BERAU. Kaltim telah menyiapkan 150 desa/kampung untuk menjadi bagian dari Program Kampung Iklim (Proklim) Plus tahun ini. Salah satu desa yang memiliki skor cukup tinggi adalah Desa Biduk-Biduk, Kecamatan Biduk-Biduk di Kabupaten Berau. Desa ini menjadi target liputan wartawan yang mengikuti kunjungan jurnalis Kaltim dalam program Forest Carbon Partnership Facility Carbon Fund (FCPF CF) 2020-2024 pada 4-7 November 2019.
Desa Biduk-Biduk memiliki nilai lebih karena mampu menjaga tutupan hutan yang cukup luas dan masih alami. Secara keseluruhan, tutupan hutan Desa Biduk-Biduk mencapai 16 ribu hektare. Pj Kepala Desa Biduk-Biduk Abdul Rakhman menuturkan, sudah sejak lama masyarakat setempat menjaga hutan dengan baik. Mereka pun bersepakat untuk tidak membuka lahan baru dengan menebas hutan. “Cukup memanfaatkan lahan yang sudah ada. Warga di sini justru diwajibkan menanam pohon,” kata Rakhman.
Warga desa ini sepakat mewajibkan setiap warga menanam minimal lima pohon. “Maksimalnya tidak dibatasi. Silakan sebanyak-banyaknya,” sambung Rakhman. Umumnya warga menanam buah. Inisiatif ini dinilai cukup produktif. Sebab selain baik untuk menciptakan lingkungan yang sejuk, pada saatnya tanaman buah ini juga akan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat. Mereka juga berharap kebun buah ini kelak bisa menjadi tempat wisata dan menjadi pengungkit meningkatnya penghasilan mereka.
Kearifan warga Biduk-Biduk menjaga hutan dan lingkungan ternyata berdampak positif bagi mereka. Oktober lalu, Desa Biduk-Biduk bahkan didaulat menjadi Desa Wisata. Saat menjejakkan kaki di Biduk-Biduk, rugi rasanya jika tidak menyempatkan waktu singgah ke Labuan Cermin. Lokasi yang satu ini merupakan salah satu destinasi tersohor di kawasan utara Kaltim. Para pelancong nasional dan mancanegara pasti mengenal teluk yang juga dikenal dengan sebutan Danau Dua Rasa itu.
Danau ini memiliki banyak keunikan dengan daya pikat luar biasa. Seperti namanya, air Labuan Cermin memang sebening cermin. Saking beningnya, objek foto di atasnya, terkesan seperti gambar editan. Pandangan mata pun tak terhalang hingga dasar danau. Keunikan lainnya adalah lapisan air danau ini terstruktur menjadi dua bagian. Di bagian atas airnya tawar, sementara di lapisan bawah airnya asin. Uniknya, kedua lapisan air itu tidak pernah bisa tercampur.
Bagi para pelancong domestik dan mancanegara, jangan sampai salah informasi. Labuan Cermin ada di Kabupaten Berau, bukan di kabupaten atau kota lain di Kaltim. Dari Balikpapan atau Samarinda, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat dan mendarat di Bandara Kalimarau atau bisa juga menempuh perjalanan darat, tentu dengan waktu tempuh jauh lebih lama dan melelahkan.
Dari Tanjung Redeb, ibu kota Berau, wisatawan masih harus meneruskan perjalanan menggunakan jalur darat sekira 6 jam untuk sampai ke Biduk-Biduk. Menuju Labuan Cermin, perjalanan bisa dimulai dari dermaga di Labuan Kelambu. Di sini, beberapa kapal berkapasitas 10-15 orang siap mengangkut para pelancong. Biasanya, satu kapal maksimal hanya diisi 10 orang. Harga sewa setiap kapal Rp 100 ribu. Sekitar 10 menit menuju Labuan Cermin, wisatawan akan disuguhkan keindahan panorama alam yang sangat menawan. Airnya berwarna biru toska dan jernih hingga batu karang di dasar sungai pun terlihat jelas. Beberapa karang cukup tinggi sehingga setiap kapal mesti berkelok-kelok memilih alur dalam untuk menghindari karang.
Pemandangan daratan tak kalah cantik. Hutan-hutan asri dengan bebatuannya mengitari sungai. Ada pulau kecil berdiri dengan cantiknya. Jika beruntung, wisatawan bisa melihat satwa-satwa hutan, misalnya, kera dan burung yang berterbangan menyapa riang.
Sesampainya di lokasi, rasa lelah pasti hilang, terbayar dengan keindahan Labuan Cermin yang sangat memesona. Setiap pelancong pasti tak sabar untuk segera merasakan segarnya berendam dalam bening magis Labuan Cermin yang begitu menggoda. “Keindahan Labuan Cermin masih terjaga hingga sekarang, karena dikelilingi dua ribu hektare hutan yang masih alami,” kata Akhmad Wijaya, Consultant Social Development Expert FCPF CF Program FCPF CF.
Labuan Cermin mulai diminati sebagai destinasi wisata sejak 2009. Pada 2012 promosi Labuan Cermin mulai digencarkan. Pada 2018, lokasi ini mulai dikelola Pemerintahan Desa Biduk-Biduk dan menjadi sumber pendapatan desa. "Setiap tahun pengunjung yang datang mencapai 20 ribu orang. Sangat membantu perekonomian masyarakat kami," Abdul Rakhman menimpali. (adv/yuv/beb)