Seperti bentuk kipas, Delta Mahakam begitu menarik. Tidak hanya urusan cadangan minyak, kawasan Delta Mahakam juga begitu baik untuk pertumbuhan ikan dan udang. Apalagi, udang jadi primadona ekspor. Maka, jangan heran jika kawasan itu kini mayoritas telah beralih menjadi area tambak.
NOFIYATUL CHALIMAH, Samarinda
Delta Mahakam meliputi tiga kecamatan di Kukar. Kecamatan itu antara lain Muara Badak, Anggana, dan Muara Jawa. Saat ini, dari data Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Delta Mahakam, 54 persen atau 61,5 ribu hektare kawasan tersebut adalah tambak. Sedangkan hutan mangrove primer hanya 0,34 persen atau sekitar 388,5 hektare. Untuk hutan bakau (mangrove) sekunder 22,39 hektare atau seluas 25,4 ribu hektare.
Mulyono Sarjono, program manager Planete Urgence, salah satu organisasi non-pemerintah yang fokus pada isu bakau mengatakan, Delta Mahakam itu ekosistem khusus. Daerah ini merupakan kawasan temuan antara darat dan laut, serta menjadi muara sungai besar, yaitu Mahakam.
Mulyono mengisahkan, pada dekade 70-an, hampir semua Delta Mahakam tertutup bakau. Berjalannya waktu, makin bertambah masyarakat yang membuka tambak dan rumah.
"Lalu, krisis moneter banyak membuka ruang tambak. Soalnya ekspor udang kan mahal banget. Tetapi laju tak terkendali. Kemudian pada 2000-an banyak datang dari luar buat buka tambak juga. Dari Jawa, Sulawesi. Tambak sudah 54 persen di wilayah itu," jelas Mulyono.
Angka tersebut belum termasuk pembukaan lahan untuk rumah dan sebagainya. Dia melanjutkan, hutan asli di kawasan Delta Mahakam sangat sedikit.
Maraknya pembukaan tambak ini memang tak lepas dari kebutuhan ekonomi. Regional Director of Asia and Country Representative Planete Urgence Indonesia, Yuyun Kurniawan mengatakan, saat ini tantangan pemerintah adalah dengan mengajak petambak melakukan kegiatan tambak ramah lingkungan. Selain itu, juga memberi peluang perhutanan sosial. Sebab, kawasan Delta Mahakam itu milik negara.
"Kondisi sekarang memang krisis, tapi harus ada restorasi," ucapnya.
Di sisi lain, dia melanjutkan yang mengancam kawasan Delta Mahakam tak hanya urusan pembukaan lahan di Delta itu sendiri. Tetapi, juga pembukaan lahan di hulu, yang menyebabkan sedimentasi di hilir. Belum lagi kapal besar lewat yang bisa mengganggu vegetasi muda di kawasan bakau.
Masifnya pembukaan lahan bakau di Delta Mahakam diakui Ahmad Nuryawan dari Yayasan Mangrove Lestari (YML), salah satu organisasi penerima hibah Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan.
Untuk diketahui, program TFCA Kalimantan melakukan penyaluran hibah kepada lembaga penerima hibah untuk kegiatan-kegiatan konservasi hutan di Kalimantan. Program ini bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati yang penting, meningkatkan mata pencaharian masyarakat di sekitar hutan, mengurangi emisi dan deforestasi dan degradasi hutan.
Nah, di Delta Mahakam, degradasi hampir menyeluruh di segala sisi. Saat ini beberapa pihak berupaya untuk pemulihan. Urusan tambak ini harus dicari win-win solution. Tidak bisa serta-merta menyuruh petambak menutup tambaknya, sebab itu sumber nafkah. Tetapi harus dicari cara agar tambak bisa lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun sayang, mengubah mindset masyarakat, menjadi yang paling sulit.
Disebut lelaki yang akrab disapa Angga itu, pihaknya pun bekerja sama dengan beberapa lembaga untuk membina dan memberi pemahaman kepada masyarakat untuk melakukan tambak ramah lingkungan.
"Win-win solution itu ya silvofishery (menanam bakau di areal tambak). Saat ini sudah ada beberapa demplot. Ada tiga kecamatan yang dimonitoring," kata Angga.
Dia melanjutkan, padahal tambak yang ada bakaunya, produksi ikan lebih stabil. Maka dari itu, kebiasaan tidak ramah lingkungan harus diubah. Tidak sekadar menanam bakau, tapi menghindari bahan kimia.
Dikatakan Angga, pelaku usaha perikanan di Delta Mahakam kebanyakan berasal dari kultur masyarakat pertanian, bukan perikanan. "Kalau masyarakat asli perikanan tidak pakai pestisida," ucap dia.
