Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ditinggal Kedua Orangtua, Hengki Ingin Jadi Guru

wahyu-Wahyu KP • Senin, 7 Januari 2019 - 15:57 WIB

Nestapa warga Kampung Garehong, Desa Sirnaresmi, Cisolok, Sukabumi, membuat banyak pihak terdorong untuk turun tangan. Ribuan orang datang demi mencari belasan korban yang masih tertimbun longsoran. Meski bermedan berat, tidak satu pun berpamrih. Sebab, masih ada sanak familie korban menanti kepastian.

SAHRUL YUNIZAR, Sukabumi

LANGIT kelabu mengiringi upaya evakuasi korban dari area terdampak longsor di Kecamatan Cisolok sepanjang Rabu (2/1). Tepat tiga hari setelah kejadian yang mengakibatkan satu kampung di wilayah tersebut luluh lantak. Meski tidak deras betul, sesekali hujan menyiram tim gabungan yang tidak henti mencari para korban. Sebelum kata mundur diteriakkan, mereka terus mencari.

Muhammad Baedowi, salah seorang prajurit TNI yang sudah di lokasi beberapa jam setelah kejadian. Dia juga termasuk dalam rombongan pertama yang merapat ke area terdampak longsor bersama pasukan Kostrad lainnya. “Jam 1 malam (1/1) kami tiba,” kata dia ketika berbincang dengan Jawa Pos di area pencarian korban.

Sampai ke Kampung Garehong memang tidak mudah. Sehingga mereka tidak bisa sampai lebih cepat. Jalur menuju kampung itu memang sudah beraspal. Namun, bukit dengan tanjakan dan turunan curam memaksa regu pembantu berjibaku lebih keras.

Selain mobil berpenggerak empat roda, hanya sepeda motor yang paling memungkinkan dipakai melalui jalur tersebut. Pilihan terakhir adalah berjalan kaki dengan jarak sekitar 4 kilometer dan waktu tempuh paling cepat satu jam.

Begitu rombongan tiba di lokasi kejadian, kata Baedowi, warga masih panik. Kondisi juga sudah gelap gulita karena listrik padam. Tak banyak yang bisa dilakukan petugas. Sebisa-bisanya mereka menenangkan warga. Sambil membantu sebisanya. Selain dua korban meninggal dunia, mereka belum bisa memastikan korban lain yang masih dalam timbunan longsor. Pencarian baru dimulai pagi. Setelah matahari terbit.

Untung, warga Kampung Garehong punya tetangga yang permukimannya bersebelahan, yakni warga Dusun Cimapag. Merekalah yang kali pertama turun tangan begitu longsor terjadi. Mereka pula yang pertama mengabari Kepala Desa Sirnaresmi Iwan Suwandri bahwa acara doa bersama menyambut tahun baru urung dilaksanakan. Tidak lain tidak bukan, longsor yang menjadi alasan mereka membatalkan rencana tersebut.

Sejak keluar edaran dari Pemkab Sukabumi berkenaan dengan larangan merayakan tahun baru secara berlebihan, Iwan langsung mengambil inisiatif. Dia berniat mengajak warga Kampung Garehong berdoa bersama. Sekaligus makan bareng saat perayaan tahun baru. ”Paginya sudah persiapan semua. Mau makan di gunung,” ucap Iwan. Anak buahnya juga dia kerahkan untuk membantu warga adat tersebut.

Selepas asar, Iwan mulai bersiap diri. Menjelang petang, dia pun menyalakan motornya untuk kemudian tancap gas menuju Kampung Garehong. Meski gerimis, dia tetap berangkat. Sebab, warganya sudah menunggu. Di tengah perjalanan, dia ingat ada beberapa barang yang perlu dibeli. Dia lantas mencari warung. Saat itu pula telepon genggamnya berdering. “Bapak di mana? Enggal kadieu (cepat ke sini),” kata suara di balik telepon genggamnya.

Karena belum tahu terjadi longsor, Iwan menjawab santai. “Nuju (sedang) di jalan,” imbuhnya. “Bapak, di Garehong longsor,” jawab lawan bicaranya. Saat itu Iwan bergegas. Barang yang sudah dibeli pun dia tinggalkan. “Ternyata benar. Sudah hancur semua,” kata dia. Rencana doa bersama sirna. Yang ada dalam kepala Iwan hanya membantu warganya. Setelah menghubungi aparat TNI-Polri, dia langsung turun tangan.

Yang pertama ditolong Iwan adalah seorang bayi. Dia selamat. Sedangkan ayahnya meninggal dunia. “Sudah tergencet pepohonan,” ucap Iwan. Malam itu boleh dibilang paling kelam bagi Iwan. Selama tinggal di Sirnaresmi, belum pernah sekalipun musibah serupa longsor di Kampung Garehong melanda. Baru sekali itu dia menyaksikan langsung puluhan rumah dan ratusan warga diterjang longsor.

Meski berat, Iwan berusaha tegar di depan warganya. Sebisa-bisanya dia membantu semua korban. Termasuk dua kakak beradik bernama Hengki dan Farel. Mereka selamat. Tapi, orangtua bocah tersebut meninggal. Ayahnya bernama Ahudi telah ditemukan meninggal dunia. Sedangkan ibu dua bocah itu belum diketahui keberadaannya. Diduga kuat, dia termasuk korban yang masih tertimbun longsoran.

Dua bocah itu, sambung Iwan, kini tinggal bersama kakaknya. “Kemarin (Rabu) sudah ditemui Pak RK (Ridwan Kamil, gubernur Jawa Barat),” imbuh Iwan. Keduanya sudah dijanjikan bakal diurus Emil sampai bisa hidup mandiri. Saat Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita menyambangi lokasi kejadian Kamis (3/1), Hengki dan Farel juga hadir.

Bersama saudara kandungnya, Amid, mereka diberi tahu Iwan bakal mendapat bantuan berupa uang tunai Rp 15 juta. Raut duka masih jelas tampak pada wajah dua bocah tersebut. Meski sudah aman bersama Amid, kesedihan ditinggal ibu dan bapak tidak bisa mereka tutupi. Hengki maupun Farel memang tidak terus-menerus menangis. Namun, keduanya tidak bisa lupa akan orangtua mereka.

Sepanjang pertemuan bersama menteri sosial, Hengki nyaris tidak pernah melepas genggaman tangan adiknya. Farel pun selalu ingin dekat dengan kakaknya. Bocah 12 tahun dan 5 tahun itu hanya tersenyum setiap ucapan belasungkawa mereka terima. Sesekali mereka mengangguk begitu kalimat-kalimat dukacita meluncur dari orang-orang yang menghampiri.

Farel tidak banyak bicara. Sedangkan Hengki sesekali menjawab pertanyaan. Termasuk ketika beberapa awak media mendekatinya. Ketika ditanya perihal longsor yang mengakibatkan ayahnya meninggal dunia, Hengki menjawab singkat. “Nuju bade angkat ka masjid (sedang mau berangkat ke masjid),” ucap dia pelan.

Karena longsor terjadi berdekatan dengan waktu magrib, Hengki dan Farel selamat. Keduanya sudah tidak di rumah. Mereka sedang berjalan menuju masjid untuk salat berjamaah dan mengaji.

Jangan ditanya kaget atau tidak. Raut muka keduanya sudah jelas masih menggambarkan kesedihan. Keduanya masih sangat kecil. Walau air mata tidak terus mengalir dari mereka, kenangan bersama orangtua tentu terus membayangi. Seperti kebanyakan anak seusianya, Hengki juga punya impian. “Jadi guru,” kata dia ketika ditanya cita-citanya kelak.

Impian itu bakal terus dijaga Hengki. Meski akan terasa jauh berbeda tanpa keberadaan ibu-bapaknya, dia percaya mampu meraih asa tersebut. Dukungan dari orang-orang sekitar turut menguatkan Hengki. Termasuk di antaranya Iwan. Sebagai kepala desa, Iwan berjanji memperhatikan setiap korban longsor di Kampung Garehong. Apalagi Hengki dan Farel kehilangan orangtua mereka.

Iwan juga berjanji mengawal proses pencarian korban yang belum ditemukan. Sebab, warganya sudah meminta. Bagaimanapun kondisi para korban, tetap harus ditemukan. Sekalipun mereka sudah meninggal dunia dan jenazah mereka tidak utuh lagi. Sampai Jumat malam (4/1), total korban meninggal yang sudah dievakuasi dari Kampung Garehong sebanyak 22 orang. Artinya, masih ada 11 korban yang belum ditemukan. (*/c9/agm/jpnn/rom/k106)

Editor : wahyu-Wahyu KP