ADA banyak teman yang sedang dalam suasana gembira. Gembira tak terduga. Mereka mendapat ucapan selamat. Sementara hampir tak ingat bila ia sedang berulang tahun.
Saya diberi kejutan oleh Pak Agus Tantomo bersama istri Fika Yuliana, kue ulang tahun di warung tenda.
Dari saya pun lebih mengejutkan lagi. Lewat tengah malam, memberikan kado ulang tahun buat Istri Pak Wabup Fika Yuliana, yang berulang tahun di hari Senin (2/12). “Horor..” kata Bu Fika.
Ternyata, di hari yang sama. Ada perjalanan lumayan panjang, yang saya lalui bersama teman-teman media.
Catatan saya, yang menghiasi koran pagi Berau Post, tidak terasa saya jalani selama setahun. Bagi ukuran seusia saya, sungguh sebuah kegiatan yang melelahkan. Nyatanya, setahun pertama ini, kegiatan yang dalam takaran melelahkan, justru mengasyikkan.
Saya memang pernah aktif menulis. Bahkan, ketika itu, belum banyak orang yang tertarik bekerja di sebuah media. Pekerjaan yang sebagian orang melihat seperti kesibukan yang monoton.
Pekerjaan itulah yang memberikan saya satu dunia tersendiri. Dunia dengan banyak ragamnya. Kesibukan, yang memberikan ruang mendapatkan banyak sahabat. Banyak pengalaman. Setiap hari harus berpikir.
Pak Dahlan Iskan, adalah orang yang menjadi inspirasi. Di usianya seperti sekarang dan usia yang sebelumnya pun, tulisannya enak dibaca. Banyak kejutan-kejutan di akhir tulisan. Mencontoh bagaimana ia menulis, tak mungkin bisa saya lakukan. Untuk inspirasi, itulah yang saya kerjakan selama ini.
Bekerja di media, juga ada masa akhirnya. Namun, menulis, tak ada batasan usia sampai kapan harus berhenti.
Saya bersyukur, meski tak lagi bekerja di media, tak pernah terlepas dari komunitas mereka. Itulah yang memberikan semangat. Memberi inspirasi untuk tetap menulis. Seperti Pak Dahlan, yang juga masih menulis hingga kini.
Adalah Khairul Akbar dan Ari, yang awalnya mengomandani Berau Post, sebelum bergeser ke media yang baru dikelola sekarang, memberikan saya ruang untuk menulis lagi.
Bahkan, disiapkan space khusus buat saya untuk mengisinya. Tawaran itu berat awalnya. Saya harus ‘mengaktifkan’ lagi memori yang mungkin sudah terjangkit ‘virus’. Virus yang mampu menghilangkan ribuan karakter kata yang ada dalam ‘hard disk’ di kepala saya.
Kata teman saya, jangan khawatir. Kapasitas otak itu, sama dengan 1 juta GB atau sekitar 1000 terabyte. Masih banyak sisanya, kalau yang terhapus hanyalah ribuan karakter kata.
Saya mulai menulis. Kalau sekarang ada fasilitas komputer yang semua bisa menjadi pendukung kelancaran bekerja. Saya ingat dulu, saat masih tercatat sebagai wartawan, saya menggunakan mesin tik, yang huraf ‘a’-nya bermasalah. Bisa dibayangkan.
Hari pertama dan pekan pertama, menulis pada Catatan Daeng Sikra (CDS), mulai terasa mengasyikkan. Mencari tema baru untuk hari-hari berikutnya.
Saya juga ingat, kalimat Pak Zainal Mutaqin, teman dan sekaligus bos saya dulu di Kaltim Post, sedikit memberikan semangat. Walaupun tak lagi di media, namun masih mau menyisihkan waktu untuk menulis. Saya jadi tersanjung juga.
Seusia saya, menulis juga menjadi obat mujarab, menghindari pikun.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, pikun adalah hilangnya atau mundurnya kemampuan intelektual yang sedemikian beratnya sehingga menghalangi fungsi sosial atau pekerjaan. Salah satunya terjadinya gangguan daya ingat.
Kemarin (2/12), teman-teman media berkumpul di IP Cafe, di Jalan Murjani. Tak ada agenda khusus. Kebetulan saja. Saya memang tertua di antara mereka. Kata orang Banjar, saya yang ‘Menuai’.
Wartawan yang muda usia. Sama ketika saya aktif dulu. Mereka aktif dan gesit serta kreatif. Juga pada usia produktif.
Saat saya menulis pada catatan di Berau, sebetulnya ada isyarat ‘tersirat’ di dalamnya. Saya hanya ingin membagikan semangat itu. Menambah vitalitas anak muda yang semangat-semangatnya menulis. “Saya yang tak lagi muda saja, berusaha menulis yang baik,” begitu kira-kira pesan yang ingin saya sampaikan.
Dan, saat berkumpul itulah, ada ucapan perjalanan waktu yang tidak terasa. Bulan Desember tahun 2018, menjadi catatan awal menulis. Dan bulan ini, sedang menjalani Desember lagi. Bukan lagu ‘Desember Kelabu’-nya Yuni Sara.
Setahun sudah, kata Firman Wahyudi, Direktur Berau Post. “Iya, tidak terasa,” kata Ari, yang kini jadi Pemimpin Redaksi Koran DisWay.
Setahun sudah dari hari ke hari menyuguhkan bacaan bagi pelanggan Berau Post. Absen sehari saja, rasanya tak nyaman. Teman saya di Balikpapan bisa ngomel, yang aktif mengikuti lewat online.
Saya juga kadang gelisah, bila harus absen menulis. Bisa saja terjadi ‘blank’, tak ada ide yang bisa dituangkan. Lagi-lagi karena faktor ‘U’ (usia) istilah Pak Ibnu Sina, mantan Sekda Berau.
Alhamdulillah, semua berjalan baik. Saya mohon doa, semoga hari-hari berikutnya masih diberikan kekuatan dan kesehatan agar bisa terus menulis. “Kita harus menggunakan waktu sebagai alat, bukan sebagai kursi malas,” kata John F Kennedy. #Salamrindudariberau (*/har)
Editor : uki-Berau Post