Situasi masih tidak kondusif. Imbauan di rumah saja masih lantang digalakkan. Sayangnya, Kota Minyak yang sempat sepi kembali ramai. Seakan lupa bahwa virus masih merajalela.
OKTAVIA MEGARIA, Balikpapan
PERTAMA kali pemerintah kota mengeluarkan kebijakan untuk di rumah saja, semua tempat umum mendadak sepi. Imbauan untuk social distancing digalakkan. Tidak mengadakan kegiatan yang menimbulkan kerumunan massa. Hingga penutupan tempat-tempat hiburan atau berkumpulnya kawula muda.
Pada awal kebijakan itu keluar, warga segera patuh. Kota Minyak mendadak sepi bak kota tak berpenghuni. Hampir sebulan pemandangan seperti itu berlaku. Namun, hanya sebulan bertahan, pelan-pelan warga kembali beraktivitas di luar. Aturan seakan tak lagi didengarkan. Padahal penyebaran pandemi Covid-19 semakin mengkhawatirkan.
Seperti yang terlihat di salah satu ikon Balikpapan, Lapangan Merdeka. Kemarin (26/4) sekitar pukul 16.00 Wita, kawasan itu tampak ramai layaknya hari normal. Seperti biasa, sebagian besar memang melakukan kegiatan olahraga. Namun sayang, masih banyak yang tidak mengenakan masker.
Ardi misalnya. Pria tersebut mengaku sering berolahraga di sela-sela hari liburnya walau dalam masa pandemi seperti sekarang. Baginya, menjaga kesehatan sangat penting, apalagi saat-saat seperti ini.
Sayangnya, Ardi tidak mengenakan masker. Alasannya sangat sederhana. “Kalau pakai masker enggak baik untuk napas. Kan habis lari-lari,” ucap dia. Tak berbeda jauh, dua remaja yang tengah duduk di salah satu pot tanaman di pinggir lapangan, juga mengaku tengah joging sore kemarin.
Meski masih berstatus pelajar SMP, Alfina dan Nayla paham betul kondisi yang terjadi sekarang. Karena itu, keduanya tetap mengenakan masker saat berolahraga. Sedikit bercerita, keduanya mengaku sedih karena tak bisa belajar di sekolah lagi. “Sedih karena enggak bisa ketemu teman yang lain, kumpul-kumpul bareng lagi,” curhat dua pelajar yang duduk di bangku kelas 3 SMP 12 Balikpapan itu.
Kendati banyaknya masyarakat yang masih beraktivitas, pedagang-pedagang kecil di tempat tersebut nyaris tidak ada. Hanya segelintir yang masih bertahan. Yang mungkin saja tidak tahu lagi harus ke mana mengadu nasib selain di Lapangan Merdeka.
Salah satunya Siti, pedagang kerupuk opak dan minuman. Bersama dengan putra bungsunya yang berusia 10 tahun, dia masih setia duduk di tepi lapangan menunggu pembeli mampir ke dagangannya.
Ketika awak Kaltim Post bertanya terkait dirinya yang masih bertahan, perempuan 44 tahun itu mengaku tak punya pilihan. Desakan perut yang harus diisi, menjadi alasannya terus mencari nafkah. Ia bahkan mengaku tidak peduli dengan kondisi saat ini.
“Orang-orang seperti saya, kalau mau mati ya mati saja, Mbak. Mau itu karena corona atau pun kelaparan. Jadi ya sudah enggak peduli lagi. Yang penting perut saya dan keluarga bisa terisi dulu,” ungkapnya dengan mata berkaca.
Dia dan anak keduanya memang menjadi tulang punggung keluarga. Sebab, sang suami yang biasanya jadi penjaga odong-odong tidak bisa lagi bekerja. Akibat larangan yang diberikan pemerintah kota.
Perempuan asli Surabaya itu berkata, imbas dari kondisi saat ini merosotnya pendapatan yang diperoleh. Jika biasanya bisa mendapat Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu per hari, kini Rp 10 ribu pun sudah disyukuri. Bantuan sembako yang kini marak dibagikan, adalah kesempatan baginya untuk bertahan hidup. “Kontrakan rumah sudah menunggak dua bulan,” lirihnya.
Jika di Lapangan Merdeka kebanyakan berolahraga, lain halnya dengan kawasan Pantai Melawai. Selain pedagang, rata-rata masyarakat hanya duduk sembari menikmati pemandangan senja alias ngabuburit menunggu azan Magrib tanda buka puasa. Padahal di tempat itu sempat dilakukan pembubaran paksa oleh petugas.
Ona dan Caca, dua gadis remaja yang menyempatkan diri mampir di sepanjang siring Pantai Melawai. Keduanya tengah duduk-duduk sambil bertukar cerita. Alasannya cukup sederhana. “Soalnya bosan di rumah terus, pengin keluar sekali-kali,” celoteh keduanya. Padahal sudah ada larangan dari orangtua untuk tidak keluar rumah jika tidak terdesak.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Balikpapan Zulkifli mengaku, pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin agar tidak ada lagi warga berkumpul. Ia menyayangkan masih kurangnya kesadaran masyarakat terkait ancaman pandemi Covid-19. “Personel saya keliling kota terus, untuk ingatkan masyarakat. Tapi ya saat kami pergi, kembali lagi masyarakat seperti biasa (berkumpul),” bebernya.
Ia menyebut patroli terus dilakukan petugas. Bahkan, kawasan Perumahan Grand City telah ditutup total untuk menghindari kerumunan. Kata dia, bila pembatasan sosial berskala besar (PSBB) benar-benar diterapkan, maka Melawai akan menjadi bagian yang ditutup segera. (rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria