Situs Gunung Selendang menyimpan sejarah ratusan tahun dalam kuburan tajau. Dari tempat ini, semangat mempelajari sejarah dan budaya di Kaltim coba dipantik.
NOFIYATUL CHALIMAH, Sangasanga, Kukar
LETAKNYA bersebelahan dengan Jembatan Sangasanga, Kukar. Dekat dengan ingar-bingar geliat masyarakat di kecamatan ini. Pada 2009, 52 kuburan tajau ditemukan di Sangasanga. Di dalamnya berisi tulang belulang manusia. Sebagian tajau di sini diidentifikasi sebagai tajau jenis martavan yang banyak diproduksi di Tiongkok selatan pada 17–18 Masehi. Dari hasil penelitian, penguburan di kawasan ini dilakukan pada awal abad 18 atau sekitar tahun 1710–1750.
Gunung Selendang diketahui tergolong situs penguburan dari hasil temuan penggalian (ekskavasi) berupa kubur tempayan (tajau) yang di dalamnya berisi tulang belulang manusia. Mulai bagian tungkai, fragmen pinggul, fragmen rahang, gigi, fragmen tengkorak, dan fragmen tulang berukuran kecil yang sulit dikenali. Secara umum, bentuk tajau di situs ini terdiri dari dua kelompok. Yaitu kelompok tajau berbadan ramping dengan bibir bergelombang berdiameter 23,5 cm.
Kemudian kelompok tajau berbadan tambun dengan bibir polos tanpa hiasan berdiameter 22 cm. Tim ekskavasi Balai Arkeologi Banjarmasin pada 2010 melakukan pengamatan terhadap fragmen tajau yang ada. Dapat diketahui jika semua jenis tajau yang digunakan sebagai wadah kubur terbuat dari bahan stoneware. Secara teknis, tajau-tajau ini dibuat dengan teknologi pembuatan keramik yang cukup maju, meskipun belum semaju seperti pada proses pembuatan sebuah porselen. Jenis tajau berbadan ramping di situs Sangasanga sangat mirip dengan tajau jenis martavan yang terdapat di Buku “Tempayan Martavan”, yang tingginya sekitar 80 cm, dan mempunyai gambar naga dengan motif awan dan bunga.
Martavan salah satu pelabuhan di Burma, Myanmar, yang menjadi tempat pengiriman produk keramik jenis tempayan/guci, sehingga tempayan yang dikirim melalui pelabuhan tersebut dikenal dengan sebutan martavan. Tajau seperti ini banyak diproduksi pada abad 17–18 Masehi di daerah Tiongkok selatan. Tajau jenis ini banyak ditemukan di Kalimantan Timur dan digunakan sebagai wadah kubur.
Satu dekade kemudian, atau pada 2019, Gunung Selendang telah diresmikan menjadi situs budaya. Sebab, adanya kuburan ini membuktikan bahwa ada peradaban ratusan tahun lalu di tepi Sungai Mahakam itu. Hal ini pun bisa menjadi bekal pembelajaran soal budaya dan sejarah di Kaltim.
Tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kaltim pun berusaha mengenalkan terus soal situs ini. Mereka melakukan nonton bareng film dokumenter soal budaya Kaltim dan film nasional di halaman situs ini pada 31 November hingga 3 Desember 2021.
"Sebenarnya nobar (nonton bareng) di sini dalam rangka Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) dan juga untuk memulai rangkaian memperingati Merah Putih Sangasanga Januari nanti," jelas Edy Gunawan yang bertugas jadi Koordinator Pelaksana Nobar PKN di Kaltim. Dia mengatakan, Gunung Selendang menjadi titik akhir setelah enam lokasi nobar di Kukar dan Samarinda. Dengan menggelar nobar di sini, masyarakat tak hanya bisa menonton film, tetapi bisa tak sungkan melihat apa yang ada di situs Gunung Selendang. Momen ini juga salah satu alternatif pengenalan budaya lewat film. Pasalnya, Kaltim jadi satu dari 10 titik yang ditunjuk untuk pembuatan film. Dan film soal Kaltim juga diputar di berbagai tempat di Indonesia. "Mulai dari keindahan Kaltim sampai budaya termasuk tato yang juga bagian dari Kaltim," sambungnya.
Dia melanjutkan, Sangasanga menjadi daerah yang kaya akan sejarah. Mulai kebudayaan masyarakat lokal hingga sejarah zaman kolonial. Hal ini pun bisa menjadi upaya paling mudah untuk mempelajari sejarah lokal.
Kepala BPCB Kaltim Muslimin AR Effendy mengatakan, pihaknya selain berupaya melestarikan cagar budaya, juga berupaya mengenalkan cagar budaya kepada para pelajar. Dengan begitu, pelestarian juga bisa berkembang.
“Supaya mereka mengenal lagi sejarah yang ada di sekitar mereka,” kata Muslimin.
Apalagi, sejarah adalah sesuatu yang dinamis dan berkembang seiring dengan penemuan-penemuan dan penelitian baru. Juga, mempelajari sejarah adalah hal yang cukup penting. Sebab sejarah membantu memahami masyarakat. Identitas diri, masyarakat, dan bangsa juga bisa dilihat dari sejarahnya. (riz/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria