Kayun Kuleng berjaya di negeri orang. Setelah berhasil menjadi juara dalam Digifest Poland Caravan Culture Festival International 2020 di Polandia. Kayun Kuleng mengalahkan peserta yang berasal dari 30 negara di dunia.
DINA ANGELINA, Balikpapan
NAMA Indonesia dan Kaltim sekali lagi menoreh prestasi. Kali ini lewat penampilan tarian tradisional. Kayun Kuleng harus melewati berbagai persiapan dan kendala hingga akhirnya dapat menuai hasil manis tersebut. Meski dengan berbagai kendala, semangat anak-anak Bumi Etam tak padam.
Ketua Kayun Kuleng Grup Mei Christhy mengatakan, keterlibatan pihaknya dalam Poland Culture Festival 2020 berangkat dari undangan yang dikirim panitia. Sebelumnya, Kayun Kuleng pernah berpartisipasi dalam kegiatan serupa pada 2016. Tim ini meraih gelar grand prix.
Namun saat itu, dia berkolaborasi dengan berbagai sanggar dari Jakarta dan Lampung. Akhirnya saat undangan Poland Culture Festival ini masuk, Mei membuat tim lagi yang murni berasal dari Kaltim. Salah satunya menggandeng Serumpun Lima Studio.
Mei mengajak personel sekitar delapan orang untuk berkompetisi dalam kompetisi tersebut. Ada yang berasal dari Balikpapan, Desa Budaya Pampang di Samarinda, hingga Desa Nehas Liah Bing di Kutai Timur. Mei bercerita, sesungguhnya rencana acara ini digelar pada Maret. Namun karena pandemi, acara terpaksa ditunda.
Padahal sudah H-4 waktu keberangkatan pada 19 Maret. Negara tujuan menerapkan lockdown dan panitia memutuskan acara pending. Padahal tim Kayun Kuleng sudah siap berangkat. Mulai keperluan tiket, visa, hotel, registrasi lomba, dan sebagainya.
“Apalagi ini biaya mandiri karena tidak dapat sponsor dari manapun. Lumayan besar keluarkan dana dan batal,” ujarnya. Setelah berlalu sekian lama, akhirnya muncul kabar bahwa acara digelar secara virtual pada November. Namun, peserta diminta buat karya dalam bentuk video.
“Hanya diberi waktu dua minggu untuk produksi video dengan persyaratan standar internasional. Terutama dari sisi pengambilan gambar,” bebernya. Padahal pihaknya masih kesulitan dana akibat biaya pembatalan berangkat. Sementara beralih harus membuat video profesional yang tentu memerlukan biaya juga.
“Video beda dengan perform stage harus ada sesuatu yang menarik dengan properti. Kita bikin konsep ulang dan lebih kreatif, mikirin lokasi lagi,” tuturnya. Jadi semua terasa lebih sulit. Koreografer yakni Andin Destian menata ulang komposisi tarian. Sedangkan dirinya harus menyiapkan konsep video dan properti tambahan.
Mei mengumpulkan seluruh personel dari Samarinda dan Kutim dibawa ke Balikpapan. Mereka harus stay untuk latihan dan pengambilan video. Latihan selama seminggu dari pagi sampai malam untuk tarian versi video. Kemudian shooting sehari dari pagi sampai sore di Kebun Raya Balikpapan.
Kayun Kuleng mengirimkan video tarian folk berdurasi 8 menit 21 detik. Sesuai deadline pada 14 November. Mereka membawakan tarian dari Dayak Wehea dengan judul Pediy Nak Lehan The Spirit of Hornbill. Dia bercerita, tarian itu menampilkan kisah tentang seorang putri yang sakit karena diguna-guna.
Kemudian teman-teman lainnya bersatu dan berdoa untuk kesembuhan putri tersebut. “Mereka memanjatkan doa ke Dewa Enggang karena Dayak identik dengan itu. Ketika mereka bersatu dan menyelesaikan masalah ini bersama, si putri bisa sembuh dari sakit,” bebernya.
Mei mengungkapkan, pesan yang ingin disampaikan bicara kesatuan dan persatuan. Semua masalah akan lebih mudah selesai jika bersatu. “Kami tuangkan pesan dalam video, opening video ada bendera Merah Putih, dan simbol Garuda Pancasila,” sebutnya. Ada penampilan tarian dari beberapa etnis di Nusantara.
“Pesan dalam video ini apapun warnanya, kita tetap Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan dan kesatuan penting di tengah situasi pandemi dan masalah politik,” imbuhnya. Dalam kompetisi tersebut, Kayun Kuleng bersaing dengan 100 peserta lain dari 30 negara di dunia.
Mengingat ada berbagai lomba musik dan tari yang terbagi lagi dalam beberapa jenis. Seperti untuk tari ada kategori modern dance, ballet, folklore, dan sebagainya. Serta yang tak kalah sulit adalah menaklukkan hati juri. “Ada 10 juri dari berbagai negara dan latar belakang. Termasuk Miss Poland,” ucapnya.
Perempuan berusia 37 tahun itu mengatakan, pihaknya justru menghindari peserta dari sesama Asia yang dianggap sebagai saingan berat. Sebab, negara-negara Asia memiliki kebudayaan yang kuat. Kemudian kurang lebih kebudayaan di antarnegara Asia hampir mirip.
“Apalagi folklore memang dari Asia lebih disegani. Saingan berat India, Malaysia, Thailand, dan negara sekitar,” tuturnya. Salah satu kisah yang berkesan, Kayun Kuleng tidak mengetahui jika mereka berhasil menyabet gelar juara satu. Pengumuman acara virtual disampaikan melalui surat elektronik pada 27 November.
“Ada e-mail pengumuman yang masuk, tapi dengan tulisan bahasa mereka. Kami awalnya bingung dan tidak mau terlalu pede (percaya diri),” tuturnya. Namun karena penasaran, beberapa hari kemudian, Mei memberanikan diri menghubungi panitia dan konfirmasi. Ternyata hasilnya benar, Kayun Kuleng menang dalam folk dance.
Panitia mengumumkan terdapat additional award pada 1 Desember. Setelah itu, Kayun Kuleng terpilih mewakili asosiasi. Mereka diberi kesempatan untuk tampil di World Association of Performing Arts, World Superstar 2020 di Las Vegas, Amerika Serikat.
Juri memberi rekomendasi Kayun Kuleng untuk mewakili asosiasi tampil di acara tersebut. “Kita tidak menyangka karena dari sekian banyak peserta kita terpilih. Padahal ada pemenang dengan gelar grand prix. Kita juga cek kebenarannya dan tidak main-main event ini,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, acara di Las Vegas menghadirkan para pemenang yang berkompetisi dari seluruh asosiasi. Mereka disorong lagi untuk tampil dan mengikuti festival. Mereka mendapat deadline untuk kirim video lomba tari dengan batas waktu pada 25 Desember.
“Sekarang kami fokus ke sana. Karena dari seleksi video disaring lagi empat grup terbaik untuk tampil di Las Vegas,” sebutnya. Kalau nanti di Las Vegas, kabar sementara bersaing dengan 20 peserta yang berasal dari 20 negara. Kegiatan itu bekerja sama dengan UNESCO.
“Semoga bisa tembus lagi empat besar dan dapat perhatian dari pemerintah seperti pendanaan. Karena sebelumnya semua dana mandiri,” harapnya. Mei mengatakan, perjuangan besar untuk event di Polandia karena persiapan semua dilakukan sejak Desember tahun lalu. Sekitar setahun.
Dia berharap pemerintah mengapresiasi dengan memberi bantuan untuk pembinaan atau pendanaan saat kompetisi. Apalagi dari kesempatan penampilan di ajang festival internasional, peserta bisa memperkenalkan dan promosi negara. Baik pariwisata maupun kebudayaan.
“Kami pasti ada kesempatan untuk presentasi dan bagi pamflet tentang Indonesia. Jadi dampak panjang bisa meningkatkan jumlah wisatawan,” katanya. Dia menyinggung, sejauh ini pemerintah seperti tidak memberi apresiasi dan perhatian kepada pariwisata serta kebudayaan masih sangat kecil.
“Pemerintah dari negara lain sangat memberi apresiasi. Kenapa negara sendiri kita tidak?,” tanya dia penuh heran. Budaya masih dianggap remeh dan nomor sekian. Menurutnya jangan sampai nanti budaya sudah diklaim baru dijaga. Bila pemerintah kesulitan karena terbatas APBD, seharusnya bisa memanfaatkan dana corporate social responsibility (CSR). (rom/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria