Sampah merupakan barang sisa yang tidak dibutuhkan lagi oleh manusia. Tak jarang, hal ini kerap menimbulkan permasalahan yang tidak kunjung usai. Namun ada yang berbeda, tangan kreatif seorang wanita lansia asal Sangatta Selatan, dimana ia mampu menyulap sampah menjadi barang mahal.
SANGATTA - Omih namanya, nenek berusia 64 tahun yang menetap di jalan Gunung Teknik Atas RT 04 Desa Sangatta Selatan ini hobi bergelut dengan sampah, baik organik maupun non organik.
Di tangannya yang mulai keriput itu, barang sisa bisa berubah menjadi lebih berharga. Dia telah menciptakan ratusan jenis karya, seperti membuat meja dan kursi yang mampu menanggung beban hingga 70 kilogram. Hebatnya, kedua benda itu hanya terbuat dari koran bekas.
Perempuan yang memiliki 20 cucu itu mulai menjadi pengrajin sampah sejak 2007 lalu. Berbekal dari pelatihan daur ulang sampah di Yogyakarta, yang difasilitasi oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) itu menjadi modal yang mengantarnya hingga meraih beragam penghargaan. Terlebih saat ini di Sangatta hanya ia dan satu rekannya saja yang masih menggeluti kerajinan ini.
Di Kutim sendiri, jumlah sampah plastik dari limbah rumah tangga cukup banyak. Sehingga, dia beritikad menularkan ilmu untuk mengajak tetangga lebih kreatif.
"Saya miris melihat pemukiman banyak sampah, makanya saya ajak tetangga terdekat untuk mengubah plastik bekas menjadi tas hingga vas bunga, yang mana berasal dari sampah plastik, koran, kertas, bekas produk kemasan dan sampah lainnya," katanya.
Beranjak dari pengetahuan pelatihan tersebut, Omih mendapat banyak teman yang akhirnya bergabung menjadi pengrajin dengan keahliannya masing-masing.
Sejumlah kendala ia ceritakan, seperti musim penghujan yang sangat memengaruhi. Sebab, pembuatan daur ulang koran yang tersulit bukan mencetaknya, namun proses pengeringan yang sangat bergantung pada panas matahari. Sehingga dia bisa menciptakan beragam jenis daur ulang setiap harinya, namu jika hujan tiba, omih tidak dapat mengeringkan produk, sehingga pekerjaan terhitung melamban.
“Sebenarnya sekira 10 tahun lalu banyak sekali yang diberi pelatihan. Namun hanya beberapa orang yang masih bertahan. Semuanya punya bidang keahlian masing-masing,” ungkapnya.
Dilanjutkan Omih, kecintaannya terhadap daur ulang semata karena ingin mengurangi volume sampah di Kutim. Selain itu, dapat mempererat tali silaturahmi hingga menghasilkan pendapatan untuk menambah perekonomian keluarga.
“Saya masih senang bertahan pada kegiatan seperti ini. Biasanya kami memproduksi barang di rumah masing-masing. Ada yang mengolah sampah, seperti botol plastik, bungkus makanan, hingga koran bekas, kemudian diubah menjadi kerajinan mulai dari vas bunga, tempat sampah, dompet, tas, piring, jam, kursi, meja hingga berbagai produk kerajinan lainnya,” paparnya.
Ia pun berharap kegiatan seperti ini mampu mengembangkan potensi yang ada. Selain itu para pemuda mampu memanfaatkan waktu lebih berguna.
“Lebih baik saya mendaur, kegiatannya jelas positif. Lagi pula banyak manfaatnya. Daripada saya bermain di tempat tetangga. Alhamdulillah, jika dikalkulasi omzet saya selama ini sudah mencapai ratusan juta,” tutupnya. (*/la)
Editor : izak-Indra Zakaria