Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kaltim yang Bersejarah dari Purba hingga Masa Depan

izak-Indra Zakaria • 2019-10-07 15:41:26

Dalam literatur sejarah yang diajarkan sekolah beberapa dekade ini, nama Kaltim disebut karena menjadi tempat kerajaan tertua di Indonesia yaitu Kerajaan Kutai.

Dari Yupa yang ditinggalkan, tertulis Kaltim memiliki peradaban kerajaan sejak abad ke empat masehi. Namun, penemuan belakangan menguak bahwa tanah Kaltim telah dihuni sejak ribuan tahun lalu. Bahkan sebelum penanggalan masehi dimulakan.

Hal ini diketahui setelah ditemukannya gambar cadas di Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Para guru di Kaltim pun sadar, perkembangan sejarah di Bumi Etam kian dinamis.

Mereka tak bisa lagi sekadar berpaku pada literatur lama, tetapi juga melihat langsung sejarah yang berada di depan mereka. Sebagai sumber pengetahuan generasi muda Kaltim, mereka harus tanggap dan turut berperan dalam pengembangan ilmu sejarah di Kaltim.

“Ternyata, Kaltim ini tidak sekadar kisah di masa lalu yang dimulai Kerajaan Kutai. Tetapi, lebih jauh sebelum itu. Lalu, di masa depan Kaltim juga berperan dengan adanya ibu kota negara,” kata ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Provinsi Kaltim, Joni, usai Seminar Nasional Situs Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Sabtu (4/10).

Pesertanya, adalah guru-guru sejarah di Kaltim. Para guru ini pun bakal melawat ke Karst Sangkulirang Mangkalihat usai seminar nasional yang mereka gagas . Setelah lawatan ini, para guru sejarah ini akan menyiapkan modul pembelajaran soal karst.

Pindie Setiawan, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan penelitian di Karst Sangkulirang Mangkalihat, didapuk memberi pengetahuan soal lukisan cadas. Pindie mengatakan, ihwal informasi soal adanya lukisan cadas ini sudah sejak dekade 90an.

Bersama timnya, dia mencapai karst pada 1995. Sejak itu, hampir tiap tahun Pindie menyambangi karst ini dan mendapatkan ribuan gambar yang dia prediksi sudah berusia 40 ribu tahun hingga 35 ribu tahun.

Angka ini merupakan hipotesis yang merujuk pada beberapa gambar cadas, seperti tapir dan trenggiling raksasa. “Kalau menggambar itu kan berarti pernah melihat dahulu. Nah, di Kalimantan tapir punah enam ribu tahun lalu.

Sedangkan, trenggiling raksasa tiga puluh ribu tahun lalu. Artinya, gambar itu dibuat saat binatang itu belum punah,” terang Pindie dalam seminar. Selain itu, dia melanjutkan, ada pula gambar alat buru dengan pelontar tombak. Idealnya, alat ini hanya bisa dipakai di ruang terbuka atau savana, bukan hutan tropis seperti di Kalimantan saat ini.

Nah, menurut sejarah geologi, hutan tropis di Kalimantan baru ada 8 ribu tahun lalu. Pindie lalu menguatkan hipotesisnya dengan penelitian penanggalan (datting) memakai uranium-torium terhadap larutan karbonat.

Alat untuk melakukan datting ini dimiliki Universitas Griffith Australia. Ternyata, dari hasil datting gambar banteng berusia 40 ribu tahun, cap tangan 40 ribu tahun, dan ada pula cap tangan yang berusia 20 ribu hingga 9 ribu tahun. Secara kasat mata, perbedaannya bisa dilihat dari warna. Cap tangan berwarna merah berusia 30 ribu tahun dan cap tangan 20 ribu hingga 9 ribu tahun berwarna ungu.

“Artinya terkonfirmasi dan hasil penelitian di-publish di jurnal Nature pada November 2018,” ucapnya Selain itu, ada pula yang lebih muda yakni 4 ribu tahun, cirinya berbentuk antropomorfik, kapal, dan motif geometris.

Gambarnya, biasanya berwarna hitam. Ada 50 goa yang ditemukan memiliki gambar purba yang diperkirakan jumlahnya sekitar 2 ribu. Saat ini, Karst Sangkulirang-Mangkalihat rencananya akan diajukan sebagai situs Warisan Dunia.

Namun sebelum jadi warisan dunia, perlu ditetapkan sebagai situs Cagar Budaya Nasional Indonesia. Sehingga, karst bisa terjaga dengan baik, mengingat gambar purba ini rentan rusak. (nyc)

Editor : izak-Indra Zakaria