SANGATTA – Tak sedikit kecelakaan kendaraan melibatkan pelajar maupun mahasiswa. Padahal kalangan milenial seharusnya menjadi pelopor keselamatan berkendara. Di Kutai Timur, kalangan pelajar diberikan pendidikan khusus untuk hal tersebut.
Polres Kutim melalui satlantas sebelumnya sudah memberlakukan aturan khusus kepada para pelajar di Kutim. Khususnya yang belum cukup umur, terutama pelajar SMP. Pihak sekolah pun telah melarang, sehingga perlu ada kerja sama yang baik antara orangtua siswa dan pihak sekolah.
Satlantas Kutim terus melakukan sosialisasi tentang keselamatan berkendara khusus kalangan milenial ke sejumlah sekolah. Salah satunya dialog lintas milenial road safety 2019 di Kecamatan Rantau Pulung yang diikuti siswa SMP Rantau Pulung, Sabtu (12/1).
Kasat Lantas AKP Eko Budiyatno menjelaskan, kalangan pelajar perlu lebih memperdalam pemahaman berkendara. Bukan sekadar naik motor. Yakni, harus lebih dulu memiliki surat izin mengemudi (SIM) dan menggunakan perlengkapan berkendara, serta melaju dengan kecepatan sewajarnya, sambil memperhatikan tanda rambu lalu lintas dan kendaraan di sekitarnya.
Ada beberapa sekolah di Kecamatan Sangatta Selatan, Teluk Pandan, Sangatta Utara, memberlakukan pelarangan bawa motor ke sekolah. Beberapa anak memang harus dijemput orangtua atau menggunakan angkutan umum.
Eko menyatakan, sosialisasi yang dilakukan tersebut merupakan upaya mewujudkan kalangan milenial tertib lalu lintas. Diharapkan, para pelajar justru menjadi pelopor keselamatan berkendara. “Artinya memiliki pemahaman tentang apa yang harus dilakukan ketika berada di jalan, baik ketika sebagai pengendara maupun saat menjadi penumpang, atau saat menjadi pejalan kaki,” ungkapnya.
Ditegaskan, kalangan pelajar merupakan kaum intelektual yang telah mendapat pendidikan secara legal. Lantas hal tersebut harus menjadi modal agar pelajar turut menyosialisasikan keselamatan berkendara. Bukannya malah menjadi korban.
Untuk diketahui, Kepolisian Daerah Kaltim mencatat sekitar 50 persen kasus kecelakaan lalu lintas di daerah setempat pada 2016 melibatkan anak sekolah. Dari 380 korban meninggal dunia akibat kecelakaan, 30 persennya adalah siswa SMP-SMA.
Hal itu yang menjadi faktor utama mendasari sosialisasi keselamatan berkendara harus digalakkan di Kutim maupun daerah lain. Pelajar harus lebih paham keselamatan berkendara, bukan hanya naik motor. (mon/san/k16)
Editor : octa-Octa