Beriun, kawasan pegunungan di Kecamatan Karangan sedang digandrungi pemuda Kutai Timur. Medan yang ekstrem menjadi tantangan bagi setiap pendaki. Vegetasi yang rapat dengan ketinggian 1.261 Mdpl merupakan area yang tidak mudah ditaklukkan.
LELA RATU SIMI, Sangatta
AREA itu pertama kali dibuka oleh ekspedisi Black Borneo Eiger, yang juga melibatkan salah satu pemuda Sangatta, yakni Muhammad Said Ghazali pada 2016 lalu. Sangat berkesan baginya, bahkan tidak mudah melupakan momen itu, sehingga ia menyentuhkan nama pegunungan tersebut pada putra keduanya yang lahir di Sangatta, 23 Desember 2016.
Beriun Fairel Baso, dilahirkan istri tercinta seusai dirinya turun dari pegunungan setelah ekspedisi itu. Bayi mungil berkulit putih itu dicita-citakan dapat menyambangi gunung yang menjadi namanya. Benar saja, empat tahun kemudian, tepat 17 Agustus lalu, balita itu dikenalkan langsung dengan pegunungan yang cukup jauh dari Sangatta.
Melewati sejumlah kecamatan, Karangan salah satu wilayah yang harus ditempuh dengan memakan waktu seharian, bisa-bisa berangkat pagi, tiba malam hari. Memang melelahkan, tapi itu bukan penghalang. Terlebih membawa anak yang berani untuk merayakan kemerdekaan bangsa dengan mengibarkan Sang Merah Putih di puncak menjadi kebanggaan tersendiri.
Kata Said, sapaan akrabnya, Beriun sangat antusias melihat banyaknya pohon tinggi, rapatnya hutan, hingga aliran air sungai kerap memancarkan senyum di wajah polosnya. Tidak seperti orang dewasa kebanyakan, Beriun sangat tertarik dengan ulat pacet yang kerap mengisap darah. Bukannya takut, bocah itu malah menjadikan hewan itu sebagai mainan. Uniknya, tidak ada satu jenis lintah menempel di kulitnya.
Sebagai orangtua, Said sering merasa khawatir putranya kelelahan. Namun, Beriun kerap menolak jika digendong, tak jarang dia merengek jika dipaksa. Lantang agak cadel suaranya meminta Said membiarkannya menapaki jalan menuju puncak.
"Di perjalanan menyisir pegunungan, Beriun jalan sendiri selama sejam lebih tanpa lelah, berkali-kali dibujuk untuk gendong tidak mau. Katanya mau jalan aja," ungkap Said saat ditemui Kaltim Post.
Beberapa titik memang tergolong area medan berat, hutan Kalimantan dikenal sangat menantang, bukit yang curam, batuan besar dan berlumut, hingga reruntuhan batuan kerap menghujani pendaki. Beriun sempat melewati jalur penyeberangan basah. Kendati hanya selebar 4 meter dan kedalaman tak sampai selutut, tetap saja membuat ibunya merasa khawatir. Namun, ayah Beriun sama sekali tidak khawatir karena dia percaya pada ketahanan tubuh anaknya, mental cukup baik, apalagi Beriun rutin diajak latihan fisik sebelum muncak.
"Dia tidak mau digendong, dia senang berjalan sembari melompat sana-sini. Malah sempat nangis karena ingin nyeberang sungai sendiri," tuturnya. (dra/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria