Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Makan Malam Tom Yam, Pemancing Dimonitor CCTV 24 Jam

izak-Indra Zakaria • 2021-03-25 10:44:55
TRIP SPESIAL: Para pemancing diabadikan di atas KM Sophia Agustina yang tengah memancing di perairan Selat Makassar, Kamis (18/3). Tampak monitor CCTV yang memantau pemancing. ADE IRAWAN/KP
TRIP SPESIAL: Para pemancing diabadikan di atas KM Sophia Agustina yang tengah memancing di perairan Selat Makassar, Kamis (18/3). Tampak monitor CCTV yang memantau pemancing. ADE IRAWAN/KP

Kapal dengan fasilitas lengkap adalah idaman bagi para pemancing. Kesempatan itu yang tak disia-siakan oleh jurnalis Kaltim Post, Romdani. Selama tiga hari dua malam mengarungi lautan Selat Makassar.

 

TELEPON genggam saya berdering, Senin (15/3) malam. Panggilan seluler itu datang dari Fuat Riyanto. Dia adalah owner atau pemilik dari sebuah kapal mewah di Manggar, Balikpapan. Kapalnya dia beri nama KM Sophia Agustina. Nama itu merupakan pemberian spesial dari istrinya.

Malam itu, pria yang akrab disapa Anto tersebut memberi kabar mendadak. Dia mengajak saya menikmati kapalnya mengarungi lautan sambil memancing. “Sorry Mas, mendadak ngabari. Besok (Selasa, 16/3) mudahan bisa ikut,” ajaknya di ujung telepon.

Sebenarnya mancing dengan Anto sudah direncanakan jauh-jauh hari. Bahkan, saya pernah menolak ajakan karena memang kesibukan di kantor. Awalnya direncanakan mancing pada 1–4 Maret. Dia pun sudah mengurus cuti dari perusahaannya. Tapi sayang, karena sebuah pekerjaan, cutinya dibatalkan. Rencana mancing pun ditunda.

Hingga akhirnya pada Selasa (16/3) malam kami pun berlayar. Sebelum berlayar, Agus Lenggar, sang kapten kapal mengecek manifest. Tepat pukul 23.30 Wita, kapal start dari dermaganya di kawasan Manggar. Menuju spot di perairan Selat Makassar. Lebih tepatnya tak jauh dari Rig Bekapai yang secara administrasi masuk Kutai Kartanegara (Kukar). Lapangan minyak dan gas yang dioperasikan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Kapal yang memiliki panjang sekitar 17 meter dengan lebar 4,5 meter itu melaju dengan kecepatan rata-rata 10 knot. Kapal ditenagai mesin dengan enam silinder dan mesin pembantu TF 300.

Tak hanya besar, untuk ukuran kapal pemancing, bisa dibilang KM Sophia Agustina sangat megah. Kamarnya dilengkapi kasur tunggal sebanyak 12 unit. Sesuai dengan kapasitas maksimal pemancing.

Kamar dengan luas sekitar 6 x 2,5 meter itu juga dilengkapi air conditioner (AC) 1 PK. Menambah nyenyak tidur para pemancing. Selain itu, pemancing tak khawatir kehabisan energi gawainya. Setiap masing-masing tempat tidur disediakan stop kontak. Listrik mengalir selama 24 jam. Karena kapal dilengkapi dua generator set.

Untuk urusan kamar mandi, kapal yang sudah beroperasi sejak Agustus 2020 itu dilengkapi dua tempat. Air bersih siap mengucur deras dari shower. Para pemancing juga tak perlu khawatir kehabisan air, karena kapal mengangkut air bersih dengan kapasitas 3.000 liter. “Cukup untuk keperluan mandi, masak, dan lainnya selama trip (tiga hari dua malam),” kata Anto.

Sedangkan dapur kapal memiliki luas sekitar 4x3 meter. Dapur selain kompor, juga dilengkapi fasilitas kulkas, televisi, dan meja bar. Tak ketinggalan, karena dapur adalah muster point, maka di tempat itu juga dilengkapi alat pemadam api ringan (APAR).

Untuk sisi keamanan, kapal juga dilengkapi empat titik closed-circuit television (CCTV). Keberadaan kamera itu untuk memantau para pemancing dan mesin kapal. “Bila ada terjadi insiden, misalkan pemancing jatuh. Bisa diketahui dari CCTV. Karena CCTV juga merekam,” bebernya.

Dikatakan, kapal juga dilengkapi radio marine, telepon satelit, dan yang paling penting lagi adalah fish finder. Alat itu untuk melacak keberadaan ikan dan tekstur karang di dasar laut.

