Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

DEKAT LEBARAN..!! Dua Kecamatan di PPU Terendam Banjir

izak-Indra Zakaria • Senin, 3 Juni 2019 - 21:09 WIB

Lantaran hujan menyapa dengan durasi tak sebentar, dua kecamatan di PPU tergenang banjir. Ratusan KK harus merasakan dampaknya.

 

PENAJAM–Bencana banjir kembali melanda Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Sabtu pagi pekan lalu. Penyebabnya, hujan dengan intensitas cukup tinggi dengan durasi lama. Apalagi  bersamaan dengan tingginya pasang air surut (pasut) air laut. Hasilnya dua kecamatan terendam banjir. Yakni Kecamatan Penajam dan Waru.

Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, air mulai menggenangi sebagian wilayah di dua kecamatan tersebut sejak pukul 05.00 Wita. Di Kecamatan Penajam, daerah yang tergenang berada di Kelurahan Petung. Lokasinya Jalan Cengkeh meliputi enam rukun tetangga (RT). Mulai RT 04, 05, 06, 14, 15 dan 16. Dengan tinggi muka air rata-rata 50 sentimeter (cm) di halaman. Tak hanya itu, dari data yang ada sebanyak 194 rumah tergenang.

Perinciannya, di RT 04 sebanyak 9 rumah (9 KK), lalu RT 05 ada 15 rumah (15 KK), RT 06 sebanyak 37 rumah (37 KK), RT 14 sebanyak 70 rumah (70 KK), RT 15 sebanyak 23 rumah (23 KK) dan RT 16 sebanyak 20 rumah (20 KK). Serta di RT 10, TMA mencapai 40-70 cm. Sebanyak 40 rumah (40 KK) turut terendam. “Selain itu, sarana prasarana umum, SD 017 Penajam, Masjid Nurul Huda, dan Puskesmas Petung ikut terkena dampak,” kata Nurlaila, kepala Sub Bidang (Kasubid) Logistik dan Peralatan BPBD Kabupaten PPU kepada Kaltim Post kemarin.

Menurut dia, penyebab banjir ini karena drainase terlalu kecil. Selain itu, banyak sampah rumah tangga yang mengakibatkan parit di sepanjang perumahan rigid di RT 10 Kelurahan Petung jadi tersumbat. “Makanya, butuh pelebaran drainase utama dan drainase di wilayah permukiman,” imbuhnya.

Selain Kelurahan Petung, ada juga Desa Girimukti di Kecamatan Penajam yang ikut terendam. Berada di RT 12 dengan TMA 50 cm di dalam rumah. Meskipun demikian, hanya ada satu rumah yang dilanda banjir.

Sementara itu, di Kecamatan Waru, ada dua kelurahan yang terendam banjir. Yakni, Desa Apiapi dan Desa Bangun Mulya. Di Desa Apiapi, penyebabnya karena banyaknya tumbuhan dan sampah rumah tangga. Sehingga menghambat laju aliran air. Berada di RT 04 dan RT 07 dengan TMA rata-rata 50 cm di dalam rumah. Membuat tujuh rumah (10 KK) terendam. Sedangkan di Desa Bangun Mulya RT 06 dengan TMA 40–50 cm, 10 rumah terdampak (10 KK). Penyebabnya, ada penempatan bangunan proyek provinsi. Berupa gorong-gorong yang cukup kecil dan tidak sesuai debit air di wilayah tersebut. Membuat tidak lancarnya jalur air. Sebab, tidak dapat menampung debit air. Sehingga, membutuhkan normalisasi pada saluran air di wilayah tersebut. “Pada hari yang sama, secara umum kondisi air sudah surut di semua titik banjir,” ungkap perempuan berkerudung tersebut.

Kondisi serupa kembali terjadi pada Ahad pagi kemarin. Sekira pukul 06.00 Wita, luapan air yang cukup tinggi dari area DAM dan pegunungan membuat sebagian Kecamatan Waru terendam. Kondisi tersebut diperparah dengan tinggi pasut air laut. Daerah terkena dampak berada di Kelurahan Waru Kecamatan Waru RT 22 dengan TMA sekira 30 cm di halaman rumah pada pukul 06.00 Wita. Lalu di RT 29 dengan TMA berkisar 30–70 cm di dalam rumah. Sebanyak 15 rumah dengan jumlah 12 KK dan 44 jiwa jadi korban. “Penyebabnya kurang lancarnya aliran air. Banyak rerumputan di saluran drainase. Apalagi lebarnya gorong-gorong kurang sehingga menghambat laju air. Makanya perlu adanya normalisasi,” terang Nurlaila.

Sedangkan di RT 05 Desa Sesulu dengan TMA kurang lebih 30 cm di halaman rumah disebabkan tumbuhan semak, khususnya di area drainase. Sehingga menghambat lajunya air diperlukan normalisasi. “Kami berharap malam ini (kemarin) tidak hujan. Sehingga genangan air bisa segera surut,” tutupnya. (*/kip/ypl/k16)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#penajam