Tuntas menjalankan tugas. Penuh perjuangan dan menguras tenaga. Demi sumpah yang terucap, mengemban amanah rakyat. Kota Tepian kembali berduka. Salah satu pemudanya, Wahyu Saputra, pejuang demokrasi yang merupakan ketua KPPS 139 meninggal dunia.
DWI RESTU, Samarinda
CEKATAN, mudah bergaul, dan rajin. Wahyu panggilan akrabnya. Usianya 28 tahun. Sangat muda dan berenergi meski tubuhnya tinggi dan gempal. Jarang dia menghabiskan waktu di rumah. Tapi dia tak abai dengan tanggung jawab seorang anak yang sudah dewasa.
Pelesiran ke mana-mana, mencari hal-hal baru, bertemu teman anyar, dan yang paling tak bisa ditinggal, yakni “wisata” kuliner. Sayang, Allah ingin lebih cepat bertemu dengannya. Selasa (14/5), tepat 10 menit setelah azan Magrib, pemuda tangguh itu pergi dengan tenang.
Tak habis semalam mengenang cerita Wahyu. Kaltim Post menyambangi rumah duka. Bertemu Agus Dwi Setiawan, adik almarhum. Satu-satunya. Matanya masih berkaca-kaca. Begitu pula kerabat lainnya. Yang setia memotivasi Agus.
“Kami masih enggak percaya. Sore itu masih sempat bercanda. Tapi itulah kehendak Allah,” ujar Asmadi, kerabat Wahyu yang paling sering diajak bercanda.
Alm Wahyu Saputra
Harian ini bahkan harus menunggu hingga lepas tengah malam sembari menanti waktu sahur untuk bisa berbincang santai. Suguhan kopi panas serta makanan ringan menambah kehangatan malam itu.
Agus bercerita, hal yang tak bisa dia lupakan dari mendiang kakaknya adalah bercandanya. “Suka dia begitu,” tuturnya.
Namun, hal lain yang tak juga bisa dilupakan adalah kebiasaan kakaknya yang senang kulineran. “Almarhum kalau ada makanan baru di Samarinda, biar jauh pasti didatangi,” sambungnya. Tak cukup sekadar mencari kuliner, Wahyu kerap mengunggah foto-foto makanan baru ke grup di media sosial. Tak lupa pula catatan makanan dan review rasanya.
Kesehariannya, Wahyu membuka jasa perbaikan barang elektronik. Termasuk install ulang komputer atau laptop. Satu hal yang Agus pahami dari sistem kerja kakaknya, yakni selalu pasang target.
“Jadi kalau ada orang minta perbaikan, harus hari itu juga selesai,” tuturnya. “Dia (almarhum) juga bukan orang yang tipikal menunda pekerjaan,” terangnya.
Wahyu punya jiwa sosial yang tinggi. Dia kerap jadi inisiator di tempat tinggalnya. “Termasuk pemuda yang peduli dengan lingkungan tinggalnya,” sambar Asmadi yang malam kemarin duduk di samping Agus.
Perihal pemilu, kinerja Wahyu tak perlu diragukan. Dia kembali ditunjuk sebagai ketua KPPS di TPS 139. “Sudah sering ikut panitia pemilu,” sebut Asmadi.
Sejatinya, Wahyu enggan lagi terlibat di panitia Pemilu 2019. Bentuk tanggung jawab sebagai pemuda yang sudah andal dalam pesta demokrasi, membuat panitia tak banyak pilihan. Pemilu 17 April lalu, Wahyu bahkan sudah ada di TPS sejak pukul 06.00 Wita. Hari itu dia hanya makan sekali. “Saat sarapan. Makan nasi kuning, dan itu juga enggak habis,” cerita Asmadi.
Selama sehari itu pula, kakak kandung Agus itu fokus menyelesaikan tugasnya. “Kami kalau enggak disumpah, sudah bubar. Sebab itu amanah, makanya kami semua ikhlas bertugas,” sambungnya.
Asmadi paham sekali tentang Wahyu. Rekannya itu tak pernah mengeluh soal sakit. Almarhum selalu menunjukkan dirinya tak lelah. Di TPS tempatnya bertugas hari itu, baru selesai menjelang salat Subuh. Putra sulung pasangan Setiyono (50) dan Supina (48) itu benar-benar teruji kerjanya.
Aktivitas Wahyu memang benar-benar padat. Dia bahkan tergabung di banyak komunitas di Kota Tepian. Alumnus SMA 2 Samarinda itu bahkan digelari Benzema. “Biar badannya besar, kalau main futsal itu lincah, sering cetak gol,” ujar Agus.
Dia bercerita, pertama kali kakaknya dibawa ke rumah sakit setelah terjatuh tak jauh dari kediamannya. Dibawa ke RSUD AW Sjahranie. Namun tak sampai menginap. Beberapa hari setelahnya, kondisi almarhum yang sempat membaik kembali sakit. Keluarga memutuskan dirawat di RS Dirgahayu.
Kerap bolak-balik rumah sakit, beberapa hari sebelum Wahyu meninggal, Agus sempat diajak bicara oleh dokter. Diberi tahu, terjadi gagal ginjal di tubuh Wahyu. Selain itu, pembengkakan jantung, komplikasi.
Agus sudah melihat nafas kakaknya tak beraturan. Wahyu dilarikan ke ruang intensive care unit (ICU). Selama 10 menit tim medis berusaha, Wahyu akhirnya mengembuskan nafas terakhir. “Perginya enggak susah, senyum pula,” tuturnya. Agus menegaskan, keluarga sudah ikhlas kepergian almarhum, dan menganggap tak ada urusannya lagi dengan politik.
Dari catatan Kaltim Post, khusus di ibu kota Kaltim, Wahyu menjadi petugas KPPS keempat yang meninggal dunia setelah menjalankan tugas. Sebelumnya, Dany Faturrahman (41) yang bertugas di TPS 03 di Jalan Biawan Gang Semangat RT 7, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Samarinda Ilir, meninggal dunia pada Kamis (18/4) pagi.
Petugas KPPS lainnya yang juga meninggal dunua adalah Wuri Wulansari, ketua KPPS 3, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang. Wuri meningggal dunia Kamis (25/4), sekitar pukul 23.30 Wita. Setelahnya, Jumat (10/5) lalu, Suharto yang bermukim di Gang Tanjung, RT 17, Kecamatan Samarinda Kota, juga menghadap Sang Khalik. (***/dwi)
Editor : izak-Indra Zakaria