SEJAK beroperasi tahun 1976, sudah diberinama dengan sebutan Bandara Kalimarau. Statusnya sebagai bandara perintis. Darimana nama Kalimarau itu diambil? Banyak narasumber menyebutkan itu diambil dari nama anak sungai yang mengalir di sekitar kawasan bandara. Namanya Sungai Kalimarau.
Sepuluh tahun sejak beroperasinya bandara ini, saya belum pernah ikut penerbangan. Pada awal beroperasinya, hanya ada pesawat MAF 506 dengan penumpang 5 orang dan 2 awak. Landasan pacunya hanya sekitar 650 meter. Kalau tak salah, di awal landasan pacunya menggunakan baja plat yang sering digunakan membuat bandara darurat.
Navigasinya belum secanggih sekarang. Bahkan, menurut cerita Pak Oetomo Lianto (Pak Aliang), untuk mengetahui kedatangan pesawat harus berdiri dulu di landasan pacu, sambil melihat ke arah datangnya pesawat. “Bila ada kode lampu, berarti pesawatnya tiba,” kata Pak Aliang.
Saya membayangkan bagaimana mobilisasi warga saat itu yang ingin mendapat angkutan cepat. Termasuk, membayangkan seorang bupati yang akan menghadiri berbagai pertemuan di luar daerah. Belum lagi, bila ada warga yang sakit, dan harus dirujuk ke luar daerah.
Lokasi Bandara Kalimarau yang pertama, tak jauh dari poros jalan Teluk Bayur. Berbelok sekitar 100 meter. Saya masih menjumpai bangunan terminal dan kantor yang masih digunakan sekarang. Beberapa kendaraan bandara yang parkir di tempat itu. Artinya masih difungsikan.
Yang saya hapal betul, adalah pohon mangga yang kini semakin besar. Sekitar pohon itu ada kantin. Kantin yang bisa berfungsi sebagai ruang tunggu keberangakatan dan kedatangan. Setelah pesawat mendarat, penumpang baru masuk ke ruang keberangakatan. Belum ada pemeriksaan X-Ray.
Melewati jalur sekitar bandara, pada jam-jam tertentu perlu hati-hati. Sebab, pesawat yang akan mendarat dari arah sungai biasanya terbang rendah. Karenanya, selain suara sirine yang nyaring, ditambah petugas yang khusus menjaga kendaraan jangan sampai ada yang lolos.
Barulah bertambah jumlah penerbangan sekitar tahun 1990. Ada pesawat Deraya, Pelita, Asahi dan pesawat Bali Air. Bali Air inilah yang ditangani oleh Pak Aliang. Bahkan banyak yang bilang itu milik Pak Aliang. Banyak yang ragu naik pesawat itu. Tapi, bila pilotnya Pak Gun, banyak yang merasa aman.
Kembali ke soal nama. Banyak yang menyebutkan nama Kalimarau dengan Kalibarau. Ucapan yang mirip. Kalau Kalimarau adalah nama sungai, sementara Kalibarau adalah jenis burung yang sering ditemukan di sekitar bandara. Yang umum disebut Cucak Rowo, warga Berau menyebutnya Kalibarau.
Kalau dulu, karena masih rimbun, banyak tempat bermainnya sang Kalibarau. Sekarang, selain tak rimbun dan suara bising pesawat, juga banyak pemburu Kalibarau. Burung bersuara merdu inipun menjadi hewan langka. Kalau juga ada, harganya mahal.
Beberapa warga Teluk Bayur bercerita bahwa kawasan yang ada di sekitar bandara itu sebagai lahan untuk berkebun. Pagi hari, mereka mengolah lahan menanam sayur mayur. Hasilnya dibawa ke Tanjung Redeb dan dijual di Pasar Batu (Sekarang Jalan Ahmad Yani).
Ada warga yang hanya punya hak untuk menggarap, tapi tidak ada hak memiliki. Ada juga sebagian warga yang mengklaim itu lahan garapan mereka sejak lama. Karena keberadaan lahan mereka sebelum pengembangan bandara, mungkin beberapa di antaranya sudah dilakukan pergantian lahan. “Bapakku dulu berkebun di sekitar situ,” kata Amben, pengusaha Sarang Burung Walet itu.
Belakangan ada yang mengusulkan pergantian nama bandara. Ada juga warga yang ingin tetap dengan nama itu karena historisnya. Ada nama Raja Alam, yang menjadi pilihan bila nama bandara Kalimarau harus berganti nama. Ini dengan pertimbangan bahwa hampir di setiap bandara di Indonesia, mengabadikan nama tokoh atau pahlawan yang berjasa. Raja Alam salah satunya.
Saya ingat Pak Ayit, pemilik pencucian mobil di Jalan APT Pranoto. Ia menyebut, mantan Bupati Masdar John punya jasa besar dalam pengembangan kota. Termasuk bandara Kalimarau. Iapun mengusulkan nama Masdar Jhon. Tinggal dipilih saja. Dengan masing-masing argumentasi.
Lalu antara Kalimarau dan Kalibarau bagaimana? Ya, tetap saja dengan namanya masing-masing. Kalimarau adalah nama anak sungai yang mengalir sekitar bandara dan masih terlihat antara landasan pacu dan apron sekarang. Kalibarau adalah Cucak Rowo yang sudah amat jarang kita bisa mendengar suara merdunya.(*/asa)
Editor : uki-Berau Post