Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menengok Ternak Tikus untuk Pakan Reptil hingga Penelitian, Pernah Disatroni Piton, Kekenyangan dan Terjebak di Kandang

izak-Indra Zakaria • 2021-02-06 12:11:23
TIKUS PUTIH: I Wayan Sudarma saat menunjukkan tikus putih yang ia ternak, Jumat (5/2).DEWA RASTANA/BALI EXPRESS
TIKUS PUTIH: I Wayan Sudarma saat menunjukkan tikus putih yang ia ternak, Jumat (5/2).DEWA RASTANA/BALI EXPRESS

Bagi sebagian orang tikus mungkin merupakan binatang yang menjijikan, namun tidak bagi pria yang satu ini. Ia bahkan beternak tikus dan diburu oleh para pecinta reptil sebagai pakan reptil hingga untuk penelitian di kampus-kampus yang ada di Bali.

 

Beternak ayam atau itik mungkin merupakan hal biasa, namun I Wayan Sudarma, 53, memilih untuk beternak tikus putih dengan nama latin Rattus Norvegicus. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Sudarma menuturkan bahwa ia memulai ternak tikus sejak dirinya pensiun dari salah kelab malam di Legian, Kuta. Ketika itu salah seorang temannya menyarankan dirinya untuk memulai ternak tikus putih, karena masih jarang ada peternak tikus di Bali. "Awalnya saya mau buka warung sembako, tapi salah satu teman menyarankan berternak tikus, katanya bisa dijual ke pecinta reptil dan dipakai penelitian atau praktikum. Di Jawa sudah banyak (peternak tikus,Red) di Bali masih jarang," ujarnya saat ditemui Jumat (5/2).

Atas saran tersebut ia kemudian membeli indukan tikus putih sebanyak 20 ekor di pasar burung. Dengan modal awal Rp 5 juta, dirinya pun mulai beternak tikus putih. "Setelah berkembang saya mulai pasarkan door to door awalnya, lalu ke pasar hewan, kemudian mulai dipasarkan online lewat media sosial sampai sekarang," papar pria yang beralamat di Jalan Batuyang, Gang Pipit/Lingkungan Pipit Permai 3C, Nomor 32, Banjar Tegeha, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Gianyar tersebut.

Di samping itu ia juga memasarkan kepada komunitas pencinta reptil, dimana tikus putih tersebut dijadikan pakan bagi reptil seperti ular dan sejenisnya. Tak hanya itu saja, tikus putih juga banyak dicari untuk keperluan penelitian atau praktikum di universitas. "Juga dijadikan pakan burung hantu, dan banyak dicari untuk praktik mahasiswa di kampus-kampus," sebutnya.

Ia menambahkan jika ia berternak jenis tikus besar yang biasa disebut rat dan tikus kecil yang biasa disebut mencit. Saat ini di peternakan tikus miliknya kini terdapat sekitar 1.000 ekor tikus putih baik indukan dan anak. Namun kata dia jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan saat sebelum pandemi. "Sebelum pandemi sampai 2.500 ekor, sekarang hanya 1.000 ekor," sambung saat ditemui di kandang tikus seluas 1 are miliknya tersebut.

Untuk harga kata dia bervariasi tergantung beratnya, tikus putih dengan berat 150 gram dibanderol dengan harga Rp 50.000 per ekornya. Sedangkan tikus putih ukuran small dibandrol Rp 12.000 per ekornya, dan tikus baru lahir seharga Rp 5.000. "Tikus yang hamil juga ada yang mencari harganya Rp 5.000 sampai Rp 100.000, biasanya digunakan untuk praktik bedah sesar," paparnya.

Dalam beternak tikus putih tersebut, Sutama memberikan pakan berupa pakan babi, sayur kangkung, pepaya hingga nasi. Yang terpenting airnya tidak boleh habis. Sehingga tikus yang ia ternak 100 persen organik. Sementara untuk perawatan, ia mengaku gampang-gampang susah karena ia ingin membuat tikus yang ia ternak selalu bersih dan sehat. "Sehingga di sini kita rutin ganti sekam 3 sampai 4 hari sekali, karena kalau sampai ada kutu akan susah membersihkannya," tuturnya.

Dan untuk perkembangbiakannya, dari kawin hingga melahirkan total usia 4 bulan baik jenis red dan mencit. Biasanya jumlah anak yang dilahirkan tergantung dari cuaca. Apabila cuaca panas tikus induk bisa melahirkan 5 sampai 6 ekor anak, sedangkan jika musim hujan bisa melahirkan hingga 10 ekor anak. "Rata-rata bisa hidup semua, tapi bisa saja mati kalau induknya stress karena mereka binatang kanibal," tukasnya.

Dan dalam perawatannya ia harus ekstra hati-hati untuk melindungi tikus dari predatornya yakni ular dan kucing. Bahkan beberapa kali ular dan kucing pernah masuk ke kandang tikusnya miliknya. Pernah suatu kali ular jenis piton masuk ke kandang tikus miliknya dan memakan beberapa ekor tikus namun ular itu terjebak karena tak bisa keluar kandang lantaran badannya telah membesar usai memangsa tikus.

Sebelum pandemi Covid-19 omzet yang diraup mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 juta per bulannya. Setiap bulan rata-rata ada 40 hingga 50 ekor tikus yang terjual setiap harinya.

Sayangnya pandemi Covid-19 membuat permintaan akan tikus putih tersebut menurun. Penelitian mahasiswa yang biasa menggunakan tikus putih pun tidak bisa dilakukan karena pembelajaran dilakukan secara daring. Begitu juga dengan kebun binatang yang masih tutup sehingga pihaknya belum bisa menyuplai tikus. "Daya beli masyarakat melemah sehingga permintaan tikus putih menurun drastis hampir 80 persen, dapat Rp 20.000 saja sudah syukur," imbuh Sutama.

Sebab kata dia para penghobi reptil seperti ular, biawak, hingga burung hantu juga tidak setiap hari memberikan peliharaannya tikus. "Kalau ular diberi makan tikus seminggu dua kali, maklum ular juga tidak makan setiap hari, dan yang punya burung hantu diselingi ayam atau telur puyuh," jelasnya.

 

Sedangkan untuk kebun binatang saat ini beralih ke kepala ayam yang harganya lebih terjangkau yakni Rp 10 ribu per kilogram. "Kalau kampus-kampus sekarang belum bisa tatap muka, biasanya minta jenis red jantan karena staminanya lebih kuat. Kalau fakultas kedokteran hewan biasanya minta betina yang hamil, dan farmasi cari yang jantan untuk tes obat, tapi yang mencit juga diminati," tandasnya. Ia pun berharap pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga penjualan tikus putih bisa kembali normal. (dewa rastana/aim)

Editor : izak-Indra Zakaria