Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Virus ASF Serang Ternak Babi

uki-Berau Post • Rabu, 26 Mei 2021 - 03:08 WIB
CEK TERNAK WARGA: Pertanian dan Peternakan Berau, mengecek ternak babi di Kampung Maluang dan Paribau yang terserang virus African Swine Fever (ASF), beberapa waktu lalu.
CEK TERNAK WARGA: Pertanian dan Peternakan Berau, mengecek ternak babi di Kampung Maluang dan Paribau yang terserang virus African Swine Fever (ASF), beberapa waktu lalu.

TANJUNG REDEB – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, memastikan puluhan ekor ternak babi di Kampung Maluang dan Paribau, Kecamatan Gunung Tabur, positif terserang virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika. Virus ini menyebabkan kematian secara massal sejak 10 Mei 2021.

Kepala Distanak Berau, Mustakim Suharjana mengatakan, diagnosa tersebut didapat setelah pihaknya melakukan uji sampel darah dan organ dari babi yang mati tersebut. Uji sampel dilakukan oleh oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Timur dan Balai Veteriner Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menurutnya, pengujian ini bisa dipastikan 100 persen benar karena menggunakan metode PCR bukan Serologis.

“Dari catatan Distanak, terhitung total ada 78 ekor babi yang mati dari jumlah populasi 680 ekor,” jelasnya, Senin (24/5).

Ia mengatakan, ini merupakan kasus pertama yang terjadi di Berau. Sebelumnya kasus ini pernah terjadi di Sumatera Utara beberapa waktu lalu. “Dugaan awal Hoac Cholera, ternyata bukan,” katanya.

Ia melanjutkan, untuk menghentikan penularan, pihaknya mengambil langka Stamping Out atau mengeliminasi keseluruhan ternak warga tersebut. Jika tetap disatukan, dikhawatirkan, penularan akan semakin masif.

"Karena ini kebanyakan milik pribadi, perlu ada negosiasi terlebih dulu dengan masyarakat. Tapi dalam perkembangannya saat minggu lalu kita periksa masih ada beberapa yang hidup," katanya.

Lebih lanjut, langkah-langkah dari dinas itu melakukan desinfeksi dan itu juga sudah dilakukan. “Kandang-kandang sudah disemprot agar tidak menyebar ke populasi babi yang lain. Penyakit ini menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi peternak babi. Karena kematian cukup besar. Kerugian warga mencapai puluhan juta,” jelasnya.    

Ia mengatakan, diduga penyebab ternak tersebut terpapar virus karena sistem sanitasi yang kurang baik. Sehingga menyebabkan bakteri berkembang biak dan menulari ternak tersebut.

Namun, Mustakim memastikan, bahwa virus tersebut tidak dapat menular ke manusia. Namun, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Mustakim meminta warga jika hendak ke kandang agar menggunakan masker, sarung tangan dan sepatu bot.

Sebelumnya, sebanyak 62 ekor babi dari peternak di Kampung Paribau dan Maluang mati secara massal. Hal ini membuat Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim melakukan pengecekan langsung ke lapangan untuk mengetahui apa penyebab kematian tersebut.

Menurut Sekretaris Kampung Maluang, Agus, penuturan dari pemilik ternak di RT 5. Babi mereka tidak mau makan, dan setelah beberapa hari, ditemukan puluhan ekor babi sudah mati. Pihaknya mengaku langsung melaporkan kejadian tersebut ke Distanak Berau.

Agus juga mengimbau kepada warga sekitar untuk tetap menjaga kebersihan. Dia mengingatkan jika hendak ke kandang babi tersebut, agar menggunakan sarung tangan dan masker. Agus menegaskan anak-anak sebaiknya jangan dahulu bermain di sekitar lokasi. “Ini untuk jangka pendeknya, karena masih menunggu hasil, apa penyebab kematian dari babi tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteniter (Kabid Keswan dan Kesmavet), I Putu Setion mengatakan, setelah mendapatkan laporan pihaknya langsung melakukan pengecekan, data terbaru sebanyak 62 ekor babi mati di empat RT yang berada di Maluang dan Paribau.

“Di sana ada 647 populasi di Kampung Maluang dan Paribau,” bebernya.

Lebih lanjut, awalnya laporan masuk pada tanggal 10 Mei 2021 lalu, kemudian dari Distanak mengirimkan dokter hewan ke lokasi. Oleh dokter diberikan obati, namun ternaknya sudah loyo.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim, Siti Saniatun Saadah yang juga merupakan dokter hewan menjelaskan Hog Cholera juga disebut sebagai demam babi yang cukup serius dan fatal.

“Dugaan ini baru pertama kami di Kaltim. Kami sangat fokus untuk menangani ini. Kalau dari sisi ekonomi jika kematian semakin banyak, peternak bisa sangat rugi,” ungkapnya.

Sementara ini antisipasi yang diperingatkan kepada peternak berupa untuk segera membersihkan diri setelah menangani ternak babi, dan jangan mencampur ternak yang sakit. (hmd/har)

Editor : uki-Berau Post
#Seputar Berau