Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Makam Tua di Tepi Sungai

uki-Berau Post • Kamis, 4 April 2019 | 12:29 WIB

TAK banyak informasi yang bisa didapatkan tentang keberadaan makam tua yang ada di wilayah Gunung Tabur, Berau. Siapa saja yang melintasi alur sungai menuju muara, pastilah melihat makam tersebut. Asal muasalnya hanya didapatkan informasi dari penuturan warga.

Saya juga termasuk orang yang baru pertama kali berkunjung ke lokasi makam tersebut.  Padahal, setiap melintasi Sungai Segah atau melewati kawasan Pasarakan (Pertemuan Sungai Segah dengan Sungai Kelay), perhatian pasti tertuju ke makam tersebut.

Dari bentuk dan kompleks makam itu, dipastikan makam tua ini adalah makam warga Tionghoa. Kawasannya tidak terlalu luas, masih terawat dengan baik. Ada pendopo yang dibangun, dan di salah satu tembok bertuliskan tanggal pembangunan kompleks pemakaman tersebut, yakni 1 April 1973. Artinya, usia perbaikan pekuburan itu sudah sekitar 46 tahun silam.

Saya mencermati dua nisan di makam yang ada. Saya sangat kesulitan membacanya. Saya yakin, bila bisa membacanya, akan ada informasi awal yang bisa saya dapatkan. Ada teman saya dari Surabaya, usianya sekitar 40 tahun. Ketika saya perlihatkan tulisan di nisan itu, langsung geleng-geleng kepala.

Termasuk pemilik warung kopi Hoky, juga saya tanyakan arti tulisan Cina di batu nisan itu, juga tidak tahu. Dan beberapa lagi warga Tionghoa yang ada di warung kopi Hoky, kemarin (3/4), kompak menyebut tidak tahu. Andai saja tetangga saya yang biasa dipanggil Guru Pendek masih hidup, maka tidak sulit menerjemahkan tulisan itu. Beliau adalah guru bahasa Cina.

Tapi, ada dua makam yang bisa saya jadikan petunjuk. Yang satu makam atasnama Kam Bun Seng, tertulis wafat pada 10 Desember 1902. Nisan yang satunya lagi tertulis atasnama Liem Dan Tuij yang wafat pada 20 November 1901. Saya meraba-raba saja, karena posisinya berdampingan, mungkin makam tersebut suami istri. Tanggal wafatnya selang setahun.

Melihat tahun wafatnya inilah, saya menyimpulkan kawasan makam ini sudah terbilang tua.  Sebab, bila dihitung sekarang usianya sekitar 118 tahun. Tapi siapakah pemilik makam tersebut. Atau siapakah keluarga sepasang suami istri yang dimakamkan di situ. Wafat dan dimakamkan lebih dari seabad. Lebih dari 4 makam.  Lainnya, hanya berupa nisan kayu, dan yang lainnya nisan terbuat dari batu yang belum bersemen.

Dan mengapa memilih tempat itu untuk pemakaman. Bisa jadi, atas seizin kesultanan Gunung Tabur, sebab kawasan itu masih masuk wilayah Gunung Tabur. Mengapa harus di tepi sungai? Tentu ada pertimbangan dan alasan yang jelas. Tapi lagi-lagi saya kekurangan informasi akan hal itu.

Ada cerita bahwa selain makam tersebut, kabarnya ada keluarga asal Belanda atau Perancis yang pernah menjelajah di Berau untuk mencari makam keluarganya. Sebab, dalam salah satu Novel diceritakan lokasi kematiannya. Dan itulah yang dijadikan petunjuk. Akhirnya ditemukan dalam kawasan itu. Katanya di pinggir sungai, tapi saya cermati tak ada makam lainnya.

Sayangnya, makam Kam Bun Seng dan Liem Dan Tuij, tidak tertera tanggal lahirnya. Tapi, saya percaya bahwa kedua makam tersebut merupakan bagian dari sejarah pertama masuknya warga Tionghoa di Berau. Apakah datang sebagai pedagang atau datang karena alasan lainnya.

Waktu itu, pasti belum ada angkutan bermotor. Sebab, menurut Pak Oetomo Lianto (Pak Aliang) warga Tionghoa yang masuk ke Berau dulu hanya menggunakan perahu layar.  Sebelum masuk Tanjung Redeb, mampir dulu di Pulau Balikukup, menyusuri Bidukbiduk dan kemudian masuk di Tanjung Redeb. Mungkin saja Kam Bun Seng juga demikian, proses tibanya di Berau.

Walaupun saya kesulitan mencari kerabat ataupun keturunan dari makam tersebut, makam ini bagian dari sejarah Berau. Ketika beberapa tahun menetap di Berau. Saya juga masih sempat melihat keluarga Tionghoa yang usianya lebih dari 100 tahun. Sudah di atas kursi roda karena ukuran kaki yang kecil.

Puncak perayaan Ceng Beng hari Jumat (5/4) besok, kompleks makam ini juga menjadi salah satu kunjungan warga Tionghoa untuk melakukan sembahyang untuk para leluhur mereka. Sementara saya juga terus mencari tahu kisah dari makam tersebut. Mungkin saja, pada saat puncak Ceng Beng nanti, ada anak ataupun cicit yang datang untuk sembahyang untuk leluhurnya di makam ini. Bagi warga Tionghoa, saya ucapkan selamat merayakan Ceng Beng. (*/asa)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan