Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Masjid Raya Darussalam, Saksi Bisu Ribuan Mualaf Bersyahadat

izak-Indra Zakaria • 2020-03-14 20:57:01
MAKNA: Masjid Raya Darussalam memiliki banyak makna dari segi arsitektur bangunan. Jumlah menara, luas bangunan hingga kubah melambangkan sejarah keberadaan Islam.
MAKNA: Masjid Raya Darussalam memiliki banyak makna dari segi arsitektur bangunan. Jumlah menara, luas bangunan hingga kubah melambangkan sejarah keberadaan Islam.

BERDIRI megah menghadap Sungai Mahakam, inilah salah satu masjid besar yang ada Kalimantan Timur. Dikelilingi pohon-pohon membuat lingkungan masjid terasa rindang dan sejuk. Khas dengan konsep putih-hijau, dikenal dengan nama Masjid Raya Darussalam Samarinda.

Terlihat sama seperti rumah ibadah umumnya, namun bangunan ini memiliki kisah sejarah pembangunan panjang. Selain Masjid Shiratal Mustaqiem atau Masjid Tua, masjid ini juga menjadi salah satu bangunan rumah ibadah tertua di Kalimantan.

Dijelaskan Arnani, selaku sekretaris eksekutif Yayasan Masjid Raya. Keberadaan bangunan merupakan reinkarnasi dari bangunan Masjid Jami yang ada pada zaman Kesultanan Aji Muhammad Parikesit. “Pada 1925, untuk pertama kalinya dibangun Masjid Jami di Kota Samarinda dengan luas 25 x 25 meter. Masjid itu dulunya terletak persis di seberang jalan Masjid Raya ini, pas di tepi Sungai Mahakam. Saat itu masjid belum memiliki pekarangan, bahkan samping kiri tiangnya berada di dalam sungai,” ucap Arnani.

SAKSI: Di sinilah ribuan orang memilih untuk mualaf. Mulai tertata secara administrasi sejak 1990. Tidak hanya sekitar Kalimantan, juga meng-Islamkan warga negara asing.

 

Seiring berjalannya waktu, Masjid Jami tak sanggup lagi menampung jumlah jemaah. Meski Arnani menjelaskan sudah dibangun pendopo bertingkat secara darurat tetap saja bangunan tak mampu menampung masyarakat yang kian meningkat pesat. Terutama pada Salat Ied.

“Kondisi tersebut mendorong para pemuka atau tokoh masyarakat Islam mengadakan musyawarah dengan pemerintah daerah (pemda) setempat untuk membangun masjid besar yang representatif,” tambah pria yang sudah mengelola Masjid Raya Darussalam sejak 1997.

Musyawarah membuahkan hasil kesepakatan untuk membangun masjid di atas tanah wakaf. Hingga peletakkan batu pertama dilasanakan pada 9 November 1953 oleh A.M Parikesit selaku kepala daerah pada waktu itu. Kendati demikian, hingga 1967, proses pembangunan masjid belum terlaksana.

“Faktornya banyak, pas juga waktu itu lagi ada krisis moneter, jadi semakin ada alasan masjid ini terbengkalai. Sampai pada 26 Desember 1967 dibentuklah Yayasan Masjid Raya Samarinda untuk mengurus masjid ini dan dapat bantuan dana dari Gubernur Kaltim, Abdoel Wahab Sjachranie,” tuturnya.

Waktu terus berlalu, Samarinda terus berkembang dan diikuti oleh jumlah penduduk terus meningkat. Arnani menjelaskan, pada 1990, penduduk berjumlah 407.897 jiwa. Sebagai konsekuensinya diperlukan penyediaan sarana dan fasilitas sosial memadai, khususnya rumah ibadah. Namun, Masjid Raya tetap kewalahan menampung masyarakat yang kian bertambah.

Alhamdullillah, dapat perhatian dari Gubernur, H.M. Ardans pada waktu itu. Hingga diberikan kesempatan untuk merenovasi bangunan lama dengan luas 3.550 meter persegi. Setelah direnovasi, menjadi 7.200 meter persegi dengan daya tampung 14 ribu jemaah,” infonya.

Selain dengan tujuan agar menampung jemaah lebih banyak, renovasi masjid kedua terbesar setelah Masjid Islamic Center ini bertujuan agar menjadi land mark sekaligus aset keindahan Samarinda yang bisa dibanggakan untuk masa mendatang.

Masjid yang berlokasi di samping Pasar Pagi Samarinda itu juga melayani proses mualaf. Tercatat per 2 Maret 2020, ada 3.505 orang yang resmi masuk Islam. “Pelayanan sudah ada sejak 1990. Enggak hanya warga sekitar yang bersyahadat tetapi ada pula masyarakat luar negeri yang berikrar di sini,” tutur Muhammad Rasyid, salah satu ulama di Masjid Raya.

Datang dari penjuru dunia, sebut saja Jerman, Australia, Belanda, Amerika, hingga Jepang. Namun, tak ada catatan pasti untuk jumlah WNA yang bersyahadat di sana. “WNA yang berikrar di sini (Masjid Raya Darussalam) biasanya sudah tinggal lama karena ada kerjaan di Samarinda. Kasusnya juga nyaris sama, kebanyakan dari mereka memutuskan pindah agama karena ingin menikah. Biasanya buat mereka yang datang karena ingin menikah akan ditemani dengan calon pengantin perempuannya,” tutur Rasyid.

Hal ini diketahui karena setiap sebelum berikrar, ada sesi wawancara serta tausiah singkat terlebih dahulu dengan para ustaz. Selain datang karena ingin menikah, ada pula beberapa masyarakat yang berikrar karena merasa agama ini begitu lembut. Ada yang mualaf pada usia 60-an, dan paling muda itu 3 tahun. Jika anak-anak, umumnya mualaf satu keluarga.

“Uniknya, beberapa dari mereka yang benar-benar tulus ingin masuk Islam sudah mempersiapkan dari bertahun-tahun sebelumnya. Mempelajari Islam dengan baik, bahkan ada dari mereka yang tak perlu lagi dituntun untuk membacakan syahadat, karena sudah hapal dan lancar,” tambahnya. (*/nul*/rdm2)

Editor : izak-Indra Zakaria
#samarinda