Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada sektor pariwisata. Salah satunya Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Beruang Madu yang terletak di Jalan Soekarno Hatta Km 23, Karang Joang, Balikpapan Utara.
Mulyana, Petugas Lingkungan Hidup KWPLH mengatakan, pandemi Covid-19 hingga saat ini masih belum berakhir, sehingga membuat sepinya pengunjung dan penurunan donasi di KWPLH. Ia menjelaskan, beruang madu hanya akan makan pada jam 09.00 dan 15.00 Wita. Oleh sebab itu, pengunjung hanya diperkenankan masuk ke area enklosur pada dua waktu itu saja.
"Untuk memanggil mereka (beruang madu) untuk makan, kita menggunakan lonceng saja. Mereka sebab tidak bisa bersamaan dan kita juga tak bisa terlalu dekat. Setiap harinya kami juga mengobservasi mereka dari pola makan, dan sisa makanan mereka," tuturnya.
"Beruang madu itu sifatnya pemalu, jadi pengunjung tidak boleh berisik selama berjalan di jembatan atau hutan, kalau panik mereka akan langsung pergi," kata Mulyana kepada Balikpapan Pos.
Saat ini, KWPLH Kota Balikpapan menjaga 6 ekor beruang madu, 2 betina bernama Anna dan Chan, dan 4 ekor jantan bernama Haris, Batik, Bedu, dan Pedru. Adapun total luas hutan yang dihuni 6 ekor beruang ini adalah 1,3 hektare.
Sebenarnya luas hutan ini kata Yana masih kurang untuk beruang madu karena menurut penelitian, beruang madu betina saja membutuhkan satu kawasan yang bisa dia kuasai sendiri seluas 500 hektare.
Ternyata, kata Yana, beruang madu cukup pintar untuk membersihkan dirinya sendiri. Sesudah bermain kotor di hutan, mereka akan menceburkan diri di sungai kecil yang berada di tengah hutan sehingga bulu mereka tetap tampak bersih.
Hewan endemic Asia yang tersebar dari Tibet, Cina, Bangladesh, sampai Indonesia ini hanya memakan buah-buahan citrus dan biji-bijian.
Umumnya, kata Mulyana, seekor beruang madu bisa hidup sampai 30 tahun dengan berat badan sampai 65 kilogram. Dalam keadaan yang baik, mereka bisa berkembang biak seumur hidup sampai 1-3 ekor anak.
Dia mengatakan, disini tidak ada tiket. Jadi sangat berdampak. Karena jika tidak buka, otomatis tidak ada donasi yang masuk. Ditanya mengenai donasi diperuntukan untuk apa, ia terangkan, donasi ini nanti yang dimanfatkan untuk belanja makan beruang madu serta beberapa keperluan lainnya.
Sementara itu, terkait biaya perawatan beruang madu, Mulyana mengaku nilai yang digelontorkan memang cukup besar. Oleh sebab itu, selain mengandalkan dana dari yayasan, pemerintah kota, kemitraan, dan donasi sukarela, ada pula dana dari souvenir yang dijual di KWPLH untuk para pengunjung. Biaya terbesar untuk perawatan beruang madu ini adalah untuk biaya makan per hari yaitu 40 kilogram buah per hari untuk dua kali makan, biaya madu dua kali dalam seminggu, dan biaya perawatan dari dokter hewan.
Menurut Mulyana, adanya pandemi Corona berdampak pada kosongnya tingkat kunjungan ke KWPLH. Tentu hal ini pun berpengaruh pada pemasukan atau donasi yang biasa diberikan oleh pengunjung. (bp-7/vie)
Editor : izak-Indra Zakaria