Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Koi seharga Rp 27 M

uki-Berau Post • 2019-03-13 12:48:13

INI berlangsung di Jepang. Negara yang dikenal asalnya ikan Koi. Setelah sebuah kontes berlangsung, Koi jenis Kohaku keluar sebagai pemenang, lalu dilelang. Di saat putus harga akhirnya berhasil terjual senilai 203 juta Yen setara Rp 27 miliar.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk ikan Koi yang laku terjual dengan harga mencengangkan. Selain Koi yang laku terjual dengan harga selangit itu, ada juga yang tidak terlalu mahal. Ada ikan Koi yang diberinama Awan Petir karena warnanya dilego dengan harga Rp 100 juta. Sementara jenis lainnya dijual berkisar Rp 10 juta hingga Rp 60 juta.

Bukan karena harga selangit, sehingga saya membuat kolam di halaman rumah untuk memelihara ikan Koi. Hanya karena suka saja. Sebab, dari beberapa cerita teman, ikan koi katanya membawa keberuntungan, juga punya filosofis. Ikan yang selalu melawan arus. Itu sebagai sebuah prinsip. Dan di saat sang koi mati, maka ia pun akan terbawa arus. Bealive or not.

Koi dikenal di Indonesia sejak 50 tahun silam. Perkembangannya, banyak di wilayah Pulau Jawa terutama daerah yang memiliki arus air yang bagus. Air mengalir. Ada juga yang membudidayakan di tambak. Yang dikembangkan itulah yang menyebar ke mana-mana.

Di Jepang, Koi tidak hanya dilakukan budidaya secara besar-besaran karena memang punya nilai ekspor tinggi. Juga dibiarkan sebagai penghuni got. Saya pernah berkunjung ke daerah pedalaman di Jepang yang masuk wilayah Fukuoka, bersamaan dengan mekarnya bunga Sakura. Saya melihat bagaimana dengan leluasa bergerak ikan koi bermain di got. Haha, rasanya mau bawa pulang.

Sejak kecil, sebetulnya saya suka memelihara ikan. Dulu, ketika masih SMP di Makassar kami berkompetisi mengembangkan ikan jenis Koki. Pada ukuran tertentu, kami kumpul dan menjualnya di keluarga orang Jepang yang tinggal di Makassar.

Mungkin itu pula, sehingga saya putuskan membuat kolam di halaman rumah saya, untuk memelihara sekaligus membudidayakan ikan jenis Koi. Memang dibutuhkan kesabaran. Sebab, ketika memulai, tidak langsung berhasil. Banyak tantangan yang harus dihadapi.  Terutama pengelolaan air maupun listrik.

Saya memesan ikan dari Makassar maupun dari Semarang. Semua berlangsung lancar. Yang menyedihkan, ketika listrik tidak normal. Sementara ikan harus terus mendapat pasokan oksigen dari pergerakan air. Pernah seluruh isi kolam mengapung alias mati, gara-gara listrik padam dan saya tidak ada cadangan mesin pembangkit. Ya, saya mau nyalahkan siapa?

Belajar dari kegagalan, akhirnya waktu terus berjalan. Pesan lagi ikan yang dikembangkan petani Koi di Jawa Timur. Saya juga sudah siapkan mesin pembangkit agar bila listrik padam, mesin segera beraksi. Ikan di kolam pun tidak bakal kehabisan oksigen.

Ikan tumbuh besar dengan pemberian makanan berkualitas. Ada tanda-tanda ikan sedang. Harus belajar lagi, bagaimana mengembangkannya. Dan urusan mengembangkan menjadi wilayah kerja istri saya. Kolam 'persalinan' pun disiapkan. Alhamdulillah berhasil. Bisa dibayangkan bagaimana merawat bayi Koi yang sekecil jarum itu, diberi asupan makanan gizi tinggi. Setiap pagi diberi makan kuning telur rebus.

Sekarang memang jumlanya ratusan.  Sudah ada tiga kolam dengan ukuran dan usia yang berbeda. Pagi dan sore hari, pekerjaan memberikan makan adalah suasana yang paling menyenangkan. Pikiran menjadi tenang. Ikan Koi berlomba menyantap makanan yang ada di tangan.  Inilah saat-saat yang terindah dan mampu menghapus kegalauan. Hehe

Ikan Koi yang masing-masing punya nama itu, semakin tumbuh besar. Entah keturunan yang ke berapa. Jenis yang saya pelihara memang Koi lokal. Bukan koi yang secara khusus didatangkan dari Jepang. Saya pernah bertanya di kawasan penjualan ikan hias di Jalan Sumenep, Jakarta. Ampun, harga anakan ikan koi ukuran dua sentimeter saja sudah jutaan rupiah.

Saya juga tidak keberatan, bila ada yang berminat untuk membeli. Saya bisa melepas  dengan harga spesial. Tapi ada juga yang saya persiapkan untuk memberikan pada teman-teman yang mengelola lokasi wisata Tulung Ni Lenggo di Batu Putih. Tinggal bagaimana mengirimnya saja. Sebab, lokasi wisata di Telaga Biru itu semakin cantik bila dihiasi ikan Koi.

Suatu saat, saya akan mengembangkan ikan Koi yang asli dari Jepang. Siapa tahu, pengalaman memelihara joi lokal, menjadi panduan untuk jenis koi impor. Tak usah yang terlalu mahal, cukup yang ratusan juta rupiah saja, bila berhasil mengembangkan dan membesarkannya. Andai yang difoto itu adalah ikan koi impor, wow lumayan. Ukuran dan jenisnya sama dengan koi yang dijual Rp 27 miliar di Jepang. (*/asa)

 

 

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan