NAMA warungnya ‘Sederhana’. Lokasi di Jalan Pulau Derawan. Saya di antara sekian banyak pelanggan yang rutin datang selama empat tahun terakhir. Gaya penyajiannya, prasmanan. Mau porsi jumbo atau porsi kecil, harganya juga tetap sederhana. Terserah pelanggan.
Seharusnya saya ikut menikmati ikan bakar, Minggu (29/9) lalu. Ada pesta bakar ikan yang digelar dalam rangka hari jadi kabupaten. Panitia menyediakan 18 ton ikan segar. Warga yang hadir, bisa makan sepuasnya. Sayangnya saya tak bisa ikut di acara itu.
Beberapa hari ini, saya dan banyak warga yang memelihara ikan hias di kolam maupun akuarium, dalam suasana gelisah. Bayangkan, air asin sudah mulai masuk hingga ke wilayah PLTU di Lati. Pembangkit harus diistirahatkan. Dan giliran pemadaman pun diberlakukan.
Saya jadi panik. Ratusan ikan Koi di kolam dan seekor ikan Arwana Golden Red, harus diberi perhatian khusus. Bila tidak, bisa senasib seperti yang dialami Pak Apri, karyawan PT Berau Coal yang ikannya mengapung, kehabisan oksigen.
Karenanya, saya memilih makan siang di ‘Sederhana’ saja. Rumah makan milik Pak Paidi. Rasa laparnya sudah memuncak. Lapar seperti ini, memang cocok untuk mampir di Sederhana.
Saya duduk di meja sambil melantai. Meja lainnya penuh. Kebetulan Pak Kapolres Berau juga menjadi salah seorang konsumen siang itu. Beliau datang dengan Pak Leman. Saya tahu, Pak Leman itu penggemar kuliner.
Kalau dia sudah masuk ke rumah makan atau warung manapun, itu tandanya menu yang disajikan enak. Saya pernah diajak Pak Leman, menikmati ikan bakar yang jualan di dekat rumahnya di Jakarta. Memang enak.
Hanya air minum yang dipesan pada pelayan. Makanan ambil sendiri. Saya selalu mengambil porsi standar saja. Nasinya tidak banyak, tapi lauknya yang lebih banyak. Ada belasan lauk yang disiapkan. Semua berwarna merah cabai.
Saya sebetulnya naksir sambalnya. Tapi pedasnya stadium tiga. Saya tidak sanggup. Kuah kacang pecelnya juga begitu. Ada beberapa menu yang tidak terlalu pedas. Termasuk sayur bening.
Ruangan yang luas, hanya dilengkapi beberapa kipas angin. Makan di saat udara panas, dijamin pasti berkeringat. Ada embusan angin dari arah sungai Segah, tidak cukup untuk mendinginkan suasana. Jadi kalau mau berkeringat, makan siang saja di tempat ini. Pasti berkeringat.
Tempatnya strategis. Tepi jalan. Berdekatan dengan kantor PT Berau Coal. Jadi langganan karyawan untuk makan siang. Banyak juga yang hanya membeli, dan dibawa pulang.
Pak Paidi, sering juga bergantian dengan sang istri, duduk di meja dekat pintu keluar. Bila pelanggan akan membayar, hanya menyebut berapa orang dan minum apa serta apa ada tambahan kerupuk. Ada yang pernah menyebutkan pisang dua biji yang disimpan di meja. “Kalau pisang gratis,” kata Paidi.
Saya tidak sempat bertanya pada Paidi, berapa omzet setiap harinya. Saya hanya melihat puluhan karung beras bertumpuk di salah satu sudut ruangan. Juga berbagai kebutuhan lainnya. Konsumen yang datang juga silih berganti.
Juga tak perlu bertanya pada konsumen. Saya bisa mewakili konsumen yang datang, mengapa memilih makan siang di warung Sederhana milik Pak Paidi. Banyak pilihan menu, karena sajian prasmanan. Suasananya juga bagus. Hehe, harganya pun murah. Nama warungnya ‘Sederhana’, tapi rasanya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Biasanya saya duduk berlama-lama. Sambil ngobrol banyak hal dengan teman-teman. Kali ini, saya harus bergegas. Ada rombongan sebanyak 10 orang yang baru datang. Bangku sudah penuh. Saya harus mengalah.
Saat saya mau bayar dengan Pak Paidi, dia bilang sudah diselesaikan. Siapa yang bayar? “Pak Leman, tadi dibayar sekalian,” kata dia. Rupanya makan siang hari Minggu (29/9) ada rezeki lewat Pak Leman teman saya. Ia memang selesai dan pulang lebih dahulu. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post