Trip mancing itu diikuti 12 orang. Terdiri dari anak buah kapal (ABK) 2 orang, 1 nakhoda, dan 1 koki. Sisanya adalah pemancing termasuk Anto.

Berhubung kapal berangkat tengah malam, hawa kantuk pun tak terhindarkan. Saya bersama sejumlah pemancing lain masuk ke kamar. Sementara beberapa memilih tetap ngobrol di meja bar di dapur.

Angin yang bertiup kencang malam itu membuat suhu di luar cukup dingin. Ditambah kamar yang dilengkapi AC, tempat tidur pun terasa adem. Tak terasa saya terlelap nyenyak. Bangun dari tidur, tiba-tiba sudah pukul 06.00 Wita. Rig Bekapai terlihat dari balik kaca jendela, tanda spot yang dituju sudah dekat. “Sekitar 30 menit lagi kapal sampai spot,” kata Agus, ABK.

Saya bersama pemancing lainnya pun mempersiapkan pancingan. Sementara di dapur, koki sudah mulai masak untuk keperluan sarapan. Mancing pada hari perdana itu dibuka dengan sarapan nasi pecel. “Perut lapar, santapannya pas,” kata Egi Kamaludin, pemancing.

Egi termasuk yang punya ide untuk menu sarapan pagi itu. Dia pula yang menyediakan beberapa bahan makanan. “Ini kan bisa dibilang trip keluarga, jadi saya diminta sama juragan (Anto) untuk siapkan makanan,” aku pemilik sebuah konfeksi di Balikpapan itu.

Dia menyebut, mancing ini jangan sampai para pemancing atau awak kapal kelaparan. Sehingga mereka perlu dimanjakan. Para pemancing juga bisa memesan menu ke koki, bila makanan yang disajikan tak sesuai selera.

Setelah sarapan, para pemancing punya cukup tenaga. Mereka langsung menurunkan joran yang sudah dilengkapi metal jig dan kail. Pagi itu, kami drifting dengan teknik jigging. Teknik jigging adalah teknik memancing dengan menjatuhkan lure/metal jig hingga ke dasar laut, dan mulai mengayun-ayunkan joran diimbangi dengan retrieving.

Teknik ini juga bisa dengan menurunkan metal jig tidak sampai dasar laut. Kemudian reel digulung, sehingga metal jig yang bergerak bisa menarik perhatian ikan permukaan atau ikan pelagis.

Metal jig diketahui terbuat dari timah yang dicat atau diberi pewarna. Juga fosfor agar menyala dalam gelap di kedalaman. Sehingga mampu menarik perhatian ikan. Di metal jig juga dipasang pancing atau sering disebut assist hook dan treble hook. Keberadaan pancing itu agar ketika ikan menyambar metal jig, bisa langsung terkait.

Pagi itu, sejumlah pemancing strike dengan teknik jigging. Ikan berhasil ditarik dari laut. Umumnya mancing pagi atau siang, target pemancing adalah ikan-ikan dasaran. Seperti giant trevally, ruby snapper, dan kerisi. Pagi itu di spot pertama, seperti jadi ajang gantian strike mendapat ikan. Saya juga tak ketinggalan mendapatkan ikan kerisi.

Tak terasa, waktu sudah siang. Perut pun kembali lapar. Sementara di dapur, koki sudah menyiapkan makanan. Siang itu, kami makan nasi liwet khas Sunda. Karena kebetulan yang masak adalah Egi, yang orang Sunda.

Perut kenyang, para pemancing pun melanjutkan mancing. Di antaranya ada yang memilih istirahat untuk mengumpulkan tenaga. Umumnya ikan mulai lapar pada sore menjelang senja hingga malam hari. Kemudian lanjut jelang fajar hingga pagi.

Adapun makan malam saat itu, koki yang dipandu Egi memasak tom yam. Tom yam merupakan sup yang berasal dari Thailand. Sup ini biasanya dibuat dari udang, ayam, ikan, atau makanan laut yang dicampur, dan jamur. Malam itu, tom yam yang dimasak oleh koki dan Egi mengombinasikan semuanya.

“Ada rasa-rasa jahenya. Biar perut hangat saat mancing malam,” sebutnya. Usai makan, mancing malam itu terasa “hangat”. Karena kuah tom yam yang panas menghangatkan perut. “Ditambah ada kandungan jahenya. Nikmat sekali,” beber Ade Irawan, pemancing. “Menarik ikan pun seperti lebih ringan he-he-he,” kelakarnya. (rom/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature #hobi