PERIBAHASA menyebutkan, ‘Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama’. Tidak ada manusia yang hidup abadi, ketika seseorang sudah meninggal atau menyelesaikan suatu tugas besar dalam hidupnya, maka orang tersebut akan dikenang karena dua hal, yakni karena jasa-jasanya, karena warisan positifnya, atau sebaliknya, seseorang dikenang karena kesalahan-kesalahannya atau karena keburukannya. Tentu tidak ada manusia yang ingin meninggalkan keburukan, semua manusia ingin meninggalkan warisan kebaikan bagi generasi penerus.
Legacy adalah warisan atau peninggalan. Legacy adalah nilai utama kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang pemimpin, yang membedakan apakah pemimpin tersebut seorang pemimpin sejati atau hanya sekedar seorang penguasa. Pemimpin sejati akan meninggalkan legacy kepada masyarakatnya, legacy yang akan terus dikenang sekalipun sang pemimpin sudah tidak lagi memimpin. Pemimpin yang mempunyai legacy menjalankan nilai dan prinsip yang akan ditransformasikan dalam bentuk kebaikan dan kemanfaatan.
Orang-orang besar selalu meninggalkan legacy. Legacy yang ditinggalkan pun komplet, mulai dari nilai-nilai filosofi sampai kepada warisan yang lebih konkret di masyarakat atau bangsa. Sebut saja Ki Hajar Dewantoro, yang mewariskan falsafah kepemimpinan ‘Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani’.
Di depan kita memberi contoh atau teladan, di tengah kita membangun prakarsa dan kerja sama, di belakang kita memberi daya, semangat dan dorongan. Para tokoh bangsa dari kalangan Ulama juga mewariskan legacy. Persyarikatan Muhammadiyah adalah legacy dari KH. Ahmad Dahlan, sebuah Ormas Islam yang bergerak di bidang keagamaan, pendidikan dan sosial. Demikian juga Nahdlatul Ulama, legacy dari KH. Hasyim Asy’ari. Kedua Ormas tersebut mempunyai ribuan lembaga pendidikan, ratusan rumah sakit dan juga Lembaga-lembaga sosial lainnya.
Pada tataran pemimpin negara Bung Karno meninggalkan legacy Tri Sakti yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya. Pak Harto yang mendapat julukan Bapak Pembangunan meninggalkan legacy Trilogi Pembangunan yaitu stabilitas nasional yang dinamis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Demikian seterusnya, setiap pemimpin baik pada level nasional, daerah maupun lingkup yang lebih kecil lagi, selalu meninggalkan legacy.
Tentu legacy tidak mesti berupa sesuatu yang bersifat monumental. Legacy ada pada kemanfaatan yang luas dan dalam kurun waktu yang lama. Semakin luas jangkauan dan cakupan pihak-pihak yang mendapat manfaat, maka legacy semakin mempunyai nilai. Semakin lama rentang waktu kontribusinya maka legacy tersebut semakin mempunyai makna.
Bahkan saking pentingnya setiap orang agar supaya bisa meninggalkan legacy, Rasulullah SAW bersabda, ‘sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi hari kiamat maka hendaklah dia menanamnya’ (HR. Imam Ahmad).
Legacy tentu tidak muncul begitu saja, legacy harus digagas. Dalam konteks pemimpin, legacy dihasilkan oleh model kepemimpinan yang visioner. Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan, mensosialisasikan, mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial di antara anggota organisasi dan stakeholders yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus dicapai melalui komitmen semua personel.
Setiap pemimpin harus selalu berpikir tentang hal-hal yang besar, membuat narasi besar. Setiap pemimpin harus punya konsep yang benar, berproses secara konsisten, mempunyai motivasi yang tinggi serta melakukan semua hal tersebut secara kontinu. Ini mindset yang harus dimiliki semua pepimpin.
David J. Schwartz dalam karyanya Berfikir dan Berjiwa Besar mengatakan, ‘Anda adalah apa yang anda pikirkan mengenai diri anda. Berpikirlah bahwa diri anda lebih besar, maka anda pun menjadi lebih besar’. Ketika memulai bekerja, maka setiap pemimpin harus percaya bahwa dia akan berhasil, maka dia pun akan benar-benar berhasil.
Orang yang konvensional dalam memimpin akan menjalankan kepemimpinannya secara normatif, punya kecenderungan ingin dihormati dan dipuji serta ingin dilayani. Sementara pemimpin sejati akan menjalankan kepemimpinannya dengan rendah hati, melayani, kreatif dan inovatif serta mampu meninggalkan legacy.
Setiap orang adalah pemimpin, siapa pun dia, apapun profesinya dan pada level manapun tingkatannya. Karena itu, mari kita tinggalkan legacy pada setiap level kepemimpinan kita. Rasulullah SAW bersabda ‘Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung-jawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung-jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan dia pun akan dimintai pertanggung-jawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung-jawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung-jawabannya’ (HR. Bukhori).
*) Lurah Tanjung Redeb
Editor : uki-Berau Post