Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mengenang Migrasi Warga Tionghoa ke Balikpapan

adminbp-Admin Balpos • 2019-02-05 17:25:47
TEMPO DOEOLOE: Di area kilang minyak BPM yang beroperasi di tahun 1880-1920 inilah warga Tionghoa bekerja sebagai buruh. Sekarang kawasan ini dikenal sebagai Jalan Minyak. (NET)
TEMPO DOEOLOE: Di area kilang minyak BPM yang beroperasi di tahun 1880-1920 inilah warga Tionghoa bekerja sebagai buruh. Sekarang kawasan ini dikenal sebagai Jalan Minyak. (NET)

Balikpapan dikenal sebagai kota yang heterogen. Kota yang memiliki keanekaragaman budaya, bahasa, agama, hingga suku. Salah satunya, etnis Tionghoa. Mereka hidup rukun, berdampingan dengan masyarakat lainnya. Keberadaan mereka di Kota Minyak pun melalui sejarah yang panjang.

DIAH ANGGRAENI/BALIKPAPAN POS

MENYISAKAN rasa penasaran atas runutan sejarah kedatangan masyarakat Tiongkok ke Balikpapan, Balikpapan Pos pun menemui pengamat Tionghoa Balikpapan, Tjan Hariyanto Chandra. Ditemui di kantornya di kawasan Gunung Sari, mata Hariyanto jauh menerawang. Dia mencoba mengingat kembali masa kecilnya. Pria berusia 62 tahun ini masih ingat cerita mendiang ayahnya,Tjan Woen.

“Kalau berbicara tentang kedatangan warga Tionghoa di Balikpapan, maka kita harus flashback ketika sumur minyak di Balikpapan ditemukan,” ujar pengusaha alat tulis ini.

Dikatakannya, gelombang pertama kedatangan perantau dari daratan Tiongkok ke Balikpapan terjadi sekira abad ke-19 sejak ditemukannya sumur minyak, Mathilda. Sebelumnya, Balikpapan hanya perkampungan nelayan kecil. Etnis Tionghoa datang sebagai buruh kontrak untuk bekerja di Bataafsche Petroleum Maatschappij atau disingkat BPM, perusahaan minyak milik Belanda.

Saat itu, ada dua pelabuhan yang ramai digunakan warga Tionghoa untuk berlabuh. Pertama, dari pelabuhan di Sandakan, Sabah turun di Tarakan, Kalimantan Utara.  Kemudian ada yang turun di Makassar, Sulawesi Selatan kemudian menyeberang ke Balikpapan. Rombongan Tionghoa yang tiba di Balikpapan, kemudian menyebar. Ada yang ke Samboja, Samarinda, maupun Sanga-Sanga. Ada pula yang menetap di Balikpapan.

“Nah, kebetulan kakek dari bapak turun di Sanga-Sanga. Kakek dari ibu turun di Samboja. Jadi, sebelum kemerdekaan itu, pendatang dari Tiongkok menyebar ke beberapa daerah,” ujar pria kelahiran 15 November 1956 ini.

Mereka yang menetap di Balikpapan, tinggal di sekitar kantor BPM atau kini menjadi kantor Bank Indonesia. Di sanalah pusat permukiman warga Tionghoa. Namun, kemudian terjadi pertempuran antara Jepang, Amerika, dan Australia atau Perang Dunia II. Balikpapan mengalami kehancuran. Walhasil, warga Tionghoa memilih untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ada yang memilih ke wilayah lain di Balikpapan, ada juga yang pergi ke Samboja, Jenebora, dan lainnya.

Untuk wilayah Balikpapan, warga Tionghoa memilih kawasan Kebun Sayur dan Kampung Baru. Jumlah mereka pun semakin banyak pasca kemerdekaan. Warga Tiongkok yang memiliki latar belakang pedagang pun mulai berdatangan. Terbentuklah kantong-kantong permukiman di sana. Kawasan Kebun Sayur dan Pasar Inpres menjadi pusat perdagangan.

Di kawasan itu, mayoritas didiami oleh suku Konghu dan Jinmen. Suku Konghu yang terkenal mengandalkan keterampilan mendiami kawasan Kebun Sayur, Jalan Kilat, dan sekitarnya. Suku Jinmen tinggal di kawasan Kampung Baru, tepatnya di Jalan 21 Januari. Suku Konghu bermata pencaharian sebagai tukang kayu, montir, reparasi arloji, tukang jahit, dan tukang emas (pembuat perhiasan emas), sedangkan Jinmen bekerja sebagai pedagang.

“Kalau ditanya suku apa yang datang pertama kali ke Balikpapan apakah Konghu, Jinmen, atau lainnya, saya belum bisa memastikan. Tetapi, yang pasti, suku saya, suku Konghu ikut rombongan pertama,” jelas pria yang juga ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia Kota Balikpapan ini.

Saat ini, ia melanjutkan, keberadaan warga Tionghoa sudah menyebar di seluruh wilayah di Balikpapan. Banyak warga yang berpindah pasca kebakaran hebat sekira tahun 1970-an. Jumlahnya pun telah mencapai puluhan ribu. “Kalau untuk suku Koghu, jumlahnya kini mencapai 1.400-an kepala keluarga. Sedangkan warga Tionghoa yang ada di belakang Kebun Sayur dan Inpres, jumlahnya hanya sekira 600-an kepala keluarga,” ujar Hariyanto yang masih tampak bugar meski usianya sudah kepala enam.

Setelah warga Tionghoa tersebar di seluruh wilayah Kota Beriman, mereka mendirikan Perhimpunan Tionghoa Balikpapan (PTB) yang mengoordinasi empat paguyuban yang ada di Balikpapan yakni Paguyuban Hainan, Perkumpulan Harapan Insani, Perkumpulan Pintu Mas, dan Paguyuban Guangzhao. PTB ini adalah organisasi sosial kemasyarakatan. (*)

 

Editor : adminbp-Admin Balpos