Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lebih Setengah Lahan Permukiman “Lenyap”, Warga Kampung Teluk Waru Memilih Eksodus

izak-Indra Zakaria • 2020-08-17 20:02:23
Warga Teluk Waru menggunakan kapal untuk transportasi ke Balikpapan atau PPU.
Warga Teluk Waru menggunakan kapal untuk transportasi ke Balikpapan atau PPU.

Hanya dalam waktu kurang dari setahun, setengah permukiman di Kampung Teluk Waru, Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat sudah “hilang”. Digantikan proyek pematangan lahan milik perusahaan.

 

NAMA Teluk Waru mengarah pada dua lokasi di Kaltim. Satu Desa Teluk Waru di Penajam Paser Utara (PPU). Lainnya adalah sebuah permukiman RT 09 di Teluk Balikpapan. Yang masuk wilayah administrasi Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat. Namanya Kampung Teluk Waru.

Kampung Teluk Waru secara administrasi awalnya masuk Kelurahan Jenebora. Yang sebelumnya masuk ke wilayah Balikpapan Seberang. Kini masuk Penajam Paser Utara (PPU). Dari informasi warga setempat, Kampung Teluk Waru sudah ada sejak 1950-an.

Meski terpencil, kampung berkembang di tengah kemajuan industri di Teluk Balikpapan. Hingga data terakhir pada 2020 yang dimiliki Kelurahan Kariangau, kawasan ini dihuni 192 kepala keluarga (KK). Kalau sejarahnya sudah tak ada yang tahu. Saya sendiri awalnya masih kecil saat diajak orangtua ke Teluk Waru,” ucap Junaidi, ketua RT 09 Kelurahan Kariangau, Kamis (13/8).

Junaidi bercerita saat masa kanak-kanaknya. Medio 1970-an. Ketika sering diajak orangtuanya berlayar ke rumah kakek dan pamannya di Kampung Teluk Waru. Kala itu kampung hanya memiliki 10 rumah. Semua penghuninya masih punya hubungan keluarga.

Nelayan jadi mata pencarian utama warga yang tinggal di Teluk Balikpapan itu. Keperluan pangan juga diperoleh dari hasil berkebun. Termasuk menanam padi gunung. Sementara keperluan lain diperoleh dari jual-beli di wilayah Kampung Baru, Balikpapan. Kalau anginnya bagus, pakai perahu layar. Kalau enggak ya mendayung,” ucap pria kelahiran 1973 itu.

Kampung Teluk Waru tampaknya strategis bagi sejumlah perusahaan. Berada di kawasan yang tergolong aman dari bencana alam, dekat dengan bahan baku dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II. Membuat banyak perusahaan mantap menancapkan bisnis membangun perusahaan dan pabrik. Bahkan sejak 1980-an, ketika komoditas kayu berjaya, ada dua perusahaan besar yang membangun pabriknya di Teluk Waru.

Pada 1981 itu masuk perusahaan grup Telaga Mas Indah. Bangun pabrik molding kayu. Lalu pada 1983 masuk Dwima Manunggal Raksa (DMR). Perusahaan plywood,” bebernya.

Meski telah masuk perusahaan, saat itu warga masih bertahan sebagai nelayan dan petani. Penghasilan dari melaut lebih menjanjikan dibandingkan menjadi buruh pabrik. Namun, perkembangan Teluk Balikpapan membuat nelayan semakin sulit mencari ikan.

Sejak 1990-an itu mulai banyak kapal bermesin besar yang lalu lalang di teluk. Mengeluarkan banyak limbah. Dan di darat pun, banyak pabrik juga ikut dibangun,” ucap pria kelahiran 1973 itu.   

Pencanangan Kawasan Industri Kariangau (KIK) seluas 5.130 hektare pada 2010 mencuat. Awang Faroek Ishak, gubernur Kaltim saat itu berambisi membuat KIK Balikpapan berkembang menjadi kawasan industri berskala internasional.

Bahkan Faroek memastikan pembangunan yang terintegrasi. Dari jalan akses Kilometer 13 - KIK (Terminal Peti Kemas) Kariangau, Pelabuhan Internasional Kariangau, Jembatan Pulau Balang, hingga Tol Balikpapan-Samarinda. Efeknya, pada 2010 mulai dibuka jalan dari Kilometer 13 menuju peti kemas (PT Kaltim Kariangau Terminal),” ujarnya.

