ADA dua tempat yang begitu membekas di hati banyak warga. Bagi yang sering menikmati perjalanan dinasnya ke Berau belasan tahun lalu, pasti mengenal Hotel Herlina. Begitupun dengan sebutan Tanah Seribu. Satu kawasan yang kabarnya aset Pemkab yang menyimpan kisah tersendiri.
Saya bukan hanya akrab dengan Hotel Herlina yang ada di Jalan Kartini, Tanjung Redeb, itu. Tapi juga kenal baik dengan pemilik dan anak-anaknya. Teman-teman saya yang tinggal di luar kota, sering bertemu di Hotel Herlina. Dulu, Pemkab juga sering menggelar acara di Hall sederhana sebagai salah satu fasilitas hotel.
Sebutlah beberapa hotel yang seangkatan dengan Herlina. Seperti Hotel Berlian, dan Hotel Kartika, Hotel Citra, serta Hotel Sederhana yang berada di Jalan Pangeran Antasari. Belakangan muncul hotel Berau Plaza yang juga dalam kawasan yang sama.
Tarif yang murah, lokasi yang dekat untuk ke mana-mana serta pelayanan kekeluargaan menjadi salah satu pertimbangan, mengapa Hotel Herlina menjadi salah satu pilihan. Ada yang khas, layanan sarapan paginya. Tamu sudah disiapkan segelas teh manis, kue Untuk-Untuk, nasi dengan lauk Bistik dan tidak ketinggalan pula sebutir telur penyu.
Saya pernah tinggal tak jauh dari Hotel Herlina. Salah satu rumah yang kini sudah dibangun Bankaltimtara. Tinggal bersama Pak Cucuk, anggota DPR dari Fraksi ABRI, waktu itu. Setiap pagi, kompak bersama beliau sarapan pagi di Herlina. Hahaha, sarapan gratis.
Kadang, bila ada teman-teman dari Samarinda yang kebetulan bermalam di Hotel Herlina, saya menemani ngobrol pagi atau sore hari. Saya pun bisa menikmati sarapan pagi dan santapan pada sore hari. Sesekali juga menghadiri acara pertemuan yang digelar di lantai dua hotel tersebut.
Ada dua bangunan. Satu bangunan utama, terdiri dari beberapa kamar. Juga ada bangunan di sebelah kiri, bagian bawah yang dibangun permanen, dan lantai dua itulah dijadikan ruang pertemuan. Juga ada beberapa kamar di bagian belakang.
Tampilan sekarang lebih cerah. Kini, hotel tersebut dikelola anak-anaknya, merubah tampilan warga dengan dominan warga hijau muda. Tak sulit menuju hotel ini, beberapa akses jalan terhubung ke Jalan Kartini. Bisa melalui Jalan Pemuda dan belok ke arah samping Bankaltimtara, dari Jalan Soetomo atau dari Jalan Pulau Derawan.
Saya sengaja mampir sebentar di depan halaman hotel untuk berfoto seorang diri. Beberapa deretan kendaraan parkir di halaman hotel. Kabarnya, tamu lebih banyak yang Long Stay. Kebanyakan tamu yang nginap dalam waktu lama itu, adalah karyawan perusahaan.
Nama lain lokasi yang cukup dikenal di masyarakat adalah sebutan kawasan Tanah Seribu. Beberapa teman menyebutkan lokasi Tanah Seribu, ada yang di sekitar kawasan Gedung Pemuda, depan BNI. Ada juga yang di Jalan Jenderal Sudirman.
Tapi, beberapa sumber lain menyebutkan bahwa sebetulnya Pemkab Berau dulu punya konsep besar dalam penataan kota. Semacam Masterplan. Ada badan otoritas Tanah Seribu yang merupakan program kegiatan pengembangan Kota Tanjung Redeb yang digagas oleh Bupati H Masdar John (almarhum), Bupati keempat setelah Raden Ayoeb (alm), Yunuzal Yunus (alm), Jayadi (alm) dengan membebaskan lahan untuk pembangunan kota. Dan yang pertama dibangun adalah kantor bupati dan rumah jabatan seperti yang ada sekarang.
Otomatis jalan pertama adalah jalan menuju kantor bupati yakni Jalan SA Maulana, Jalan APT Pranoto yang dimulai dari titik nol di strat bundar. Kegiatan ini dimulai pada medio tahun 1974. Pusat kendali kegiatan di lokasi Tanah Seribu dan di situ ditempatkan kantor Pekerjaan Umum (PU) dipimpin Halid Musawwa, dan Kasubdit Pembangunan dipimpin H Abdul Syukur, sekaligus di lokasi tesebut ada tempat yang dinamakan operation room. ?Itu historisnya,? kata Pak Kafrawi, salah seorang mantan pejabat Pemkab Berau yang kini telah purna tugas.
Tanah Seribu yang di depan BNI, dulu ada bangunan kayu yang sudah tua, sempat dijadikan arena rumah biliar. Sekarang sudah dirobohkan. Beberapa rumah sudah dibangun permanen. Ada juga bangunan yang sudah bersertifikat. Saya tidak tahu apakah bangunan itu masuk kawasan Tanah Seribu.
Pasca terjadinya kebakaran yang menghabiskan bangunan Gedung Pertemuan Umum (BPU), sempat muncul gagasan akan dibangun hotel. Bahkan, halaman yang dulu ditempati warung tenda, kini sudah bersih dan lahannya di Paving Block. Kini dipenuhi baliho Caleg. Sampai sekarang belum jelas, bagaimana pemanfaatan lahan itu di masa mendatang. Bisa jadi akan dimanfaatkan sebagai kawasan pusat perbelanjaan yang serba ada alias Pujasera.(*/asa)
Editor : uki-Berau Post