Pestisida biasanya buat membunuh hama. Di Delta Mahakam sebenarnya tambak tradisional tidak perlu teknologi rumit. Kalau hama mengganggu berupa kompetitor, seperti kerang, bisa dibersihkan manual. Tetapi yang berat kalau ada predator ikan dan ular.
"Namun, penggunaan pestisida sangat destruktif dia membunuh hewan berdarah merah dan berdarah putih. Efek bahaya pestisida adalah daya bunuh dia hingga ke bakteri pengurai unsur hara. Sehingga, ikan dan udang juga susah hidup. Kalau ada itu, efek buruknya bisa sudah enggak ada lahan lagi untuk tambak," sebutnya.
Sekarang, ditambahkan Angga, terkadang panen sering gagal. Soalnya kualitas perairan makin buruk. Sebab, pertambahan populasi manusia akan menjadi beban lingkungan. Untuk itu, perlu bakau untuk meningkatkan kualitas air.
"Lalu daya dukung lahan. Kalau daya dukung lahan berkurang, penyakit udang makin besar. Baik bakteri, parasit, dan virus. Kalau lingkungan bagus, kondisi udang juga bagus," sambungnya.
Di sisi lain, YML juga tengah memberdayakan kaum ibu di kawasan Delta Mahakam untuk menambah nilai produk dari Delta Mahakam. Mulai dari aneka ikan, hingga buah-buahan bakau.
"Paradigma yang dibangun itu keberlanjutan dan alternatif nafkah. Bisa dari bikin jasa lingkungan. Supaya ibu-ibu juga diberdayakan," papar lelaki yang lama tinggal di kawasan Delta Mahakam itu.
Meski begitu, secara budaya diakui Angga, kunci di kawasan Delta Mahakam adalah memberikan pemahaman para penggawa. Sebab, penggawa cukup berpengaruh di kawasan ini. Biasanya, penggawa adalah mereka yang memiliki finansial lebih dan memberikan modal masyarakat yang ingin membuka tambak. Bukan rentenir, tetapi yang diberi modal bisa mengembalikan kapan dia mampu saja. Walhasil, tak sedikit yang memiliki utang budi.
MENCARI SOLUSI
Sementara itu, untuk mengembangkan dan melindungi Delta Mahakam, sejak Maret 2020, dibentuk KPHP Delta Mahakam. Christanus Benny pun ditugasi menjadi pemimpin pertama di KPHP Delta Mahakam. Benny menjabarkan, Delta Mahakam memiliki luas 113 ribu hektare, dengan 64 pulau, dan 54 persen kawasannya merupakan tambak rakyat lokal.
"Tahun 80-an mangrove 80 persen. Sekarang 23 persen mangrove. Padahal mangrove juga sumber karbon terbesar bersama gambut," kata Benny yang juga baru saja dilantik menjadi kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim.
Dilanjutkan Benny, sejak dibentuk, pihaknya pun terus berpacu agar bisa menekan laju kerusakan Delta Mahakam. Opsi menjadikan Delta Mahakam sebagai tempat wisata pun dipilih.
Di Anggana, ada wilayah Sungai Abab. Bersamaan dengan Muara Badak, pihaknya berencana membuka ekowisata.
"Di situ mau buat bike mangrove park keliling tambak di Muara Badak dan keliling sawah di Anggana," sebut Benny.
Selain itu, pemerintah juga berencana membuka wisata sisir delta. Termasuk juga wisata melihat buaya dan bekantan. Selain wisata itu, juga mengembangkan pabrik rumput laut merah di Muara Badak untuk menambah nilai komoditas kawasan Delta Mahakam. Sehingga, bisa menyejahterakan rakyat dengan alternatif pekerjaan lain.
Dari 2017 ada 4 kelompok tani, yang sedang mengurus perizinan perhutanan sosial. Saat ini, sedang dinilai kementerian. Diharapkan jika perhutanan sosial sudah didapat, masyarakat bisa memanfaatkan lebih baik.
Soal kelestarian bakau, pihaknya sudah menanam ribuan bibit bakau. Termasuk beberapa perusahaan yang juga memiliki kesadaran perlu menanam bakau. Di sisi lain, juga memberikan pemahaman kepada para petambak.
"Kami sudah ketemu pengusaha udang, petambak besar, untuk ikut sosialisasi lingkungan. Bikin buku soal tambak ramah lingkungan. Kami minta kiri-kanan tambak ya tanam 100-200 pohon," sebutnya.
Tetapi, tak semua mau. Alasan petambak tak mau ramah lingkungan, karena lebih nyaman dengan pola lama. Meski begitu, juga ada yang sudah sadar manfaat menanam bakau. Sebab mereka merasakan sendiri manfaatnya ketika ada bakau, produksi udang bisa bertambah.
Soal produksi tambak yang meningkat, diamini oleh Ibrahim. Warga Muara Badak Ulu yang sejak 2008 melakukan penanaman bakau di area tambak ini mengatakan, peningkatan produksi dirasakan para petambak di daerahnya. Apalagi, mereka yang tambaknya sudah tua.
"Kalau ada mangrove, ada lagi tempat ikan, udang, dan kepiting buat bernaung. Jadi makin sehat dia," kata Ibrahim.
Dia mengungkapkan tak perlu susah-susah mengajak masyarakat untuk melakukan penanaman bakau. Sebab, mereka melihat hasil dari tambak tua yang makin meningkat, padahal sebelumnya turun. Walaupun peningkatannya tak pasti, mereka mulai paham sendiri.
Ibrahim mengatakan, awalnya penanaman ini bagian dari program pemerintah. Lalu, karena manfaat yang dirasakan, banyak yang tertarik.
"Tambak-tambak tua yang sudah bertahun-tahun itu, biasanya produksinya menurun. Cara mengatasinya ya dengan mangrove," ucapnya.
BEKANTAN KEHILANGAN HABITAT
Pembukaan lahan bakau dan tambak yang tak ramah lingkungan, tidak hanya berdampak pada nilai ekonomi produksi tambak. Alih fungsi lahan tanpa menyisakan ruang, tentu saja membuat banyak satwa yang habitatnya di bakau, kehilangan rumahnya. Salah satunya adalah bekantan. Hewan ini, hidupnya di di kawasan rivarian (sisi sungai) dan bakau. Namun, akibat rumahnya banyak dirambah, si monyet hidung besar ini hidupnya berubah.
Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman dan Koordinator Peneliti team Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) Yaya Rayadin, pernah mengungkapkan hasil studi kamera trap sejak 2013–2017 yang dilakukan timnya di beberapa titik kawasan di Kaltim. Dari kamera tersebut, peneliti berhasil merekam dan memotret beberapa grup bekantan yang bergerak di atas permukaan tanah.
“Hal ini sangat menarik karena selama ini kita hanya mengenal bahwa bekantan hanya hidup dan bergerak di atas pohon. Itu pun dalam habitat yang khusus, yaitu di kawasan rivarian (kanan-kiri sungai) dan mangrove. Faktanya, hasil studi kamera trap menunjukkan banyak merekam pergerakan bekantan di atas permukaan tanah,” jelasnya.
Ironisnya lagi, pergerakan tersebut justru terekam di kawasan perkebunan sawit, hutan tanaman industri (HTI), dan kawasan reklamasi tambang. Kawasan tersebut selama ini dikenal bukan sebagai habitat bekantan.
Populasi hewan bernama ilmiah Narsalis larvatus itu di luar negeri dikenal dengan nama Proboscis Monkey. Populasinya di Pulau Borneo berada dalam ancaman serius yang disebabkan semakin berkurangnya wilayah bakau serta adanya pembangunan di sekitar wilayah rivarian.
Diperkirakan di seluruh Borneo termasuk di negara jiran, Malaysia, populasi bekantan hanya bersisa 15–20 ribu ekor. Bekantan hidup berkelompok dan sangat bergantung dengan vegetasi bakau serta beberapa jenis pohon di wilayah rivarian. Adanya perusakan dan penghilangan vegetasi yang ada di atasnya sangat mudah mengganggu populasi bekantan.
"Perubahan perilaku dari arboreal (bergerak di atas tajuk pohon) ke terestrial (bergerak di atas permukaan tanah) akan membawa beberapa konsekuensi terhadap terganggunya kelestarian populasi bekantan,” paparnya.
Pada dasarnya, selain vegetasi di atas pohon yang berkurang, bekantan memilih berjalan juga sebagai upaya mereka mencari makanan. Hutan makin sedikit, vegetasi berkurang, makanan pun susah dicari. Imbasnya, bekantan yang bergerak di atas permukaan tanah akan mudah dimangsa satwa lain. Di antaranya, piton, macan dahan, bahkan bekantan kecil sangat potensial diterkam kucing hutan. Maka dari itu, menjaga daya dukung kawasan lingkungan Delta Mahakam menjadi cara agar urusan ekonomi manusia dan kelangsungan hidup satwa, bisa jalan beriringan. (***/dwi/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria