BALIKPAPAN - Saat ini tercatat ada sekira 15 ribu armada driver ojek online (ojol) di Kota Balikpapan. Jumlah itu dikhawatirkan bakal terus membengkak, sehingga manajemen Go-Jek menutup pendaftaran driver ojol yang baru.
Namun, ternyata masih banyak warga yang ingin mendaftarkan dirinya menjadi anggota. Hingga akhirnya beredar kabar, terjadinya transaksi jual-beli akun ojol di kalangan para driver. Informasi yang berhasil dihimpun media ini, salah satunya terjadi di driver ojol Go-Jek.
“Ada teman saya yang beli akun temannya seharga Rp 3 juta, ada juga yang jual sampai Rp 4 jutaan. Mereka beli karena ‘kan sudah nggak bisa daftar lagi, jadi ya beli akunnya orang. Identitasnya, ya, identitasnya orang,” beber salah seorang driver ojol yang tidak ingin disebutkan namanya, kemarin (19/1).
Tentu jual-beli akun driver ojol ini dinilai rawan terjadinya penyalahgunaan data. Mereka yang membeli tentu menggunakan jasa antar-jemput penumpang dengan identitas driver sebelumnya. Bahkan, motor dan nomor polisinya pun sudah berbeda, sehingga rawan terjadi hal yang tidak diinginkan.
Hal ini rupanya baru diketahui oleh Manajemen Go-Jek Indonesia. Saat dikonfirmasi, Vice President Go-Jek Regional Indonesia Bagian Timur, Anandita Danaatmadja mengaku terkejut mengetahui adanya jual-beli akun driver. Dia menegaskan, pihaknya melarang keras para driver menjual akunnya kepada orang lain.
“Wah, kami malah baru dengar ini, apalagi sampai Rp 4 jutaan. Ya, itu nggak boleh, kami tidak membenarkan hal itu. Kalau ada informasi detail mungkin bisa kasih tahu ke kami, biar ditindaklanjuti,” ujar dia.
Anandita mengakui, saat ini banyak yang ingin bergabung menjadi driver Go-Jek namun belum kesampaian. Sehingga, menjual akun kepada orang lain sejatinya tidak masalah, selagi hal itu membantu roda perekonomian warga. Namun, dia khawatir akun tersebut disalahgunakan.
“Tapi, yang pasti kami selalu (mengawasi, Red). ‘Kan perusahaan Go-Jek itu memang misinya ada dampak sosial. Makanya kami selalu menginginkan, kami bisa memberikan dampak sosial kepada masyarakat, baik kepada driver maupun customer. Makanya, mitra-mitra driver tersebut selalu kami berikan training. Tapi, untuk permasalahan itu bisa kasih detail ke saya, biar bisa saya follow-up,” terangnya.
Masih menurut Anandita, penjualan akun juga rawan digunakan untuk hal negatif, seperti tindak penipuan. Pihaknya tidak akan menoleransi driver Go-Jek yang menjual akunnya. Bila terbukti, pihaknya akan melakukan pemblokiran terhadap akun tersebut.
“Kalau ada customer komplain bahwa ada driver-nya tidak sesuai, itu ‘kan pasti akan kami tindak lanjuti. Kalau ketahuan kami langsung blokir akunnya itu dan tidak bisa lagi digunakan,” tutupnya. (yad/yud/k1)
Editor : wahyu-Wahyu KP