sungai sehingga air bisa lancar kembali. 

"Alat berat dari BWS langsung bekerja cepat melihat kondisi di lapangan. Sebab selain bibit yang bisa rusak, bibit yang sudah siap tanam, akan semakin menua. Ini bisa menyebabkan gagal panen," ungkap Suwarso.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Berkat Usaha, Aidil mengaku, meski pengerjaan pengerukan aliran air baru berjalan 200 meter, namun hasilnya sudah terlihat. Air di sebagian petak sawah seluas 65 hektare itu, mulai surut. Melihat hasil ini, para petani dari lima kelompok tani mulai bersemangat kembali untuk menanam padi.

"Sebagian besar petani sudah mulai menanam setelah air menurun. Mudah-mudahan dalam waktu tiga bulan sudah ada hasilnya," kata Aidil. Aidil melanjutkan, sebenarnya masih ada lahan tidur di sekitar area persawahan yang bisa dibuka sebagai lahan pertanian.

Namun hal itu memerlukan tenaga dan bantuan pemerintah. Sebab, lahan tidur tersebut masih berupa rumput iallang. "Masih ada 70 hektare lagi yang bisa dibuka. Andai bisa dimanfaatkan, maka Sambutan bisa swasembada beras dan jadi salah satu lumbung padi di Kota Samarinda," harap Aidil. (kis/nha)

 

 
 
Editor : Indra Zakaria