PERGERAKAN satu di antara tiga patahan aktif di Pulau Kalimantan memicu gempa bumi di Tanjung Redeb, Berau, Kamis (16/7). Bergeraknya patahan atau juga dikenal dengan Sesar Mangkalihat mengakibatkan gempa bermagnitudo 4 sekira pukul 10.42 Wita.
Gempa dengan kedalaman 10 kilometer ini tidak berpotensi tsunami. Namun, peristiwa kemarin kembali menunjukkan bahwa Kaltim tidak sepenuhnya aman dari gempa. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Erika Mardiyanti menyampaikan, dengan memerhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempa bumi di Tanjung Redeb, Berau kemarin termasuk dalam klasifikasi gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake).
Terjadi akibat aktivitas sesar aktif. “Diduga pembangkit gempa ini adalah Sesar Mangkalihat yang menerus ke arah barat laut,” katanya kepada Kaltim Post kemarin.
Perempuan yang menjabat koordinator BMKG Kaltim ini melanjutkan, berdasar laporan masyarakat, gempa ini dirasakan di beberapa kecamatan di Kabupaten Berau. Selain di Kecamatan Tanjung Redeb, juga dirasakan di Kecamatan Teluk Bayur dan Labanan.
Lanjut dia, berdasar satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi atau Skala MMI (Modified Mercalli Intensity), gempa bumi di Tanjung Redeb, Berau, kemarin berada pada skala intensitas II-III MMI. Gambaran gempa tersebut yakni getaran dirasakan, benda-benda ringan yang digantung bergoyang, seperti ada truk berlalu. “Namun, hingga saat ini belum ada laporan adanya dampak kerusakan yang diakibatkan guncangan gempa ini,” ungkap perempuan yang sebelumnya menjabat kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak ini.
Menurut hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2017, Sesar Mangkalihat termasuk sesar aktif. Yang memiliki kekuatan tertarget mencapai magnitudo 7,0. Dengan laju pergeseran 0,5 milimeter per tahun. Sesar Mangkalihat salah satu sesar aktif yang patut diwaspadai di Kalimantan. Berdasar hasil skenario model guncangan gempa, patahan ini berkekuatan magnitudo 7.0. Dengan sumber gempa Sesar Mangkalihat pada kedalaman 10 kilometer, maka terdapat beberapa wilayah yang dapat terdampak guncangan signifikan.
Di wilayah Balikpapan berpotensi terdampak guncangan dengan intensitas III-IV MMI. Maksud guncangan III MMI adalah getaran yang dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu. Sementara guncangan IV MMI, pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah. Di luar oleh beberapa orang. Gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi. Sementara wilayah Samarinda dapat terdampak guncangan gempa dengan intensitas V MMI. Atau getaran yang dirasakan oleh hampir semua penduduk. Orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.
“Sementara untuk daerah yang dekat dengan sumber gempa dapat terdampak guncangan mencapai skala intensitas VII-VIII MMI yang artinya berpotensi terjadi kerusakan tingkat sedang hingga berat,” ucap perempuan berkerudung ini.
Erika mengungkapkan, secara geologi dan tektonik, di wilayah Kaltim terdapat tiga struktur sesar sumber gempa. Yaitu Sesar Maratua, Sesar Mangkalihat, dan Sesar Paternoster. Hasil monitoring kegempaan oleh BMKG terhadap Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat di wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur menunjukkan masih aktif.
“Tampak dalam peta seismisitas pada dua zona sesar ini, aktivitas kegempaannya cukup tinggi dan membentuk klaster sebaran pusat gempa yang berarah barat-timur,” terang Erika. Adapun catatan sejarah gempa signifikan dan merusak yang pernah terjadi di wilayah ini dan berkaitan dengan aktivitas sesar aktif cukup banyak. BMKG mencatat setidaknya sudah tujuh kali gempa signifikan.
Satu di antaranya memicu tsunami destruktif, yaitu gempa dan tsunami Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur pada 14 Mei 1921. Yang menimbulkan kerusakan sedang hingga berat mencapai VII-VIII MMI. Gempa kuat ini diikuti tsunami yang mengakibatkan kerusakan di sepanjang pantai dan muara sungai di Sangkulirang. Kemudian gempa Tanjung Mangkalihat, Kabupaten Kutai Timur pada 16 November 1964, berkekuatan magnitudo 5,7.
Lalu gempa Kabupaten Kutai Timur pada 4 Juni 1982, berkekuatan magnitudo 5,1. Gempa Muarabulan, Kabupaten Kutai Timur pada 31 Juli 1983, berkekuatan magnitudo 5,1, dan gempa Mangkalihat, Kabupaten Kutai Timur pada 16 Juni 2000, berkekuatan magnitudo 5,4. Gempa lainnya adalah gempa Tanjung Redeb, Kabupaten Berau pada 31 Januari 2006 berkekuatan magnitudo 5,4 dan gempa Muara Lesan, Kabupaten Berau pada 24 Februari 2007, berkekuatan magnitudo 5,3.
“Gempa Berau yang terjadi tadi pagi (kemarin) menarik untuk dicermati. Dapat disimpulkan bahwa catatan gempa signifikan, dapat mengalami pengulangan. Karena sifat gempa yang memiliki periode ulang. Dengan demikian, daerah yang pernah mengalami gempa kuat pada masa lalu, dapat kembali terjadi pada masa yang akan datang,” katanya.
Untuk itu, sebagai upaya mitigasi bencana, wilayah yang memiliki catatan sejarah gempa merusak pada masa lalu, wajib membangun bangunan tahan gempa. Serta mengedukasi warganya bagaimana cara selamat saat terjadi gempa. “Ini penting sebagai upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi kejadian gempa berikutnya,” pungkas Erika.
Kepala BMKG Berau Tekad Sumardi yang dikonfirmasi kemarin menambahkan, episenter gempa kemarin terletak pada koordinat 1.85 Lintang Utara (LU) dan 117.39 Bujur Timur (BT). Tepatnya berada pada jarak 36 kilometer (Km) Barat Daya Tanjung Redeb pada kedalaman 10 kilometer. Gempa itu tidak mengakibatkan kerusakan. Serta tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Ia mengimbau agar masyarakat tenang dan tidak mudah percaya isu hoaks. “Sudah dipastikan. Akibat gempa tersebut tidak berdampak apa-apa,” katanya.
Tekad mengatakan, secara geologi dan tektonik, di wilayah Provinsi Kalimantan Timur terdapat 3 struktur sesar sumber gempa. Yakni sesar Maratua, sesar Mangkalihat, dan sesar Paternoster. Sesar Mangkalihat merupakan salah satu sesar aktif yang patut diwaspadai di Kalimantan. Berdasarkan hasil skenario model guncangan gempa berkekuatan M 7.0 dengan sumber gempa sesar Mangkalihat pada kedalaman 10 kilometer, maka terdapat beberapa wilayah yang dapat terdampak guncangan signifikan.
Dari hasil monitoring kegempaan oleh BMKG terhadap Sesar Maratua dan Sesar Mangkalihat di wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur, Tekad menyatakan patahan tersebut masih aktif. (*/hmd/kip/riz/kpg/har)
Editor : uki-Berau Post