Damar Andika (10) dan Masdariansyah (15), kurang beruntung. Kedua bocah asal Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kukar itu mengalami kelainan pada otak. Untuk makan saja, tak mudah.
Muhammad Rifqi, Tenggarong
KEBERADAAN kedua bocah itu nyaris tak terdeteksi. Beruntung radar petugas Bhabinkamtibmas setempat begitu kuat. Damar Andika di RT 15, adalah putra pasangan Kamisliah dan Jumiran. Ia anak ketiga dari lima bersaudara. Sehari-harinya, Jumiran bertahan menyambung perekonomian keluarga dengan menjadi buruh bangunan. Sedangkan Kamisliah hanya ibu rumah tangga.
Meski sudah berusia sepuluh tahun, Damar hanya memiliki berat sekitar 10 kilogram. Begitu tak normal dari biasanya. Sejak usia 18 bulan hingga saat ini, Damar sering kali mengalami kejang-kejang. Berdasarkan diagnosis dokter, Damar mengalami encephalitis atau semacam peradangan pada jaringan otak. Bahkan jika mengonsumsi makanan, sering kali tubuhnya menolak hingga harus muntah.
Akibatnya, Damar kini mengalami gizi buruk hingga kondisi tubuhnya, tampak hanya kulit yang membalut tulang. Dengan keterbatasan ekonomi, pengobatan sebenarnya sudah dilakukan dengan program BPJS Kesehatan. Sedangkan Masdariansyah (15) merupakan warga RT 5, Gang Pelangi. Ia merupakan anak kelima dari delapan bersaudara. Ibunya adalah Masriani, sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia. Pertumbuhan Masdariansyah juga tak normal. Jika sedang menangis, tubuhnya membiru. Masdariansyah mengidap penyakit jantung bocor.
“Untuk Damar Andika, karena yang diserang adalah otak akhirnya menyebabkan kelumpuhan. Karena yang diserangnya adalah kekakuan otot dan sebagainya,” terang Nina Sukartini, bidan Puskesmas Loa Duri, Kecamatan Loa Janan.
Pihak puskesmas pun telah memberikan asupan makanan berupa pemberian makanan tambahan (PMT) kepada yang bersangkutan serta pemeriksaan kesehatan. “Untuk rawat jalan juga masih berjalan,” tambahnya.
Kedatangan tim medis dari puskesmas dan petugas Bhabinkamtibmas Loa Duri Ilir Aipda Endro Purwoko sempat mengejutkan pihak keluarga. Ini juga mengantisipasi anggapan penelantaran warga setempat. Mestinya Masdariansyah rutin untuk melakukan terapi dan penanganan medis. Hanya saja, pihak keluarga merasa tak mampu untuk membawanya berobat.
Salah satu kendala pihak pemerintah desa adalah, kedua keluarga bocah kurang beruntung ini beberapa kali berpindah domisili. Sehingga, pihak desa begitu kesulitan mendeteksi keberadaannya. Namun, kejelian anggota Bhabinkamtibmas Loa Duri Ilir, membuat petugas kembali mengetahui keberadaan dan kondisi keduanya.
“Dengan adanya sinergi dengan petugas kepolisian termasuk Bhabinkamtibmas tersebut, kami akhirnya juga sangat terbantu sekali. Saling berbagi informasi seperti ini misalnya. Dalam waktu dekat juga akan dilakukan pertemuan desa serta pendataan kondisi medis seluruh warga di Loa Janan, dimulai dari Desa Loa Duri Ilir,” tambahnya.
Sementara itu, Kapolsek Loa Janan AKP MD Djauhari mengatakan, kondisi sosial warga di Loa Janan, sudah semestinya masuk radar petugas Bhabinkamtibmas. Selain menjadi mata dan telinga, selanjutnya petugas Bhabinkamtibmas mesti melakukan komunikasi aktif sebagai langkah memberikan jalan keluar. Sesuai moto proactive policing yang diperkenalkan Kapolda Kaltim Irjen Pol Priyo Widyanto.
“Kami hanya menjalankan tugas saja. Petugas Bhabinkamtibmas kami mesti peka dengan persoalan sosial. Sehingga komunikasi dengan instansi terkait menjadi penting untuk memberikan jalan keluarnya,” ujarnya. (***/kri/k15)
Editor : wahyu-Wahyu KP