Sayangnya, pembangunan jalan tidak berlanjut hingga Kampung Teluk Waru. Dari pinggir jalan, akses jalan menuju kampung masih terputus 4 kilometer. Beruntung, tidak lama setelahnya ada program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Akhirnya ada akses jalan darat ke kampung kami. Meski baru setapak,” ujarnya.

Saat ini ada dua cara menuju Kampung Teluk Waru. Melalui darat dan laut. Jika dari laut, maka bisa melalui dermaga speed Kampung Baru, Balikpapan Barat. Warga biasa naik kelotok dengan menempuh perjalanan 45 menit hingga sampai di dermaga kayu yang kondisinya tidak terawat.

Di darat ada dua jalan. Akses lama, menempuh 12 kilometer dari jembatan Kilometer 13. Di Kilometer 13 mengarah ke PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT). Perjalanan di atas jalan yang  terintegrasi dengan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) itu, banyak didominasi kendaraan trailer dan truk pengangkut kontainer.

Sebelum sampai di persimpangan Jalan PLTU, jika diukur dari Gerbang Tol Karang Joang, maka hanya menambah 1,2 kilometer. Kemudian melalui jalan selebar 2 meter. Berbatu dengan sebagian semen yang kondisinya sebagian hancur.

Jalan yang baru lebih lebar. Dua ruas. Hanya menempuh 8 kilometer hingga ke persimpangan setelah jembatan Kilometer 13. Bisa dilintasi kendaraan berat. Namun masih tanah. Kalau hujan, tak jarang kendaraan terjebak lumpur. Dibuat perusahaan sekitar untuk akses ke Salok Cina. Yang kini juga ramai oleh aktivitas perusahaan.  

Dari Salok Cina, jalan menuju Kampung Teluk Waru sebagian kecil sudah dicor semen. Dari keterangan warga, hanya itu infrastruktur jalan 200 meter itu yang dikerjakan dari tangan pemerintah. Selebihnya, jalan dibuat oleh perusahaan.

Sebenarnya jalan yang baru itu ada keterlibatan pemerintah. Dari sisi Jalan Industri sampai balai karantina. Namun, yang mengerjakan saat ini perusahaan. Biar kendaraan dan alat mereka bisa masuk,” beber Junaidi.

Listrik PLN sudah masuk ke Kampung Teluk Waru sejak 1990. Jarang mengalami pemadaman kecuali ada pohon tumbang yang mengenai jaringan. Namun untuk keperluan air bersih, masyarakat hingga kini mengandalkan bantuan dari perusahaan. Pasokan air bantuan sumur pompa. CSR (corporate social responsibility) dari PT Dermaga Perkasa Pratama. Dikelola warga dan diatur jadwal mengalirnya,” ucap Junaidi.

Soal infrastruktur kesehatan, kampung ini tidak memilikinya. Hanya ada puskesmas pembantu (pustu). Itu pun lokasinya di Salok Cina. Urusan pemakaman pun berada di sana. Sementara untuk pendidikan ada dua bangunan sekolah. SD 021 dan SMP 021 Balikpapan Barat. Kalau sekolah lanjutannya (SMA/SMK) ke kota (Balikpapan). Jadi biasa warga menitipkan anak mereka ke keluarga yang ada di kota,” sebutnya.

Pada akhir 2019 lalu, sebuah perusahaan pengolah minyak kelapa sawit mengumumkan akan memperluas pabrik. Pembangunan kawasan industri termasuk sarana untuk perumahan karyawan. Perusahaan kemudian membeli tanah milik warga,” jelasnya.

Rumah milik Junaidi juga terkena perluasan pabrik. Akhirnya, dia dan 40 KK yang merasa cocok dengan harga yang ditawarkan perusahaan pun memutuskan pindah. Disebutnya, untuk nilai ganti rugi setiap warga mendapat nominal yang berbeda.

Dari Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. Bergantung luas tanah, kondisi bangunan dan tanam tumbuh. Dari 4 hektare kawasan permukiman, saat ini tersisa 1,5 hektare,” imbuhnya. Atau sekitar 60 persen permukiman kini bersalin kawasan industri. Warga memilih eksodus ke perkotaan atau kampung tetangga.

Berpencar, warga Kampung Teluk Waru sebagian besar membangun kehidupan kembali di Gang Iskandar, RT 08 di Salok Cina. Sisa permukiman, masih menunggu keputusan perusahaan. Masih ada tersisa sekitar 30 KK di Teluk Waru. Sisanya sudah pindah ke luar,” ucapnya.

