PELESTARIAN budaya lokal yang dilakukan oleh PT Anugerah Bara Kaltim (ABK) bersama Mitra Kerja, diantaranya PT Pama, PT RCI, PT NPI patut diaprsiasi.
Karena keempat perusahaan ini selalu support dalam berbagai kegiatan masyarakat yang mayoritas suku Dayak di Kaltim.
Terutama bidang pertanian. Ditandai dengan suksesnya upacara panen padi raya di Dusun Putak, Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) selama 2 hari, pada 20-21 Maret kemarin.
Program kebudayaan yang diprakarsai oleh tanggng jawab perusahaan atau CSR ABK-Mitra Kerja kedua kalinya ini berjalan lebih semarak dari tahun lalu.
Tampak warga begitu antusias dan suka cita saat prosesi panen tersebut. Acara itu diharapkan mampu menciptakan iklim wisata di Dusun Putak, yang di gadang-gadang menjadi suatu destinasi wisata baru di Kaltim.
"Biasanya CSR Perusahaan membangun infrastruktur, namun disini berbeda. Disini ada pembangunan kebudayaan dan pembangunan sumberdaya manusia (SDM). Saya mengapresiasi perusahaan yang ada di Kecamatan Loa Janan yang konsen terhadap pelestarian budaya lokal yang ada di Kukar ini. Seperti ABK dan Mitra kerja," jelas Kepala Dinas Pariwisata (Kadisbudpar) Kukar Dra Sriwahyuni saat seremoni petik padi kemarin didampingi para muspika, tokoh masyarakat dan manajemen perusahaan.
Diuraikannya, budaya lokal yang mulai terkikis ini jika tidak ada yang peduli melestarikan, dipastikan kebudayaan yang ada di lingkungan warga akan hilang.
Selain itu pihaknya mengapresiasi petani yang ada di Dusun Putak yang masih berladang padi. Ia menaruh harapan agar tahun depan bisa meningkatkan produktivitas padi yang selama ini digeluti.
Manajer CSR PT ABK, Agung Hasanudin, mengatakan padi yang ditanam oleh masyarakat setempat adalah padi Varietas Serai dan Mayas.
Padi khusus di lahan kering ini berbeda dengan varietas padi yang ditanam di lahan basah seperti sawah. Proses panennya juga berbeda, masyarakat Dusun Putak memanen padi dengan menggunakan ani-ani, yakni memetik helai demi helai.
"Disini juga didemonstrasikan proses pembuatan bahapm oleh warga. Yaitu makanan tradisional adat dayak yang terbuat dari ketan yang sengaja dipetik waktu masih muda namun sudah berisi," kata Agung.
Lanjut Agung, ketan yang dipanen itu kemudian disangrai bersama kulitnya. Setelah matang kemudian ditumbuk menggunakan lesung. Selanjutnya ditapis dan dibersihkan dari kulitnya.
Kemudian dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa. Makanan inilah sebagai sajian tradisional yang disuguhkan kepada pengunjung yang hadir pada saat panen raya itu.
Beber Agung, pendekatan yang dilakukan untuk melestarikan kebudayaan ini dengan menggandeng para generasi muda. Yakni melibatkan langsung mereka dalam upaya pelestarian.
Aksi nyata dari ABK-Mitra Kerja dari PT Pamapersada Nusantara, PT RPP Contractor Indonesia, dan PT Nusa Perdana Indah ini sudah membentuk sanggar tari. Bernama Gegoog Goraaq dan membangkitkan kembali kegiatan masyarakat yang memiliki nilai jual.
"Peran masyarakat dan pemerintah yang bersinergi dengan pihak swasta sanat penting kaitannya dalam upaya pelestarian budaya lokal. Sinergi dari ketiga pilar tersebut harapannya dapat membangun kembali kebudayaan-kebudayaan yang bernilai jual di bidang pariwisata.
Hal ini dianggap penting karena selain kebudayaan lokal setempat dapat tetap lestari, ada manfaat positif lain yang akan timbul. Yaitu akan tumbuh UKM-UKM yang sejalan dengan program kebudayaan ini. Seperti manik-manik, seni ukir, kuliner, home stay, gues house, dan sebagainya," ujar pria berbadan tegap ini.
I Ktut Aryanto, CSR Officer PT Pamapersada Nusantara mengatakan hal ini menunjukkan komitmen pihak swasta terhadap kebudayaan lokal yang ada di sekitar area operasional perusahaan.
Hidup berdampingan dengan masyarakat merupakan salah satu tujuan yang utama.
Sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan yang berada di area operasional. Hubungan yang baik seperti ini harapannya terus berlanjut sehingga menimbulkan manfaat positif bagi masyarakat setempat.
"Kebudayaan sebagai sarana pembangunan manusia pada era saat ini sangat diperlukan. Karena untuk meningkatkan daya saing setiap individu dan komunitas di era pembangunan industri 4.0," pungkas Ktut Aryanto.(adv/hry/pro3/one)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan