Keberadaan taman di suatu daerah menjadi tolok ukur kemajuan kota. Apalagi jika dalam pra-desain awal, dilakukan penelitian yang terukur dan mendalam, serta mengedepankan ciri khas suatu daerah, ditambah pemenuhan fasilitas penunjang yang tidak berlebihan. Dengan demikian, fungsi sebagai ruang terbuka hijau lebih maksimal, dan membangun wajah kota kian modern dan maju.
SAMARINDA–Terhadap pembangunan taman di Samarinda, Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Kaltim Wahyullah Bandung menjelaskan, taman merupakan bagian dari arsitektur kota. Mengerucut ke Kota Tepian, dianugerahi Sungai Mahakam sebagai kekayaan yang patut dijaga.
“Itu merupakan keunggulan Samarinda yang perlu digali. RTH di tepian Sungai Mahakam harus ditingkatkan,” ucapnya.
Menanggapi taman di Jalan Slamet Riyadi yang sempat tutup, Wahyullah melihat indikasi bahwa memang ada yang belum siap, sehingga penting sejak awal pembangunan persiapan dilakukan lebih baik. Membeludaknya masyarakat yang berkunjung, menandakan masyarakat perlu lebih banyak RTH, selanjutnya peran pemerintah harus menyambut dengan mendata lokasi-lokasi potensial yang bisa diubah menjadi RTH yang layak. “Kota modern itu banyak taman dan ruang yang banyak bagi pejalan kaki. Menggalakkan pembangunan taman yang hijau itu merupakan bagian dari membangun kota yang berperadaban,” ucapnya.
Namun, dari sisi arsitektur, Wahyullah mengingatkan, komponen utama RTH yakni pohon, rumput, tempat duduk bagi warga yang menikmati suasana atau lansia untuk beristirahat, dan jalur pedestrian. Selain itu, perlu dilengkapi fasilitas yang ramah bagi para penyandang disabilitas, agar bisa nyaman dalam memanfaatkan fasilitas yang ada. “Paling penting jangan over-desain, atau menambahkan bangunan-bangunan yang malah justru mengaburkan ikon utama yang ditonjolkan,” ucapnya.
Dia mencontohkan taman di luar negeri, justru pembangunan RTH dibuat semakin hijau rindang, menyesuaikan kondisi cuaca. Misalnya untuk kota atau negara yang tidak terlalu panas, taman dibuat lebih terbuka. “Contohnya di Singapura, tamannya lebih banyak dipenuhi pohon dan aneka bunga berwarna-warni. Bukan malah bangunan,” ucapnya.
Dia mengapresiasi niat pemerintah semakin mempercantik RTH yang ada, namun perlu diperhatikan dari sisi perencanaan. “Itu pendapat kami dari sisi perencana arsitektur yang sering membangun taman kota,” jelasnya.
Sebelumnya, sejak awal September, pemkot melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membuka operasional taman di Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Sungai Kunjang. Namun, taman yang rampung hanya 87 persen dari kegiatan fisik pada 2020 itu menuai sejumlah masalah, dari minimnya fasilitas seperti kursi dan kamar mandi, hingga tempat sampah. Belum lagi saat malam hari, taman yang dilengkapi beberapa bangunan berbentuk buah itu gelap gulita. Ditambah pengelola parkir yang diambil alih juru parkir (jukir) liar, serta jalur parkir yang tidak ideal, menciptakan kemacetan baru, menambah kompleks persoalan sosial bahkan hukum di sana. (dns/dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria