Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Werkudara dan Janaka Mengantar Pak Manteb…

izak-Indra Zakaria • 2021-07-04 13:56:07
Ki Manteb Soedharsono
Ki Manteb Soedharsono

TENGAH malam telah cukup lama lewat. Sujiwo Tejo pun berpamitan kepada sang tuan rumah, Ki Manteb Soedharsono. Mendadak, sebuah amplop ditempelkan dalang kondang tersebut ke tangan tamunya. ”Tebel. Taksiranku Rp 3 juta–Rp 5 jutaan,” kenang Sujiwo Tejo tentang peristiwa pada suatu dini hari pada periode 1990-an itu.

Saat itu dia bertamu ke kediaman Ki Manteb di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. ”Mungkin tampangku, walau sangar, tampang lelaki bokek. Aku tolak halus banget karena malam itu kebetulan aku lagi punya duit dan kumohon beliau alihkan itu buat anak-anak yatim dan lain-lain yang butuh,” tutur Sujiwo Tejo yang juga seorang dalang kepada Jawa Pos kemarin (2/7).

Kenangan itu dia bagi untuk mengenang dalang yang berpulang kemarin dan dikenal dengan sabetan mautnya saat memainkan wayang tersebut. ”Beliau itu suka ngasih-ngasih. Ya ilmu, ya materi,” ungkap seniman serbabisa tersebut.

Ki Manteb Soedharsono mengembuskan napas terakhir karena terserang Covid-19 kemarin. Pemakaman ”Dalang Setan”, begitu para penggemarnya menjulukinya, di Dusun Sekiteran, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Karanganyar, pun dilakukan dengan protokol kesehatan.

Lantunan tembang Ketawang Layu-Layu serta dua tokoh Pandawa Lima, Werkudara dan Janaka, mengiringi keberangkatan jenazah ke tempat pemakaman umum. Berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah almarhum.

Salah seorang putra Ki Manteb Soedarsono, Danang Soesilo, menjelaskan bahwa dua tokoh wayang itu sengaja dibawa untuk mengantar almarhum lantaran ini merupakan sebuah wasiat. Kepada anak angkatnya, Bagas Anggoro, almarhum meminta agar membawa wayang Werkudara dan Janaka saat meninggal.

”Itu wayangnya pemberian dari dalang teman bapak (Ki Manteb Soedharsono). Setiap memainkan lakon yang berkaitan dengan Werkudara, bapak selalu membawa wayang itu. Katanya, kalau tidak memakai Werkudara itu seperti tidak bisa memainkan sanggit (cerita, Red) dalam pergelaran wayang yang ditampilkan bapak,” terang Danang.

Medhot Soedharsono, anak pertama Ki Manteb yang juga seorang dalang kondang asal Sragen, mengungkapkan bahwa sang ayah menyiapkan liang lahad sewaktu istri kelimanya meninggal pada 2005. Liang tersebut berada di sebelah makam sang istri. ”Bapak sebelumnya memang berpesan kepada anak-anak agar dimakamkan di liang yang sudah disiapkan beliau kalau nanti kalau sudah meninggal dunia,” ujar Medhot.

Mengenai riwayat sakit Ki Manteb, Medhot menyatakan, sejak akhir pekan lalu, setelah pulang dari pentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, almarhum sempat mengeluh sakit demam. Setelah sehari istirahat, meski sedang tidak enak badan, Ki Manteb masih nekat kembali pentas secara virtual di pendapa rumah. Diduga, lantaran kelelahan, setelah pentas wayang virtual itu, kondisinya drop.

Keluarga yang mengetahui kondisi tersebut kemudian mencoba mencari sejumlah rumah sakit di Solo dan Karanganyar. Namun, karena kasus Covid-19 semakin tinggi, keluarga memilih merawat Ki Manteb di rumah dengan mendatangkan sejumlah dokter dan perawat medis.

”Kami berkomunikasi dengan Pak Untung Wiyono, mantan bupati Sragen. Beliau (Ki Manteb) kemudian disarankan untuk swab pada Kamis (1/7). Dari hasil swab antigen itu, bapak diketahui reaktif dengan ibu, terus kemudian isolasi mandiri,” kata Medhot.

Kemarin sekitar pukul 02.00, kondisinya semakin kritis. Saat itu almarhum sudah mulai sesak napas. ”Pagi tadi (kemarin pagi) sebenarnya sudah mau dibawa ke Rumah Sakit Jati Husada atau JIH Solo Baru. Menurut informasi, sudah disiapkan tempat untuk bapak. Tapi, setelah persiapan itu, sekitar pukul 09.00, bapak sudah tidak ada,” jelas Medhot.

Kepergian Ki Manteb membuat sejumlah kolega dekatnya merasa sangat kehilangan. Sekretaris Paguyuban Dalang Surakarta (Padhasuka) Sugeng Nugroho menyatakan bahwa Ki Manteb Soedharsono merupakan satu-satunya dalang yang sangat loyal terhadap dunia pedalangan. Dia juga sangat terbuka untuk menerima pertanyaan, masukan, kritik, dan saran dari siapa pun dengan baik. Jadi, menurut Sugeng, Ki Manteb benar-benar seorang tokoh yang pantas diteladani.

”Saya itu lebih banyak di balik layar. Saya cenderung sebagai penerjemah ide-idenya jika bersama beliau. Termasuk menulis bareng,” ungkapnya.

Ada satu tulisan, lanjut Sugeng, di dalam satu buku yang berjudul Ki Manteb Soedharsono: Pemikiran dan Karya Pedalangannya. ”Ini buah tangan Ki Manteb, almarhum Bambang Murtiyoso, dan saya. Terbitnya pada 2016,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Sugeng masih ingat banyak pesan dari Ki Manteb yang disampaikan kepadanya. Dia dan Ki Manteb sering bercerita tentang pemikiran dan ide-ide soal dunia pedalangan. ”Ada hal terakhir yang sampai sekarang belum terlaksana. Yakni, ingin menerbitkan buku Sulukan Gaya Dalang Kerakyatan. Ke depan, ada rencana untuk menerbitkan itu jika suasana sudah memungkinkan,” ujarnya.

Sugeng juga merasa kecewa karena jarang foto berdua dengan Ki Manteb. Mungkin saking sangat dekatnya mereka. Dia kali terakhir bertemu belum lama ketika melayat Prof Dr Sri Hastanto. Sugeng kemarin juga sempat datang ke kediaman Ki Manteb. Namun, jarak sekitar 300 meter sudah ditutup. Sugeng pun tidak bisa masuk ke kediaman Ki Manteb. ”Beliau itu bukan hanya tokoh nasional, tapi sudah mendunia. Tapi, begitu beliau wafat, tidak ada pelayat karena kondisinya seperti ini (kasus Covid-19),” tuturnya.

Maestro keroncong Indonesia Waldjinah juga merasa terkejut atas kepergian Ki Manteb Soedharsono. Perasaan sedih atas kabar duka itu pun bercampur aduk saat kenangan-kenangan tersebut kembali dalam ingatannya.

”Dedonga dumateng Gusti Allah ingkang akarya jagad awit sedanipun (Berdoa kepada Tuhan Semesta Alam atas semua yang terjadi) Pak Manteb. Saya kaget dan sedih sekali mendengar Pak Manteb meninggal dunia pada hari ini (kemarin),” kata legenda keroncong yang mendunia tersebut.

Di mata Waldjinah, Ki Manteb Soedharsono merupakan dalang yang begitu baik, ramah, humoris, dan selalu menghormati sesama seniman. Baik itu seniman dari pewayangan maupun dari aluran kesenian lainnya. (rud/nis/c14/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria