KENAPA harus malam hari. Siang hari kan lebih leluasa. Pengambilan foto juga bisa di beberapa sudut. Alasannya cukup kuat. Untuk menghindari serangan pemangsa.
Melepas penyu ke laut menjadi kegiatan yang paling seru dan menyenangkan. Ibarat bayi yang pertama kali menginjakkan kakinya ke tanah. Anak penyu alias tukik juga demikian. Terlihat sangat gembira.
Dulu proses menetas dibiarkan secara alami. Sekarang juga memang masih alami, cuma bedanya tempat menetasnya sudah diatur. Setelah penyu melepas telurnya, ada petugas yang mengumpulkan. Telur itu kemudian dimasukkan ke dalam lubang khusus yang sudah dibuatkan. Bentuknya, tak beda dengan lobang yang dibuat induk penyu. Lokasinya berada dalam kawasan bangunan, tempat tinggal petugas di Sangalaki.
Ada jarak waktu antara menempatkan telur dengan waktu penetasan. Jarak ini yang jarang diinformasikan. Ada pemandangan yang menarik, saat di mana tukik dengan tenaga yang dimiliki, berusaha keluar dari lobang. Ini atraksi yang menarik.
Saya pernah menyaksikan proses ini. Seperti binatang purba yang saling berlomba menuju permukaan. Juga sudah punya naluri, semua berlari ke arah laut, yang merupakan habitat akhirnya.
Tukik kemudian dimasukkan ke dalam bak penampungan. Hanya ini atraksi yang bisa disaksikan wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sangalaki. Bisa memegang dan mencermati tukik yang masih berusia muda.
Proses bertelurnya seperti apa? Tak ada pilihan, harus bermalam di pulau. Ada resor yang bisa dijadikan tempat menginap. Tarifnya lumayan.
Memang perlu lahan terbuka. Lahan yang disiapkan bagi wisatawan yang memilih untuk berkemah. Tidak menginap di resor. Saya tidak tahu, untuk urusan ini. Bagaimana proses perizinannya. Harus disiapkan, dengan berbayar sekalipun.
Saya mengenal baik pemilik resor. Juga dive master yang bekerja di Sangalaki. Kami pernah datang dalam jumlah yang banyak. Bersama Pak Wabup Agus Tantomo. Sekalian menginap. Ingin menyaksikan bagaimana penyu bertelur. Ingin melihat bagaimana tukik saling dorong keluar dari lobang penetasan. Juga ingin menikmati liburan tanpa sinyal telepon.
Salah satu pilihan wisatawan yang bermalam di Sangalaki, bukan hanya spot bawah lautnya yang menarik. Juga karena terbatasnya jaringan telepon. Wisatawan tidak terganggu dengan suara dering telepon.
Saya juga baru paham, mengapa melepas tukik harus malam hari. Untuk menghindari serbuan predator yang selalu siap memangsa. Kalau dilepas siang hari, bisa jadi mangsa yang empuk oleh kawanan burung. Juga mangsa bagi ikan besar.
Peluang hidupnya saat malam hari. Itu pun, dalam perjalanan panjang. Menurut penelitian, sebanyak 1000 tukik yang dilepas, hanya 1 ekor yang mampu bertahan menjadi penyu dewasa.
Harus minim cahaya. Kalau juga ada, untuk melihat bagaimana tukik berlari cepat tiba di laut. Ada cahaya laut secara naluri ia kenali. Kalau cahaya senter atau lampu, akan mengganggu perjalanannya.
Banyak yang tertarik untuk datang. Juga sekalian bermalam. Banyak juga yang datang minim informasi. Sehingga mereka terkejut bila diinformasikan ada pungutan yang menjadi kewajiban setiap pengunjung. Pengunjung yang datang ke kawasan budi daya penyu.
Mungkin itu yang perlu disebarluaskan. Juga ada perlakukan khusus, bila keperluan pengambilan gambar untuk kepentingan promosi.
Sangalaki hanya menjadi persinggahan. Bagian dari trip perjalanan wisata. Yang bermalam di Maratua, sebelum kembali, mampir di Sangalaki. Juga yang nginap di Derawan, Sangalaki menjadi salah satu tujuan perjalanan mereka.
Lumayan lama tidak ke Sangalaki. Lama tidak jumpa pemilik dan karyawan resor. Juga sang dive master. Rindu ikan bakarnya. Rindu pasir putihnya. Rindu ingin melihat penyu bertelur. Juga rindu pada tukik yang berlari ke laut di malam hari. (*/har)
Editor : uki-Berau Post