Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Gerakan Rakyat Bantu Rakyat untuk Para Buruh Gendong Perempuan di Jogja

izak-Indra Zakaria • 2020-10-22 17:32:48
UNTUK SESAMA: Para relawan tengah menyiapkan bantuan makan siang bagi buruh gendong perempuan di Pasar Beringharjo kemarin (21/10). Winda Atika Ira Puspita / Radar Jogja
UNTUK SESAMA: Para relawan tengah menyiapkan bantuan makan siang bagi buruh gendong perempuan di Pasar Beringharjo kemarin (21/10). Winda Atika Ira Puspita / Radar Jogja

 

Mereka memasak dan membagikan ratusan nasi bungkus ke para buruh gendong perempuan di pasar tradisional Jogjakarta. Kebanyakan buruh gendong itu berusia lanjut dengan penghasilan yang merosot tajam selama pandemi.

WINDA ATIKA IRA P., Jogjakarta, Jawa Pos

 

MEREKA bersiap sejak pukul 07.00. Di sebuah bangunan di Umbulharjo, Kota Jogja, sebagian tampak memasak, sebagian lainnya sibuk membungkus. Ada pula yang siap membagikan.

Sekitar pukul 11.00, pengantaran pun dimulai. Ratusan bungkus makan siang diantarkan ke para buruh gendong perempuan di Pasar Beringharjo, Kota Jogja.

Kemarin (21/10) merupakan hari ketiga Gerakan Rakyat Bantu Rakyat secara sukarela melakukan kegiatan itu. Dan, para buruh gendong sangat antusias menyambut uluran tangan mereka.

Terbukti, permintaan makan siang terus bertambah. ’’Dari awal kami buka perdana (Senin, 18/10), hanya 130 bungkus per hari. Mulai hari kedua, ada tambahan permintaan,’’ kata M. Berkah Gamulya, salah seorang inisiator Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan #rakyatbanturakyat, saat ditemui Jawa Pos Radar Jogja di Warmindo Bakzoo kemarin.

Ada tambahan 15 bungkus untuk hari kedua dan ketiga. ’’Mereka butuh menghemat uang dan pengeluaran,’’ ujarnya.

Gerakan itu bertunas pada situasi pandemi yang berkepanjangan. Yang otomatis berdampak pada perekonomian.

Jogja yang bergantung pada sektor pariwisata termasuk yang ikut terpukul. Selama pandemi, jumlah pengunjung Pasar Beringharjo yang berada di kawasan Malioboro, destinasi utama di Kota Gudeg, menurun.

Alhasil, pendapatan para buruh gendong juga menurun. Sehari rata-rata hanya mengantongi Rp 15 ribu.

Padahal, banyak buruh gendong yang berasal dari luar Kota Jogja. Otomatis perlu mengeluarkan ongkos untuk sampai di tempat mereka mengais rezeki.

’’Belum lagi ditambah biaya akomodasi dan makan sehari-hari. Kami di sini mencoba untuk meringankan beban mereka meski sedikit, setidaknya bisa hemat pengeluaran makan,’’ jelasnya.

Lalu, kenapa yang dibantu buruh gendong perempuan? Pertimbangannya, dipilih yang paling marginal, yaitu buruh gendong upah tak menentu yang sudah memikul berkilo-kilogram di atas pundak mereka untuk mengangkut barang bawaan. Kebanyakan di antara mereka perempuan lansia. Berkah mengakui, sebenarnya masih banyak kelompok masyarakat rentan lain yang membutuhkan bantuan serupa.

’’Tapi, kami mengukur kemampuan kami, kapasitas kami. Karena baru mulai, kapasitas kami juga masih terbatas,’’ terang Berkah.

Sejauh ini sudah ada 35 orang yang bergabung sebagai relawan dari berbagai elemen masyarakat. Ada mahasiswa, pelajar, pekerja kantoran, bahkan mantan pengusaha katering. Ada juga koki atau chef, baik yang sudah dirumahkan maupun yang masih aktif bekerja. Mereka sama-sama meluangkan waktu untuk membantu buruh gendong.

’’Rencana kami lima hari untuk Beringharjo 145 bungkus. Selanjutnya, rolling ke pasar lain,’’ sambungnya. Jadwal pembagian bantuan makan siang bagi buruh gendong perempuan itu mulai Senin hingga Jumat selama dua kali putaran untuk empat pasar tradisional. Ditargetkan, sesuai donasi yang ada, mampu mencukupi hingga 13 November mendatang.

Untuk pekan depan, para buruh gendong perempuan di Pasar Giwangan yang mendapatkan giliran. Jumlahnya 100 orang. Lalu, Pasar Gamping 42 orang dan Pasar Kranggan 9 orang. Kecuali Gamping yang masuk wilayah Sleman, tiga pasar lain berada di Kota Jogja.

’’Prinsip kerelawanan kami, apa yang kami punya, kami bisa, dan kami mampu. Biar sedikit tapi maksimal,’’ tambahnya. Kebanyakan donatur dari dalam Jogja menyumbangkan beras, sayuran, dan logistik lain. Sementara itu, dari luar Jogja, kebanyakan mendonasikan uang.

’’Antusiasme warga untuk bergotong royong juga bagus. Tak sedikit donatur yang berdatangan langsung,’’ imbuhnya. Ke depan, jika semuanya berjalan lancar, bukan tidak mungkin mereka meluaskan sasaran ke kelompok-kelompok rentan lain di Jogja.

Rentang usia para relawan juga beragam. Diah Astuti, salah seorang relawan paling senior. Perempuan 59 tahun itu merupakan kepala koki di dapur umum tersebut.

Diah menentukan menu-menu yang disiapkan setiap hari. Juga, mengontrol kualitas rasa masakan sebelum dikirim ke para buruh gendong. ’’Ini tadi menunya nasi terong balado, telur dadar, bakwan jagung ditambah air. Menunya masakan rumahan yang tidak berkuah karena dibungkus,’’ katanya.

Sebelumnya, ibu tiga anak itu menjadi pengusaha katering di Jakarta. Semula dia berencana pindah tempat usaha ke Jogja. Tapi, mendadak ada pagebluk korona.

Urunglah niatnya untuk membuka usaha katering. ’’Anak saya ngasih tahu ada kegiatan sosial ini dari media sosial. Saya langsung tertarik sekalian untuk mengisi waktu luang,’’ ujarnya di sela membantu membungkus nasi. Sebagai pengusaha katering, dia sudah beristirahat kurang lebih satu tahun. Dia mengakui, ada yang hilang. Karena itu, begitu mendengar ada kegiatan sosial untuk membantu para buruh gendong, muncullah kerinduan untuk bisa menyalurkan keahlian memasak bagi banyak orang.

’’Kerja sosial seperti ini menyenangkan karena udah usia ya mau cari apa lagi. Yang penting bisa bantu orang banyak dan bermanfaat,’’ katanya. (*/c7/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature #Sulawesi dan Jawa