Penantian
Akhirnya kita sampai
pada petang paling sunyi
yang menyulap kebun bunga
dengan warna-warna merah jambu
Sepasang capung terjebak
mabuk barangkali
atau merasa begitu getar
dengan aroma mawar-mawar
yang semerbak melayang di udara
Waktu jadi satuan musim
yang teramat rahasia
pada kedalaman tak terukur
engkau mengubur berita kedatangan
kepergian
dan rencana-rencana kepulangan
Parasmu semakin kabut
dan aku seperti pucuk daun
yang dibasahi bulir-bulir embun
yang menetes lalu hilang
yang berbisik
pada matahari pagi; agar bergegas membagi terang
biar aku riang
membulatkan mata
juga menopang dagu dengan dua telapak tangan
bagi mendengar cerita tentang naga
yang konon bisa mendarat tanpa sayap
Udara
Aku udara
yang kau kecup lalu hilang
dan dari tunas kata
kau menjelma taman bunga
rimbun di dadaku
menyiram ladang kering di hati
mengusap resah yang menetes di pipi
Kau kah itu?
yang kupanggil di antara rinai hujan larik-larik
gigil didera musim
membekukan ruang dan waktu
menuntun kakimu pada sebuah jalan pulang; ke arahku
Aku udara
yang kau temukan di sela segala
cuaca dan malam
merasuk ke dalam puisimu yang dingin
merenda segala ingin
menyisakan puing-puing
dari bangunan sajak yang runtuh
kau pun berbaring
sementara bulan lelap di hatimu
yang berdinding sunyi dan tak utuh
Kau kah itu?
yang menunggu hujan reda
sambil menjahit bait-bait
menjadi selimut kata
dan untuk pertama kali
aku tergugah
saat kau mengucapkan apa saja.
JAMIAH, mahasiswa asal Penajam Paser Utara, Kaltim. Sedang menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman, Samarinda.
Editor : izak-Indra Zakaria