Di luar persoalan sengketa tanah yang kini mendera, Kampung Teluk Waru kondisinya kini sudah berubah. Sepi aktivitas warga. Samar-samar hanya terdengar suara alat berat dan sejumlah pekerja yang mengenakan wearpack tampak mondar-mandir. Mengangkut balok dan seng sisa bangunan rumah.

Beberapa rumah sudah terendam air dari dampak pematangan lahan yang menuju ke arah Teluk Balikpapan. Membentuk danau. Di atasnya sejumlah truk dan alat berat sedang menimbun lokasi yang dulu berdiri rumah warga. Pemandangan dan suasana yang pernah disaksikan awak media terakhir kali berkunjung pada 2017 lalu sudah tidak lagi sama.

Ditanya soal kemungkinan lenyapnya Kampung Teluk Waru, Junaidi menyebut tidak bisa memprediksi. Itu bergantung dari rencana perusahaan ke depannya. Yang jelas, ada informasi kepadanya yang menyebut, akan ada lagi perusahaan yang bakal masuk membangun pabrik di Teluk Waru. Rencananya ada dua perusahaan lagi yang mau masuk. Mereka mau bangun pabrik CPO (crude palm oil),” sebut Junaidi.

Dari data yang dihimpun Kaltim Post, saat ini sedikitnya ada 10 perusahaan yang telah menancapkan bisnisnya di sekitar Kampung Teluk Waru. Dari sektor kayu, batu bara, sawit hingga pembangkit listrik.

PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) dan PT PJB UBJOM Kaltim Teluk dengan PLTU Balikpapan di sisi utara. Ada juga lokasi packing plant Semen Indonesia dan PT Wilmar Nabati di utara PT KKT.

Di selatan, bertetangga dengan Kampung Teluk Waru ada PT Kutai Chip Mill (KCM) yang dulu menjadi basis pembuatan bubur kertas di Kaltim. Namun akhir tahun lalu berganti menjadi PT Kutai Refinery Nusantara (KRN), yang bergerak di bidang industry refinery CPO, biodiesel, kernel crushing plant, refinery CPKO, dan oleochemical.

Dari peta, ada juga PT Kalimantan Prima Service Indonesia, PT Trisakti Utama Indah, Petrosea KSOB, PT Dermaga Bayan Perkasa Pratama, PT DPP Bayan Balikpapan Coal. (lihat grafis).

MUNCUL KELUHAN

Anggota DPRD Balikpapan Budiono kepada media ini mengaku mengetahui kondisi di Kampung Teluk Waru. Baginya kondisi masyarakat di sana serba-terbatas. Dan sering mengeluhkan dampak aktivitas dari perusahaan.

Ya beberapa kali saya ke sana terkait dengan keluhan masyarakat dan sekolah yang terganggu debu dan gatal-gatal akibat aktivitas perusahaan,” ucap anggota dewan dari daerah pemilihan Balikpapan Barat itu.

Rencana relokasi sekolah juga sudah didengarnya. Kajian yang ada disebut sudah sesuai revisi Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Balikpapan 2011-2031 yang mengakomodasi KIK Balikpapan.

Jadi selama sesuai RTRW dan proses jual-beli antara pemilik tanah dengan perusahaan sesuai ketentuan. Kemudian masing-masing pihak sepakat, maka tidak jadi masalah,” jelas politikus PDI Perjuangan itu.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Balikpapan Rahmad Masud menginginkan Kampung Teluk Waru tidak sepenuhnya menghilang. Masyarakat yang masih berdiam disarankan tidak menjual tanah mereka. Tetapi memanfaatkannya untuk kegiatan yang bersifat jangka panjang. Kalau bisa jangan dijual semua. Yang ada dimanfaatkan dengan kerja sama perusahaan,” ucapnya.

Dia menyebut, meski dalam RTRW Balikpapan wilayah tersebut diperuntukkan sebagai kawasan industri, namun Pemkot Balikpapan akan tetap berupaya membantu meningkatkan kehidupan masyarakat di sana. Bagaimana pun perkembangannya, saya tidak ingin ada sebuah kampung yang hilang di Balikpapan,” beber Rahmad, Minggu (16/8). (rdh/rom/k15)

 

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria