BALIKPAPAN - Maskapai penerbangan masih enggan menggarap rute baru dari dan menuju Kaltim. Pasalnya, potensi pasar yang ada belum didukung infrastruktur yang memadai. Isu ibu kota negara (IKN) juga belum membuat pergerakan penumpang tahun ini meningkat.
General Manager PT Garuda Indonesia Airlines Balikpapan Boydike Kussudiarso mengatakan seluruh rute dari dan ke Balikpapan sepanjang 2019 ini justru mengalami penurunan sebesar 17 persen. Saat ini emiten berkode saham GIAA tersebut melayani rute dari Balikpapan-Berau, Balikpapan-Jakarta, Balikpapan-Banjarmasin dan Balikpapan-Jogjakarta.
Sementara sejumlah rute juga mengalami penyesuaian pada awal tahun ini, yakni rute Balikpapan-Jakarta dipangkas menjadi lima kali sehari dari semula tujuh kali sehari. Serupa dengan rute Balikpapan-Berau yang dipangkas menjadi dua kali sehari.
“Saat ini kami lebih menerapkan ekosistem dengan mengoptimalkan pendapatan yang ada. Dari kondisi sebelumnya, di mana perang harga jadi salah satu pemicu beratnya ongkos operasional untuk penerbangan,” jelasnya, Senin (23/11).
Boydike menerangkan bahwa sektor ini merupakan bisnis padat modal dengan komponen terbesar penggunaan avtur yang juga bergantung pada konversi dolar Amerika Serikat ke dalam rupiah. “Apresiasi rupiah terhadap dolar juga memberatkan operasional. Saat ini Balikpapan-Jakarta terjadi perubahan traffic bukan hanya perkara operasional bandara di Samarinda. Memang ekosistem traffic,” imbuhnya.
Pihaknya pun berfokus pada rute penerbangan domestik dengan rute yang ada dan belum berencana menambah rute penerbangan baru. Isu terkait dengan IKN diharapkan bisa secara perlahan mengerek traffic penumpang pada pertengahan tahun depan atau pada akhir tahun. Ini bergantung pada persiapan yang dilakukan pemerintah.
Dia mengharapkan pada tahun depan dunia bisnis belum banyak beranjak dari kondisi pada 2019. “Ada hal yang menjadi highlight kita semua, bahwa perlu ada pertambahan dengan masing-masing upaya. Kami berharap ada proyek yang membantu industri pelaku usaha di Balikpapan dan bisa mendorong sisi performa,” tekannya.
Sebelumnya, Boy mengatakan, di sektor pariwisata, Garuda Indonesia mencatat load factor penumpang pariwisata tujuan ke Berau tidak sampai separuhnya. Berau dengan Pulau Maratuanya sebenarnya memiliki potensi bagus. Bahkan, di sana juga banyak potensi pariwisata lainnya. Hanya saja, sampai saat ini keseriusan daerah masih belum maksimal.
Sejauh ini, swasta yang lebih serius mengembangkan pariwisata. Bahkan, ada beberapa pulau yang dikelola pihak asing dan pernah men-carter Garuda Indonesia untuk terbang. Swasta lebih aktif mencari pengunjung dan yang memikirkan bagaimana wisatawan bisa datang. Adapun load factor rute Balikpapan-Berau saat ini sekitar 72 persen. Mayoritas masih didominasi pekerja. Sementara tujuan Maratua sudah tidak ada.
Menurutnya, membangun pariwisata butuh keseriusan. Utamanya, infrastruktur atau akses ke tujuan pariwisata di Kaltim yang masih belum bagus. Contohnya di Balikpapan, akses ke hutan mangrove jalannya kecil dan di permukiman warga. Tempat penangkaran beruang madu, tempatnya bagus, namun akses jalannya masuk jelek.
Berau juga demikian, banyak potensi wisata hanya saja jalannya masih kurang bagus dan di tempat pariwisatanya, fasilitas dan sarannya kurang dijaga. “Yang dulunya bagus, sekarang sudah kurang layak dan tidak bisa menarik wisatawan domestik dan asing,” tuturnya.
Dia menekankan pihaknya siap saja jika diminta membuka rute. Hanya, persoalannya apakah ada yang datang atau tidak. PT Angkasa Pura I Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan mencatat tahun ini mengalami penurunan penumpang hingga 20,2 persen dibanding tahun lalu. Terbaginya penumpang dengan Bandara Samarinda jadi sebab utama.
General Manager PT Angkasa Pura I Balikpapan Farid Indra Nugraha mengatakan, pihaknya tidak bisa membendung jumlah penumpang yang terkoreksi dibanding tahun lalu. Berbagai upaya pihaknya lakukan namun tetap saja masih belum bisa mendongkrak jumlah penumpang sepanjang 2019 ini.
“Kami mengalami penurunan 20,2 persen tahun ini dan 13 persen penurunan penerbangan. Terbaginya penumpang dengan Bandara APT Pranoto menyebabkan jumlah penumpang tergerus. Tahun depan pun demikian, kemungkinan bakal terjadi penurunan penumpang,” terangnya. Menurutnya, saat ini maskapai masih belum lihat peluang penerbangan domestik. (aji/ndu/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria