Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tepian Pandan Jadi Asal-usul Tenggarong yang Kini Berusia 238 Tahun

izak-Indra Zakaria • 2020-09-28 18:51:06
JADI IKON KOTA RAJA: Jembatan Repo-Repo yang menghubungkan Pulau Kumala di Tenggarong, Kukar.
JADI IKON KOTA RAJA: Jembatan Repo-Repo yang menghubungkan Pulau Kumala di Tenggarong, Kukar.

Keselamatan warga lebih utama. Begitu kira-kira gambaran perayaan HUT Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) kali ini di tengah pandemi Covid-19. Digelar lebih sederhana ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

 

RIFQI HIDAYATULLAH, Tenggarong

 

HARI ini (28/9), Tenggarong tepat berusia 238 tahun. Bila tahun sebelumnya Pemkab Kukar tak pernah absen menggelar berbagai kegiatan budaya, tahun ini perayaan tersebut terpaksa tak digelar.

Bukan karena anggaran yang tak ada, melainkan kondisi Covid-19 membatasi aktivitas semua pihak untuk melakukan kegiatan pengumpulan massa tersebut. Menjelang H-1 peringatan tersebut, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kukar menggelar kegiatan haul jamak di kediaman Adji Pangeran Ratu di Jalan Ahmad Yani, Tenggarong.

Dipimpin langsung Plt Bupati Kukar Chairil Anwar, kegiatan berlangsung khidmat. Kegiatan itu, kata dia, dimaksudkan agar pemaknaan HUT Tenggarong termasuk sejarah hari jadi Tenggarong tetap tersampaikan.

“Kami memang tidak bisa menggelar kegiatan secara besar untuk mendukung penanggulangan Covid-19. Kami harapkan, hal itu dipahami dan dimaklumi bersama. Tapi tentu tidak mengurangi rasa khidmat,” ujarnya.

Haul jamak kali ini, ucap dia, digelar untuk mendoakan para tokoh pendiri Tenggarong. Baik semasa Kesultanan Kutai hingga era pemerintahan RI. Selain menggelar sidang paripurna, dalam HUT Tenggarong, seluruh pegawai di lingkungan Pemkab Kukar diminta menggunakan pakaian miskat khas Kutai. Sehingga, euforia tentang HUT Tenggarong tetap terasa.

Tenggarong diketahui memiliki sejarah panjang sebelum terbentuk. Penulis buku sejarah Muhammad Sarip pun menceritakan berbagai peristiwa terbentuknya ibu kota kabupaten itu.

Kerajaan Kutai Kartanegara awalnya beribu kota di Jaitan Layar dan Tepian Batu, yang kini disebut Desa Kutai Lama. Kedudukan di Kutai Lama berlangsung selama lebih dari empat abad, terhitung sejak berdirinya Dinasti Aji Batara Agung Dewa Sakti tahun 1300.

Pada 1732, Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martapura memindahkan ibu kota Kerajaan Kutai Kartanegara ke Pemarangan-Jembayan. Pada tahun itu juga, putra mahkota, yakni Aji Muhammad Idris, naik takhta dan gelar raja diganti sultan.

Lima puluh tahun setelah beristana di Pemarangan-Jembayan, putra Sultan Aji Muhammad Idris, yaitu Aji Imbut memindahkan ibu kota Kesultanan Kukar ke wilayah hulu dari Jembayan. Nama kampungnya adalah Tepian Pandan yang dihuni oleh Suku Kedang-Lampong.

Penulis buku Dari Jaitan Layar sampai Tepian Pandan Sejarah Tujuh Abad Kerajaan Kutai Kartanegara itu menyebut, peristiwa perpindahan ibu kota dari Jembayan ke Tenggarong tersebut ditetapkan oleh Pemkab Kutai pada 28 September 1782.

Naskah asli Salasilah Kutai yang ditulis tahun 1849 tidak mengungkap alasan pemindahan tersebut. Namun, terdapat alasan yang masyhur dari folklor (cerita rakyat) bahwa Jembayan dianggap tidak bertuah lagi. Sehingga perlu mencari lokasi yang baru untuk istana sultan.

Aji Imbut yang bergelar Sultan Muhammad Muslihuddin menggunakan perahu dari Jembayan ke arah hulu. Ia singgah di suatu kampung yang beraroma wangi. Rupanya, wangi itu berkat tanaman pandan yang banyak tumbuh di lokasi tersebut.

Sesuai biotik khasnya, kampung itu bernama Tepian Pandan. Penghuninya adalah suku Kedang-Lampong yang dikepalai oleh Sri Mangku Jagat dan Sri Setia. Sultan memutuskan mendirikan istana baru di Tepian Pandan.

Beberapa waktu kemudian, nama Tepian Pandan berubah menjadi Tenggarong. Sedikitnya, ada tiga versi mengenai asal-usul penamaan Tenggarong. Versi pertama, menurut folklor, hal itu bermula dari kebiasaan orang Bugis yang menyebutkan “tangga arung” untuk menunjukkan kekesalan terhadap prajurit istana yang melarang mereka memakai tangga sultan di tepian menuju Sungai Mahakam.

Arung dalam bahasa Bugis berarti raja. Lama-kelamaan umpatan “tangga arung” berubah fonem pada huruf vokalnya menjadi “tengga-rong”.

Versi kedua nama Tenggarong berkaitan dengan tumbuhan tegaron. Dihikayatkan bahwa kampung itu banyak ditumbuhi pohon tegaron. Lantas, orang-orang Bugis yang membantu Aji Imbut dalam pemindahan pusat Kerajaan Kukar ketika melafalkan akhiran “n” berubah menjadi “ng” dan antara suku kata “te” dan “ga” disisipkan fonem “ng”, sehingga kata tegaron berubah menjadi Tenggarong.

Versi ketiga tentang asal usul nama Tenggarong adalah ungkapan Tangga Busu Haron. Ketika Aji Imbut tiba di Tepian Pandan, ia menatap ke arah hilir lalu melihat ada sebuah rumah yang tangganya masuk ke sungai.

Orang Kutai Lampong setempat menjelaskan bahwa rumah itu adalah milik seorang warga bernama Busu Haron, yang biasa dipanggil Aron. Sultan berdiskusi dengan menteri kerajaan dan akhirnya memutuskan memberi nama sungai kecil di lokasi itu dengan sebutan Tangga Aron.

Alasannya, di sungai tersebut terdapat tangga yang langsung berasal dari rumah Busu Haron alias Aron. Dari frasa Tangga Aron itulah lama-kelamaan berubah menjadi Tangga Arong dan selanjutnya mengalami reduksi jenis sinkop (pengurangan fonem di tengah kata) sehingga menjadi Tenggarong.

Pada periode pemerintahan Bupati Kutai Ahmad Dahlan (1965–1979), muncul gagasan pengembalian nama Tenggarong ke nama asalnya, yakni Tepian Pandan. Alasannya, pengembalian nama tersebut akan dapat menghayati kembali sikap yang dinamis dan kreatif dari Sri Mangku Jagat dan Sri Setia beserta anak buahnya suku Kedang Lampong.

Sikap itu seperti partisipasi yang diberikan oleh kedua kepala suku itu beserta anak buahnya dalam usaha mencari Tepian Pandan sebagai tempat kedudukan raja. Namun, upaya tersebut tampaknya tidak berhasil. Hingga sekarang nama ibu kota kabupaten tetaplah Tenggarong. (rom/k15)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature