Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Warga Binaan Mampu Produksi Gitar Akustik

amir-Amir KP • 2019-01-19 07:55:52
SIAP DIPASARKAN: Warga binaan Rutan Kelas II-B Balikpapan menunjukkan gitar akustik buatannya yang akan dipamerkan di Dome saat HUT kota.
SIAP DIPASARKAN: Warga binaan Rutan Kelas II-B Balikpapan menunjukkan gitar akustik buatannya yang akan dipamerkan di Dome saat HUT kota.

BALIKPAPAN  -  Berada di dalam tahanan tidak membuat warga binaan Rutan Kelas II-B Balikpapan berdiam diri. Sejumlah warga binaan justru menghasilkan karya yang bernilai ekonomis. Mereka membuat pot bunga, mebel, hingga gitar akustik. Semua diproduksi sendiri atau handmade

 

Siswanto, salah seorang warga binaan mengatakan, dulu dirinya merupakan seniman tato. Berkat arahan pihak rutan, kini dirinya bergabung untuk membuat gitar. Sebuah gitar membutuhkan waktu minimal empat hari.

 

“Untuk membuat gitar yang perlu diperhatikan adalah kualitas suaranya. Makin kering gitar, suara makin bagus. Makanya kelembapan berpengaruh,” kata pria 36 tahun ini. 

 

Jenis kayu juga perlu diperhatikan. Gitar yang dibuatnya bersama tiga orang kawannya terbuat dari kayu bengkirai untuk gagang gitar, sementara rangkanya dari tripleks. 

“Pengeringan kami manual. Sebenarnya yang bagus setelah 70 persen gitar jadi, badan gitar mesti dioven agar kering sempurna dan suara yang dihasilkan lebih bagus,” jelasnya.

 

Sementara untuk harga gitar bervariasi. Ada empat macam ukuran. Ukuran paling kecil atau ukulele dibanderol dengan harga Rp 300-400 ribu, gitar lele Rp 400-600 ribu, gitar tiga per empat Rp 800 ribu, dan ukuran jumbo dihargai Rp 1,5 juta.

 

“Apa yang kami lakukan di sini, sama dengan yang bisa dilakukan orang-orang yang bebas. Kami juga berkarya. Kami harap banyak orang menyukai dan tertarik membeli gitar produksi kami,” ucapnya.

 

Gitar produksi Siswanto dan rekan-rekannya sudah diberi merek, yaitu BAR (Buatan Asli Rutan). Nama tersebut selain menunjukkan singkatan, juga memiliki arti lain, yaitu ruas di antara irama atau tempat menuliskan not sesuai irama.

 

Kini, ada belasan gitar yang diproduksi sejak pertengahan 2018 lalu. Namun baru dua gitar yang dilirik pembeli. Pembelinya ialah para pembesuk yang tak lain juga keluarga dari para warga binaan.

 

Menurut pembina kepribadian Rutan Kelas II-B Balikpapan Tuwuh Wibowo, warga binaan memang kesulitan dalam mencari pangsa pasar. Pemasarannya dilakukan dari mulut ke mulut. Pembeli yang tertarik akan diajak mengunjungi workshop. Hal inilah yang jadi alasan pihak rutan memutuskan untuk bekerja sama dengan Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Balikpapan.

 

“Pada ulang tahun Balikpapan nanti, kami bersama dinas terkait akan membuka pameran di Dome dan menjual hasil kerajinan gitar di sana,” terangnya. Warga binaan sangat mengharapkan apresiasi, dengan membeli gitar buatan mereka. 

 

Selain itu, menurut Kasi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas II-B Ade Hari Setiawan, hal ini juga bisa meningkatkan rasa percaya diri warga binaan sebelum kembali ke masyarakat. Membuat gitar juga salah satu cara menyalurkan keahlian warga binaan. 

 

Untuk modal produksi gitar, itu berasal dari kas warga binaan. Uang itu dikumpulkan dari penjualan berbagai kerajinan yang dibuat warga binaan. Tak main-main, bahan produksinya yang terbaik dan berasal dari Pulau Jawa. 

 

“Cap narapidana melekat kuat dengan image negatif. Tak sedikit dari mereka kesulitan beradaptasi kembali di masyarakat.  Itulah alasan mengapa pihak Rutan Kelas II-B Balikpapan melatih mereka agar mandiri,” pungkasnya. (cha/vie/k1)

Editor : amir-Amir KP