Permasalahan rumah tangga yang dialami Anita Angelina sangat pelik. Perempuan 35 tahun itu bukan hanya sasaran tindak kekerasan suaminya. Buah hatinya yang berusia 2 tahun diduga juga menjadi korban penganiayaan suami.
SAMARINDA–Anita Angelina bertandang ke Polresta Samarinda, kemarin (4/11), didampingi tim reaksi cepat (TRC) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Korwil Kaltim, serta lembaga bantuan hukum (LBH) Lumbung Informasi Rakyat (Lira). Tujuannya mengadukan dugaan penculikan dan penyiksaan putranya.
Pelakunya DD, suaminya, beserta mertua, saudara (adik ipar), dan beberapa orang. Dugaan penculikan itu diduga dilakukan Kamis (29/10) malam, di kediaman pengasuh anak keduanya, yakni Yasin (50) dan Sri Rahayu (43) di kawasan Lempake, Samarinda Utara. "Dia (DD) enggak izin sama saya. Ngomong ke pakde dan bude (sapaan akrab ke pengasuh anaknya) mau bawa ketemu kakeknya, sudah ngomong juga," ungkap Anita Angelina.
Anita yang mendapat pesan singkat dari pengasuh anaknya langsung bertolak ke Samarinda. Sambil menghubungi nomor ponsel suaminya. Namun, sudah tidak aktif. "Saya habis visum juga di rumah sakit karena siang saya dianiaya di Sangatta pas mau ke sini (Samarinda)," lanjutnya.
Berkali-kali dihubungi, panggilan seluler tidak tersambung. Mencoba usaha lain, Anita melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sungai Pinang. "Saya lapor ke Polsek Sungai Pinang ternyata sebelumnya suami saya sudah ke sana. Menceritakan yang tidak-tidak. Saya juga dilaporkan penggelapan mobil di Polres Kutim," jelasnya dengan nada kesal. Lima hari anaknya dibawa suaminya yang berdomisili di Bontang, akhirnya kembali ke rumah pengasuh. Tepatnya pada Selasa (3/11) dini hari.
"Dia (DD) kembalikan sama selingkuhannya (AS). Tapi saat anak saya kembali ada lebam di pergelangan kaki dan punggung. Wajahnya juga ada goresan. Rewel jadinya. Beratnya juga turun. Saya yakin dianiaya. Tapi tidak tahu oleh suami saya, selingkuhannya atau keluarga," duganya sambil memperlihatkan foto lebam di tubuh anaknya.
Penganiayaan anaknya, sambung Anita, tak lepas dari yang dialami sebelumnya. Sebelum mendapat kabar anaknya diculik, perkelahian antara Anita dan suaminya sempat terjadi pada siang harinya (29/10). Perempuan yang berprofesi konsultan perkebunan kakao di Kaubun, Kutim, itu sempat mendapati suaminya sedang bermesraan dengan perempuan idaman lain (PIL), di salah satu hotel di Sangatta.
"Memang ingin ke Samarinda, tengok anak. Nah saya sering nginap di hotel itu sebelum ke Samarinda. Ternyata ada suami saya sama selingkuhannya," jelas Anita.
Mendapati suaminya tengah bermesraan dengan perempuan lain, Anita lantas mengirimkan pesan singkat. Bukannya mendapat permintaan maaf, Anita malah dikurung di kamar hotelnya. "Saya dikunci dari luar, dari Isya sampai pukul 09.00 Wita," terangnya. Perlakuan kasar juga sempat diterima, ketika dijanjikan untuk diantarkan menuju Kota Tepian. "Enggak diantar, tapi dicarikan mobil travel. Pas di Km 5 itu akhirnya cekcok. Ditarik keluar. Perut saya ditendang dua kali dan tangan dipukul," terangnya (lihat infografis).
Setelah puas menganiaya istrinya, DD keluar dari mobil yang kemudian dimanfaatkan Anita untuk menguasai mobil dengan mengunci seluruh pintu dari dalam. "Saya bawa mobilnya. Namanya blank sempat keterusan mau ke Balikpapan. Pulangnya pas dapat kabar anak dibawa itu," tuturnya.
Anita sebenarnya sempat mendapat pesan singkat dari DD. Mengabarkan buah hatinya akan dikembalikan jika mobil yang dibawanya juga diserahkan. "Ya emosi saya. Masa nyawa seorang anak ditukar dengan mobil. Saya sudah laporkan juga apa yang saya alami di Polres Kutim. Dan untuk kasus penculikan dan penganiayaan anak saya, bikin laporan di Polresta Samarinda," jelasnya.
Kanit PPA Iptu Teguh Wibowo menyebut belum menerima laporan dari petugas piket mengenai laporan Anita terkait dugaan penculikan dan penyiksaan anak. "Nanti saya cari tahu dulu. Kebetulan sedang dinas di luar, ada penyuluhan PPA. Nanti saya informasikan kembali," singkatnya. (*/dad/dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria