Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Semangat Bajakah

uki-Berau Post • 2019-09-23 12:54:40

HARUS belajar banyak dengan warga Kampung Tepian Buah. Tak terdengar suara merintih karena panas. Tak terdengar keluhan karena haus. Yang mereka lakukan, bagaimana agar api yang membakar lahan miliknya bisa segera dipadamkan.

Lebih dari sepekan asap mengepung hingga ke Tanjung Redeb. Bandara pada hari Sabtu (21/9) masih belum didarati pesawat. Katanya asap kiriman dari kabupaten tetangga. Ada juga yang bilang, dari kecamatan tetangga. Asap dua tetangga jadi satu. Bertemu di atas udara Tanjung Redeb.

Bupati dan wakilnya bergantian mendatangi titik api. Saya lihat dari foto-foto yang tersebar di media sosial. Jadi penasaran. Mau juga rasanya ikut memadamkan api di antara warga. Meskipun hanya menarik selang air.   Atau memegang ujung selang dan menyemprotkan air ke arah titik api.

Saat Wakil Bupati Agus Tantomo ke Segah, saya menyusul. Tak bisa mengikuti laju kendaraan yang ditumpangi Pak Agus. Mobil saya, hanya bisa kecepatan 60 km per jam. Pendingin udaranya tidak berfungsi. Yang berembus malahan udara yang panas.

Ada banyak titik api yang terlihat dari kejauhan. Yang mana harus didahulukan. Akhirnya bertemu juga. Pak Thamrin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang sudah sejak pagi ada di lokasi.  Ada petugas polsek dan koramil. Ada warga yang sibuk membantu unit kendaraan menyedot air yang ada di sekitar lokasi.

Semakin mengeluhkan udara panas. Semakin terasa panasnya. Saya coba seperti warga yang ikut. Tidak mengeluh, hanya keringatnya yang bercucuran. Pak Thamrin terlihat lelah sekali. Ia harus menjadi komando lapangan.

Pak Agus Tantomo di mana? Rupanya beliau sudah ada di dalam hutan. Ikut menyeret selang yang panjang. Lalu menyemprot. Belum lagi selesai, muncul asap dan api yang baru di bagian lain. Ada kendaraan perusahaan perkebunan yang ikut diturunkan.

Memang repot. Yang terbakar itu lahan gambut. Apinya merayap dalam lapisan yang tidak terlihat. Tiba-tiba muncul. Karena gambut inilah, sehingga titik api menjadi banyak. 

Ada titik api yang tidak terjangkau oleh selang yang sudah tersambung hingga lima gulung. Pak Rudi Mangunsong, anggota DPRD dan Pak Haji Nurung juga anggota DPRD, ikut berjibaku bersama masyarakat.

“Kami sudah seminggu ini sibuk sejak pagi,” kata Bu Surya Emi, Kepala Kampung Tepian Buah. Saya hampir tidak mengenalnya. Ia berbaju hitam ketat. Sama dengan saya berbaju hitam. Di pinggangnya ada parang (Mandau). Wajah Bu Emi berubah menjadi merah.

Awalnya tidak terlihat. Beberapa lokasi ditempatkan tandon air. Tak lama, muncul belasan emak-emak dari balik belukar. Di pundaknya ada tangki air yang biasa digunakan untuk menyemprot hama. Kali ini bukan untuk menyemprot hama, tapi berfungsi memadamkan api. Isinya sekitar 15 liter air. Setelah habis, ia keluar lagi untuk mengisi.

Seakan paduan suara. Saat tiba di tempat pengambilan air, mereka kompak tersenyum bersama Bu Emi. Sama sekali tidak ada keluhan haus. Di tangannya, ada kayu dalam potongan sekitar 30 sentimeter.

Sayapun mendekati. “Ibu-ibu tidak haus?” kata saya. Serentak lagi emak-emak itu menjawab, “Kami semangat Bajakah,” kata mereka, sambil tertawa lebar. Saya baru sadar. Bajakah bagi warga Dayak, adalah ‘gentong’ air bagi mereka.

Ia tak perlu membawa air mineral. Saat berada di hutan, cukup memotong akar Bajakah dan airpun mengucur. Itulah air minum yang memberi semangat selama memadamkan api. Dan potongan Bajakah yang diambil dari dalam hutan, lalu diserahkan pada saya. Ada empat potong.

Usai mengisi air, emak-emak itupun kembali menghilang ke dalam hutan. Sedang Bu Emi, juga bolak-balik memberikan arahan pada warganya. Ia juga memperingatkan agar saya hati-hati. Ada beberapa tegakan pohon yang akarnya sudah terbakar. Saya diminta untuk menjauh.

Saya tahu persis, Pak Agus Tantomo itu kakinya bermasalah. Saat masuk ke dalam hutan, ia seperti melupakan masalah. Beberapa kali terperosok. Kakinya menginjak batang yang lemah. Untung keseimbangan badan masih bagus. Tidak ikut terguling.

Pak Agus ingin sekali api segera padam. Ia sedih, aktivitas masyarakat terganggu karena asap. Anak sekolah harus diliburkan. Aktivitas bandara terganggu. Wisatawan yang datang dengan angkutan udara juga terhenti.

Ketika bergerak pulang, di sekitar Labanan hujan tiba-tiba turun dengan lebat. Saya bersyukur. Moga saja hujan juga membasahi kawasan yang sedang terbakar. Saya ingat, di lokasi tadi, di sela-sela pemadaman, ada emak-emak yang menugal. Ia menanam biji timun. “Ini sekalian doa supaya turun hujan,” kata emak-emak itu.

Rupanya doa emak-emak itu terkabul. Emak-emak yang tak pernah mengeluh kehausan.  Emak-emak yang sudah meninggalkan rumahnya sejak pagi. Memanggul tangki kecil di pundaknya yang berisi 15 liter air. Emak-emak yang memberikan pada saya potongan akar Bajakah.

Supaya sama seperti mereka. Semangat Bajakah. Air yang berkhasiat, yang disiapkan oleh alam. (*/udi)

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan